4 Desember 2022

Buruh Gendong dalam Perspektif Feminis

Kredit Foto: dokumentasi pribadi

Buruh gendong perempuan memberi gambaran posisi perempuan dalam sistem patriarki sebagai kelompok masyarakat rentan yang terpinggirkan.
0Shares

Pasar adalah suatu pengaturan di mana dua pihak atau lebih terlibat dalam pertukaran barang, layanan, dan informasi. Idealnya adalah tempat pembelian dan penjualan. Pasar juga merupakan salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur di mana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Diantara penjual dan pembeli terdapat kuli angkut atau buruh gendong. Buruh gendong terutama banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional. Di Yogyakarta, buruh gendong dapat dijumpai di Pasar Beringharjo, Giwangan, Kranggan dan Gamping.

Mayoritas buruh gendong adalah perempuan. Sosok buruh gendong perempuan mewakili perempuan bekerja di ruang publik. Keluar dari ranah domestik dan memiliki penghasilan untuk menopang perekonomian keluarga. Acapkali bahkan sebagai penyangga utama kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan berbagai latar belakang yang dan menempatkan seorang buruh gendong bekerja memenuhi konsumsi diri dan keluarganya. Hampir sama seperti perempuan lainnya yang memilih untuk bekerja baik itu di perkantoran, pertokoan, pabrik atau pekerja rumah tangga. Hanya berbeda penampilan, ruang kerja, jenis pekerjaan dan upah.

Buruh gendong perempuan memenuhi kriteria sebagai perempuan yang berdaulat secara ekonomi. Saat ini terdapat sekitar 425 buruh gendong yang berasal dari desa-desa di Magelang, Purworejo, Boyolali, Klaten dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Sedangkan dari Yogyakarta berasal dari Kulonprogo, Bantul, Sleman, Gunungkidul dan sedikit dari kota. Banyak dari mereka yang bekerja dari usia muda, saat belum menikah hingga kini. Rata-rata usia buruh gendong antara 40 hingga 60 tahun dan sudah bekerja sebagai buruh gendong selama bertahun-tahun bahkan hingga 30 tahun. Sebuah pengabdian dan kesetiaan pada profesi. Jika bekerja di sebuah perusahaan mungkin akan mendapat penghargaan berupa uang atau kenaikan pangkat. Namun dalam profesi buruh gendong, tidak ada istilah insentif atau kenaikan pangkat.

Bekerja di ranah publik tidak lantas membuat perempuan terbebas dari kerja domestik. Demikian pula dengan buruh gendong perempuan. Bagi buruh gendong perempuan yang sudah bekerja sejak sebelum menikah, setelah menikah masih tetap terikat dengan kerja domestik. Beban ganda perempuan sebagai hal yang menjadi lumrah dalam masyarakat patriarkis. Terlebih kebanyakan buruh gendong perempuan berasal dari desa, tidak mengenyam pendidikan atau hanya sebatas sekolah dasar dan tidak mengenal istilah diskriminasi atau penindasan atas perempuan sehingga beban ganda dijalani sebagai hal yang lumrah. Terkecuali bagi buruh gendong yang sudah berusia lanjut dan anak-anak sudah dewasa atau menikah dan hidup terpisah.

Sebagai penjual jasa, buruh gendong menerima imbalan berupa uang dengan nominal tertentu sesuai berat barang yang digendong. Upah yang diterima berkisar antara Rp 2.000 – 10.000 walau jarang sekali mencapai upah 10.000. Berat barang gendongan beragam, dari belanjaan biasa seberat 20 kg hingga sekarung ketela seberat 85 kg. Tubuh mereka kuat dan mampu mengangkat beban karena sudah terlatih selama bertahun-tahun. Namun jangan bayangkan tubuh yang kekar. Walaupun mengangkat beban berat tubuh buruh gendong tetap biasa bahkan cenderung kecil, kurus, terlebih yang berusia lanjut.

Memang ada pula yang memiliki tubuh besar dan kekar. Buruh gendong yang berusia dibawah 60 tahun mampu dengan gesit mengangkat beban hingga beberapa kali dalam satu waktu kerja. Kekuatan tubuh buruh gendong perempuan menepis stereotype perempuan yang feminin, lembut dan lemah. Kekuatannya dapat dikatakan setara dengan atlit perempuan. Bukan berarti kasar dan tidak mampu bertutur halus. Kehalusan karakter tidak dipengaruhi oleh kekuatan tubuh.

Sistem kerja buruh gendong ini berdasarkan waktu jam buka pasar. Ada yang bekerja sejak pagi-pagi buta seperti di Pasar Beringharjo, ada yang sore seperti di Pasar Giwangan. Rata-rata buruh gendong bekerja harian. Karena sudah bekerja puluhan tahun, banyak yang sudah memiliki langganan, dalam arti sudah paham apa, kapan dan kemana barang harus digendong. Setiap hari tiap orang memiliki catatan dari pengguna jasanya, berapa kali sudah menggendong lalu pada sore harinya catatan tersebut menjadi pegangan untuk pembayaran upah, terutama di pasar Giwangan. Agak berbeda dengan pasar lainnya dengan pengguna jasa yang beragam dari pengunjung pasar.

Selain menjual jasa gendong, Di pasar Beringharjo, buruh gendong juga bertugas untuk menjaga kebersihan dengan cara menyapu lorong pasar seminggu 2 (dua) kali secara bergantian. Terbagi atas lorong barat dan timur dari lantai 1 hingga lantai 3. Ada juga yang mendapat tugas tambahan berupa membuka dan menutup kios. Sedangkan di pasar Giwangan ada yang menjadi buruh sayur yaitu membersihkan sayur, membuang bagian yang rusak lalu mengikatnya dalam satuan 5 kg per ikatnya.

Dengan jam kerja mulai pukul 3 pagi hingga pukul 2 siang, rata-rata mereka dapat mengumpulkan upah antara 30.000 – 50.000 sehari. Apabila dipukul rata dalam waktu setengah hari seorang buruh gendong melakukan jasa angkut sebanyak 15 kali. Waktu kerja dipotong saat istirahat atau menunggu pengguna jasa. Penghasilan dalam sehari dipotong pengeluaran makan, toilet dan transportasi pulang pergi ke rumah. Untuk menghemat biasanya buruh gendong membawa bekal dari rumah. Ada pula yang menginap di Los pasar seperti di pasar Giwangan atau di emperan toko seperti di pasar Beringharjo. Buruh gendong di pasar Beringharjo kebanyakan berasal dari Sentolo, Kulonprogo. Setiap hari ada 2 bis kota yang memiliki trayek khusus selama bertahun-tahun sebagai kendaraan angkutan pulang dan pergi. Ada pula yang memilih untuk kost di dekat pasar dan pulang pergi dengan menggunakan becak.

Pekerjaan mengangkut beban setiap hari dengan cara menggendong di belakang secara membungkuk membuat kulit bagian pinggang menebal walaupun dilapisi dengan kain selendang. Cara menggendong seperti ini tentu saja berpengaruh pada bentuk tulang yang mungkin baru terlihat setelah usia makin menua. Cara ini mungkin saja juga berpengaruh pada kesehatan reproduksinya. Sebagai buruh harian lepas buruh gendong tidak memiliki jaminan bagi hari tuanya. Setelah tidak kuat bekerja lagi, biasanya pada masa tua mereka menjadi tanggungan anak-anaknya.

Menarik untuk memahami alasan mereka memilih bekerja dan bertahan sebagai buruh gendong selama puluhan tahun. Mengapa mereka memilih bekerja sebagai buruh gendong? Walau berasal dari desa, ternyata tidak semua memiliki lahan garapan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Banyak juga yang sudah dilarang oleh anak-anaknya tetap bekerja. Bahkan, walaupun penghasilan sedikit namun tetap berarti karena memiliki penghasilan sendiri. Selain itu pergi ke pasar, bekerja dan bertemu dengan komunitas di pasar lebih berguna dan menyenangkan daripada diam di rumah. Hal yang lumrah bahwa interaksi dengan sesama merupakan kebutuhan sebagai mahluk sosial. Memilih pekerjaan sebagai buruh gendong selama puluhan tahun tentu bukan sekedar pengabdian dan kesetiaan pada pekerjaan. Seandainya ada lapangan pekerjaan yang lebih baik dengan upah yang sesuai tentu mereka akan memilihnya.

Sebagai buruh yang dapat dikategorikan dalam pekerja informal, buruh gendong seharusnya berhak mendapat perlindungan sosial dan hukum. Sehingga, dalam hal ini diharapkan adanya kehadiran negara atau pemerintah untuk memberi jaminan perlindungan hukum, standar upah yang layak, kesehatan dan jaminan hari tua bagi para buruh gendong perempuan ini. Jaminan hari tua bagi buruh gendong bisa dijawab dengan kehadiran negara untuk menjawab kebutuhan mereka di masa lanjut tua. Misalnya, memberikan fasilitas pendukung semacam panti wredha sehingga walaupun tidak bekerja tetap dapat berinteraksi dengan teman-teman lansia.

Secara praktis, buruh gendong perempuan memberi gambaran posisi perempuan dalam sistem patriarki sebagai kelompok masyarakat rentan yang terpinggirkan. Beberapa tahun lagi mungkin kita tidak akan menjumpai buruh gendong di era modern dengan peralatan yang serba mekanis. Namun ledakan jumlah pengangguran mungkin berkata lain. Kita lihat saja nanti…

Agustus 2020

Ernawati

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai