30 November 2022

Konferkot DPK API Kartini Yogyakarta

0Shares

“Menapaki peringatan 20 tahun reformasi, gerakan perempuan belum mampu menghasilkan kepemimpinan perempuan baik dalam bidang ekonom, politik maupun sosial budaya. Tokoh-tokoh perempuan yang naik ke pentas nasional masih dapat dihitung dengan jari.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Anjany Podangsa, Ketua DPK API Kartini Yogyakarta yang terpilih dalam Konferensi Kota, 21 April 2018.

Selanjutnya Anjany menjelaskan, “Secara umum gerakan perempuan belum menemukan momentum kebangkitannya. Minimnya tokoh-tokoh perempuan terutama yang peduli pada persoalan-persoalan perempuan mengakibatkan kurangnya kebijakan yang mengakomodir akses perempuan dalam hal ekonomi, sosial maupun politik.”

Pembahasan mengenai rancangan undang-undang yang bertujuan untuk melindungi perempuan menjadi bias gender. Pandangan-pandangan seksisme sebagai turunan dari ideologi patriarkhi masih mewarnai rancangan undang-undang tersebut

Kemunculan sosok-sosok perempuan dalam berbagai panggung nasional menjadi kebutuhan untuk menuntaskan persoalan-persoalan kaum perempuan. Kaum perempuan terutama kaum muda perempuan diharapkan turut aktif berpartisipasi.

“Namun dalam survei yang dilakukan oleh Ella Prihastini, peneliti dari University of Western Australia, kepada mahasiswa universitas di Indonesia di 23 provinsi, misalnya, menunjukkan bahwa partisipasi politik pemilih muda termasuk perempuan dalam pemilu 2014 justru merosot dibandingkan dua pemilu sebelumnya,” jelas Anjany.

Lebih dari separuh pemilih usia 17 hingga 29 tahun juga tidak memberikan hak politiknya pada pemilu legislatif 2014. Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan mengingat kebutuhan pemenuhan hak-hak perempuan di tahun-tahun politik yang akan datang.

Hazano Rhuvha, Sekretaris terpilih dalam Konferkot menambahi, “Provinsi DIY memiliki populasi perempuan yang jumlahnya hampir berimbang dengan laki-laki. Tersebar dalam 4 kabupaten yaitu Gunungkidul, Sleman, Bantul, Kulonprogo dan 1 kotamadya, Yogyakarta.”

Sebagai gambaran partisipasi politik perempuan di DIY dapat dilihat dari wakil perempuan di DPRD yang notabene merepresentasikan suara perempuan, dari 55 orang caleg terpilih dalam pemilu 2014, hanya terdapat enam orang caleg perempuan. Keterwakilan perempuan mengalami penurunan dibanding pemilu sebelumnya.

Keterwakilan perempuan dalam parlemen sangat penting untuk direfleksikan dan diimplementasikan untuk pengambilan keputusan publik karena akan berimplikasi pada kualitas legislasi yang dihasilkan oleh lembaga negara,” tegasnya.

“Demi menjawab kebutuhan peningkatan partisipasi politik perempuan tersebut, API Kartini yang berkedudukan pusat di Jakarta terus berupaya mengembangkan struktur di propinsi-propinsi di seluruh Indonesia. Sehingga pada 21 April 2018 yang lalu, API Kartini melakukan pembangunan struktur di Provinsi DIY yang dimulai dari kota Yogyakarta,” jelasnya.

Sekitar 20 orang perempuan berkumpul untuk menyelenggarakan konferensi kota. Dalam konferensi ini dilakukan pemilihan pengurus DPK API Kartini Yogyakarta. Terpilih 3 orang pengurus yaitu Anjany Podansa sebagai ketua, Hazano Rhuvha sebagai sekretaris dan Sunjanita sebagai bendahara. Selanjutnya 3 pengurus terpilih ini akan mulai bekerja untuk mengembangkan organisasi.

Pada Konferkot ini, DPK API Kartini bertekad untuk melaksanakan keputusan kongres I API Kartini untuk memajukan kaum perempuan di bidang ekonomi dan politik. Beberapa program kerja yang tersusun kemudian, diantaranya adalah pendidikan dan usaha mandiri perempuan. Dalam konferensi ini setiap peserta anggota juga mengisi formulir yang berisi harapan dan tujuan bersama organisasi API Kartini.

Semoga api semangat tetap menyala dan makin berkobar hingga slogan menangkan Pancasila berkumandang di seantero negri ini. Hidup Perempuan!***

 

 

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai