21 Februari 2024

Berjuang Dengan Riang Gembira

happy characters, young women group, friendship excitement, cheerful laughing from happiness in the indoor house vector illustration design

0Shares

Akhir-akhir ini muncul banyak istilah ‘Berjuang Dengan Riang Gembira’ di sosial media. Siapapun pembacanya, kalimat tersebut seakan memberi isyarat sekaligus ajakan untuk merespon perjuangan dengan sikap hati yang riang, semangat dan tentu saja penuh kegembiraan.

Kehidupan menawarkan berbagai dinamika dalam dimensi yang berbeda ruang dan waktu. Dalam waktu yang sama, individu yang berbeda akan mengalami pengalaman yang berbeda di ruang yang berbeda. Ruang dan waktu juga menghegemoni baik dalam dimensi ekonomi, sosial dan politik. Dalam dinamika tersebut setiap kita berusaha berinteraksi, larut atau berjuang untuk memajukan atau berupaya mempengaruhi perubahan dinamika itu sendiri. Dalam perjuangan untuk mempengaruhi proses dinamika tersebut, setiap individu memberi reaksi yang berbeda, ada yang gelisah, tergesa-gesa, serius, namun ada pula yang bersikap santai dan yang terbaru bahkan, gembira.

Dalam ruang perjuangan ekonomi tentu tidak mudah untuk menerapkan frase ‘Berjuang dengan Riang Gembira’ pada situasi pekerjaan tertentu. Bahkan pada situasi yang sulit, kalimat ajakan tersebut dapat dipandang sebagai pelecehan atas kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaannya. Demikian pula pada ruang sosial dan politik. Lingkup formal pada ruang politik yang sebagian besar diisi oleh civitas akademisi, bahasa yang dipergunakan memiliki kaidah tersendiri. Demikian pula slogan dan jargon menggunakan kata-kata yang berapi-api dengan tujuan membakar semangat perjuangan.

Perjuangan dengan demikian mesti dimaknai sebagai sebuah gerak maju yang simultan namun dengan tempo yang berbeda-beda. Dinamika perjuangan baik dalam lingkup ekonomi, sosial maupun politik tidak dapat terlepas dari situasi masyarakat, negara baik nasional maupun internasional.

Di dunia internasional, melalui kartografi geopolitik yang dimulai dari berakhirnya perang dingin, kita mendapati landscape yang berbeda. Dunia tidak lagi terbelah secara ideologi, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan infrastrukrur mengaburkan batas-batas negara dan ras. Pergolakan yang terjadi di Timur Tengah, dunia barat dan kemunculan negara superior dari Timur bukan semata ras maupun ideologi tapi modal.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Direktur FBI, Christopher Wray yang mengeluarkan peringatan mengerikan tentang pengaruh China yang tumbuh, ada berbagai cara China menerapkan rencana untuk menggantikan AS sebagai kekuatan global terdepan, termasuk dengan menyusup ke akademisi. Pakar intelijen juga menyebut ancaman keamanan siber China sebagai perhatian utama. di 2018.

Kemunculan negara-negara superior baru tentunya tidak terlepas dari perebutan wilayah, penguasaan sumber minyak dan persaingan senjata bertehnologi tinggi. Perebutan wilayah kemudian menimbulkan kegelisahan yang termanifestasikan pada pengidentifikasian diri. Penelusuran identifikasi diri secara tradisional menuntun pada pertanyaan darimana kita berasal serta dari peradaban mana. Kesadaran Amerika terlihat dari pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hal ini disampaikan secara tegas oleh perwakilan Amerika di PBB.

Konsep peradaban sendiri menyajikan sebuah tolak ukur yang dapat dijadikan acuan dalam memberikan penilaian terhadap pelbagai (dinamika kehidupan) masyarakat. Upaya-upaya intelektual, diplomatis dan politis dalam mengelaborasi kriteria yang diterapkan pada masyarakat pada akhirnya menjadi pandangan hidup untuk sebuah priviledge dari sekelompok orang atau elit tertentu.

Peradaban Barat yang mengklaim diri sebagai peradaban termaju mulai resah dengan adanya pengkaburan batas ras dan negara. Terlebih menyadari sumber daya ekonomi yang terancam dengan pesatnya kebangkitan naga dari timur. Walaupun dalam sejarahnya, peradaban Timur telah terlebih dahulu maju dibanding peradaban Barat.

Saat ini kita mengenal 5 peradaban yang masih cukup kuat menghegemoni geopolitik internasional. Peradaban Tionghoa, Peradaban Jepang, Peradaban India, Peradaban Islam dan Peradaban Barat. Namun pada kriteria peradaban tersebut melekat pemahaman tunggal dan ganda.

Peradaban Barat tidak diwakili oleh Amerika. Negara-negara Eropa yang mewakili peradaban Ortodoks menolak paradigma Barat sebagai Amerika, hal ini dapat ditandai dengan lahirnya EU. Bahkan saat ini mulai muncul wacana dunia multisivilasisional atau multipolar yang mengaburkan batas negara dan ras. Wacana ini terus berkembang walaupun Amerika memiliki sikap determinan yang terlihat dari kebijakan mengenai imigran.

Di Indonesia terjadi asimilasi peradaban yang dibawa melalui perdagangan dan imperialisme, namun jauh sebelumnya, secara geografis proses tersebut telah terjadi secara natural. Asimilasi peradaban ini kemudian menyulitkan proses identifikasi diri. Beberapa wacana pernah dicoba untuk proses identifikasi ini. Pada gilirannya proses identifikasi dikerucutkan pada kebudayaan asli pribumi. Saat ini benturan peradaban mengemuka dalam wacana yang coba diformulasikan dalam bentuk undang-undang yang mengatur kehidupan individu.

Demikian pula dalam bidang ekonomi dan politik. Pemaknaan ganda terjadi dalam pandangan mengenai modernisasi dan pembangunan. Modal Amerika dan Cina, perebutan wilayah dan minyak. Radikal Islam bukan representasi dari peradaban Islam

Pernyataan sikap sebagian akademisi dan aktivis mengenai anti globalisasi tidak dapat diartikan semata-mata sebagai pandangan anti tehnologi, modernisasi atau pembangunan. Pandangan tersebut tidak lantas dapat dipandang sebagai ajakan untuk kembali pada kehidupan primitif. Hampir semua kalangan menyadari kebutuhan akan tehnologi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta wacana dunia yang multipolar. Namun benturan peradaban yang mempengaruhi sistem ekonomi cukup memberi kesadaran bahwa peradaban dapat menyatukan berbagai ras (melalui agama) tapi tidak (sepenuhnya) menyatukan perbedaan kelas.

Hal ini dapat dibaca pada laporan terakhir dari BKPM yang  menunjukkan besaran modal asing yang ditanam di Indonesia. Benturan ini akan semakin nyata apabila investasi ini tidak mampu menampung sejumlah besar tenaga kerja produktif di Indonesia. Terlebih keuntungan investasi diragukan akan digunakan bagi kesejahteraan rakyat Indonesia

Menatap masa depan, baik geopolitik internasional maupun nasional, membutuhkan joint mediation rule. Baik di bidang ekonomi, politik dan sosial. Terlebih dalam menghadapi climate change. Masa depan dunia sangat tergantung pada berbagai pihak untuk saling menghargai dan menghormati. Peradaban akan terus berjalan. Kaum muda saat ini yang akan menempati dunia dan menjadi penentu masa depan dunia, perlu memiliki paradigma baru peradaban. Era lama akan dan harus berakhir digantikan oleh era baru, ketidaksiapan dalam membaca kartografi geopolitik akan mengakibatkan kegagapan dalam menentukan arah.

Advokasi Litigasi dan Non Litigasi

Berjuang dengan gembira dapat menjadi strategi dalam penciptaan paradigma baru. Peradaban tidak harus dibentuk dengan jalan revolusi fisik. Peradaban juga dapat dibentuk secara smooth dan riang penuh warna. Pertarungan saat ini bukan lagi pertarungan ideologi melainkan pertarungan untuk mempertahankan dunia. Dunia dengan segala situasinya akan berada di tangan generasi penerus.

Tanpa mereduksi arti dan nilai perjuangan, strategi ini dapat direalisasikan dalam bentuk tulisan di media massa, media sosial, karya seni dan lain sebagainya yang berisi seruan atau ajakan untuk terlibat secara aktif dalam membangun peradaban baru. Aksi nyata dalam bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sesama mahluk hidup, melakukan gotong royong atau karnaval akan banyak menarik simpati masyarakat dan dinilai lebih produktif. Namun sekali lagi, strategi ini tidak dimaksudkan untuk mereduksi aksi parlemen jalanan.

Membangun paradigma baru juga dapat dilakukan melalui seni musik, seni rupa, perubahan perilaku dan tata kelola keluarga. Jika dulu kita mengenal Imagine-nya John Lennon atau Wind of Change-nya Scorpion, maka generasi mendatang diharapkan mampu melahirkan lagu-lagu baru yang menggambarkan situasi yang mewakili jamannya sebagai bentuk kesadaran baru bukan sekedar hiburan semata.

Tingkat sosialisasi generasi abad ini sudah dimulai sejak lahir. Media sosial memudahkan orang untuk saling berinteraksi. Setiap orang memiliki fasilitas untuk memperkenalkan diri melalui berbagai aplikasi media sosial. Dengan berbagai resiko yang sudah disadari sejak dini, kewaspadaan dan penghargaan yang tinggi akan kemanusiaan lebih lagi dibutuhkan. Berbagai bidang pekerjaan akan tergantikan oleh mesin namun sentuhan tangan seorang perupa pada seni patung atau seni craving pada makanan semoga tak tergantikan.

Penulis: Ernawati

Editor: Humaira

Kredit Foto: Depositphotos

Referensi:

  • Benturan Antar Peradaban-Samuel P. Huntington
  • The Condition of England-Thomas Carlyle 1843
  • Paris Agreement
  • A Short History of Indonesia-Collin Brown
  • The New Imperislism-David Harvey

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai