19 April 2024

It’s Okey Not To Be Okey

Ketakutan cuma produk otak, kita bisa menghapusnya jika mau.
0Shares

How to be brave? How can I love when I’m afraid to fall?

But watching you stand alone. All of my doubt suddenly goes away somehow

One step closer – A Thousand Years

Hampir setiap orang memiliki rasa takut hanya dengan kadar yang berbeda-beda. Seberapa besar rasa takut juga terkait dengan kemampuan tiap orang untuk mengelola rasa takut. Ada begitu banyak alasan bqgi kita untuk merasa takut; perang, konflik, penganiayaan, kekerasan, kejahatan, peristiwa alam, terorisme, ketidakpastian ekonomi, pengangguran, perpecahan, penyakit, kematian dan yang kini tengah terjadi, pandemi COVID-19. Khawatir akan masa depan anak-anak, keluarga, keuangan, keselamatan, dan lain-lain. Daftarnya terus bertambah. Kehidupan seperti ditekan oleh kalimat “bagaimana jika atau seandainya”.

Svendsen mengatakan ‘we ought to fear fear, because it undermines so much of what is really important in our lives“. Senada dengan Svendsen, Franklin D. Roosevelt mengatakan “The only thing we have to fear is fear itself”. Budaya juga turut membentuk rasa takut dalam diri seseorang, seperti mitos tentang kucing hitam atau babi ngepet.

Namun, menurut Katherine Brownlowe, Kepala Divisi Neurobehavioral Health dari Ohio State University Wexner Medial Center, seperti dikutip dalam Live Science mengatakan bahwa ada pemicu universal akan rasa takut yakni hal-hal yang bisa membuat Anda mati. Contohnya petir, laba-laba, atau ancaman dalam kegelapan. rasa takut termasuk mekanisme bertahan hidup.

“Pelepasan zat kimia pada saraf dan hormon menyebabkan peningkatan denyut jantung dan pernapasan,” ujar Brownlowe. Proses tersebut lantas melangsir darah dari usus dan mengirimkannya lebih banyak ke otot-otot di seluruh tubuh. Ketika rasa takut menyerang, rambut pada tangan dan kaki kita berdiri

Negara beserta aparatusnya juga dapat menjadi pemicu timbulnya rasa takut seperti kebijakan pembangunan, penangkapan, undang-undang dan pasokan barang yang menyebabkan naik turunnya harga. Kebijakan yang tidak populis dan banyak mendapat penolakan seperti RKUHP, UU Cipta Kerja dan penanganan peristiwa alam dan pandemi. Civilisation needs trust, not fear. 

How do we defend ourselves from our fears?

Rasa takut mungkin tidak bisa dihapus seketika dan sepenuhnya namun kita perlu mengelola rasa takut dan menemukan cara yang paling tepat untuk melindungi diri dari rasa takut. Pertama-tama kita harus mengakui dan mengenali rasa takut yang ada dalam diri kita. Kita mungkin saja berusaha untuk menutupi rasa takut karena malu atau menghindari menjadi bahan bagi pihak lain untuk menekan kita. Tahap berikutnya kita mulai mendeteksi penyebab rasa takut dan memilah sumber-sumber rasa takut serta bentuk-bentuknya

Dalam sistem saraf otak kita terdapat satu bagian yang disebut Amygdala,  yaitu bagian yang berfungsi merekam pengalaman emosional, seperti rasa takut, cinta, cemas, dan benci. Amygdala berfungsi mengevaluasi informasi sensorik yang diterima, dan kemudian dengan cepat menentukan kepentingan emosionalnya, dan membuat keputusan untuk mendekati atau menjauhi suatu objek atau situasi (fight-or-flight).

Abigail Marsh dari Georgetown University mengatakan, rasa takut adalah sebuah ekspektasi atau antisipasi dari bahaya yang mungkin muncul. Ketakutan sering membantu kita dengan pemeliharaan-diri. Kita memahami rasa takut, serta emosi yang terkait, dalam rangka untuk melindungi diri dari bahaya dan meningkatkan kesadaran kita. Seseorang yang mengalami gangguan pada amygdala akan menyebabkan kehilangan rasa takut pada dirinya, dan juga tidak mempunyai ekspresi rasa takut bahkan meskipun dirinya  terancam dalam bahaya. Jika kita masih merasa takut kehilangan harta, takut kehilangan orang yang kita sayangi, takut kehilangan pekerjaan dan jabatan atau takut membuat keputusan maka dipastikan amygdala kita masih berfungsi dengan baik.

Riset yang dilakukan Jun-Hyeong-Cho, asisten profesor neurologi di University of California, Riverside, bersama koleganya, Woong Bin Kim, memberi tanda bahwa keinginan untuk menghapus memori bisa jadi kenyataan. Hilangnya ekspresi ketakutan itu disebut “fear extinction“. Meski istilahnya demikian, rasa takut itu tetap bisa muncul kembali suatu waktu. Hasil riset tersebut merupakan kemajuan dalam memahami “fear extinction” dan pentingnya kekuatan ikatan sel saraf dalam membangun ingatan.

Saat rasa takut mereda, otak biasanya merilis neurotransmitter dan hormon yang dapat membuat sistem tubuh beristirahat. “Denyut jantung turun, pernapasan melambat, rasa merinding mulai mereda. Ada rasa lega kognitif dalam tubuh,” ujar Brownlowe. Meredanya rasa takut dapat dilakukan dan dibangun dari dalam diri kita atau karena pengaruh pihak diluar kita. seperti motivasi dan dukungan

“The man who has anticipated the coming of troubles takes away their power when they arrive.” -Seneca

Supporting Circle

Sebagai mahluk sosial, kita tidak dapat terlepas dari orang lain. Baik ketakutan kolektif seperti pandemi, ketidakpuasan di tempat kerja, peristiwa alam atau perampasan lahan, maupun perseorangan seperti kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga. Kita bisa membentuk atau memetakan siapa orang terdekat yang dapat menjadi teman berbagi semacam lingkaran saling mendukung

Teman, keluarga atau siapapun yang masuk dalam lingkaran terdekat kita mungkin saja tidak dapat membantu memberi jalan keluar namun dukungan dan motivasi dapat dihasilkan dengan saling mendukung. Perlahan kemampuan mengelola rasa takut dapat menimbulkan keberanian. Berani menghadapi pelaku intimidasi, pelaku kekerasan, berani mengalami rasa sakit, berani melawan ketidakadilan, berani menyuarakan pendapat, berani jatuh cinta, berani mengalami patah hati, dan yang lebih penting, berani menghadapi rasa takut itu sendiri.

Everyone faces up more bravely to a thing for which he has long prepared himself, sufferings, even being withstood if they have been trained for in advance. Those who are unprepared, on the other hand, are panic-stricken by the most insignificant happenings. We must see to it that nothing takes us by surprise. And since it is invariably unfamiliarity that makes a thing more formidable than it really is, this habit of continual reflection will ensure that no form of adversity finds you a complete beginner.” -Seneca

Saat rasa takut berhasil ditundukkan, keberanian perlahan mulai tumbuh. Pada situasi tertentu keberanian dapat muncul seketika. Misalnya saat menghadapi peristiwa alam, situasi perang, kediktatiran politik atau kekerasan personal. Saat itulah kita bisa mengatakan fearless. Selamat menikmati Fear not dan fearless.

Ketakutan cuma produk otak, kita bisa menghapusnya jika mau.

Ernawati

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai