17 April 2024

Kebangkitan Organisasi Perempuan Nasional

0Shares

Gagasan-gagasan Kartini menjadi pemantik lahirnya organisasi-organisasi perempuan berwajah nasionalis. Keprihatinan pertama yang dirasakan oleh kaum perempuan adalah rendahnya pendidikan pada saat itu. Oleh karena itu, gerakan perempuan yang baru tumbuh ialah membuka sekolah-sekolah untuk perempuan. Pengaruh sekolah-sekolah ini ialah melahirkan generasi perempuan dan feminis yang sangat besar.

Organisasi formal perempuan yang pertama adalah Putri Mardika, didirikan pada tahun 1912 di Jakarta. Organisasi ini memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, mendorong perempuan agar tampil di depan umum, membuang rasa “takut” dan “mengangkat” ke kedudukan yang sama dengan laki-laki.

Antara tahun 1913-1915 berdiri berbagai organisasi perempuan di daerah, terutama di Jawa dan Minangkabau. Anggota mereka umumnya dari perempuan kalangan atas. Semuanya tetap pada perhatian yang sama, yakni pendidikan perempuan. Tujuannya untuk mendobrak “penjara rumah tangga” yang membuat mereka terkurung, maupun sebagai jalan untuk memejukan rakyat di Jawa dan Minangkabau secara menyeluruh.

Selain itu, perempuan mulai bergerak di dalam gerakan-gerakan sosial dan agama yang penting pada saat itu, baik dengan jalan pembentukan cabang-cabang organisasi yang ada atau mendirikan organisasi mereka sendiri.

Organisasi Perempuan Muslim

Pada tahun 1918 bagian kewanitaan Sarekat Islam (SI) berdiri dirintis oleh Siti Fatimah di Garut. Tahun 1920, sebuah perkumpulan didirikan di Yogyakarta, yiatu Wanoedyo Oetomo (Wanita Utama). Tahun 1925 organisasi-organisasi ini berfusi ke dalam Sarekat Putri Islam.

Oganisasi berbasis agama yang tak kalah penting lainnya adalah Aisyah. Aisyah dimulai sejak Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Aisyah diketuai oleh Nyai Ahmad Dahlan. Tujuan pokok organisasi ini adalah untuk menyebar-luaskan ajaran Islam kepada perempuan, yaiutu untuk memimpin, menjaga, dan menuntun anggota perempuan dalam Muhammadiyah, sehingga mereka mampu mebimbing perempuan Indonesia pada umumnya untuk mempunyai kesadaran beragama dan berorganisasi.

Organisasi Perempuan Sosialis

Organisasi perempuan sosialis yang pertama berdiri adalah Sarekat Rakyat, sayap dari Sarekat Islam. Organisasi ini  memiliki ribuan anggota. Namun pada akhirnya, anggota dari organisasi  ini banyak yang meleburkan dirinya pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Di saat itu mereka mulai membicarakan perjuangan anti kolonialisme dan anti-imperialisme.

Organisasi Perempuan Lain

Organisasi perempuan lain yang berdiri pada masa ini diantaranya bersifat lokal dan kedaerahan. Diantaranya, Wanita Katolik, yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1924.

Organisasi kepemudaan juga membentuk organisasi khusus bagi kaum perempuan. Kaum lelaki dalam organisasi menyadari bahwa kemajuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak akan terwujud apabila kau perempuan tidak memiliki pendidikaan dan pengetahuan yang sama seperti laki-laki. Sejumlah organisasi berdiri, seperti Jong Java (1915), federasi pemuda rakyat sumatera (1917), Jong Minahasa (1918), Jong Ambon dan Jomg Sulawesi.

Pergerakan Perempuan Periode Kolonial

Kongres Perempuan 1928

Kongres perempuan pertama Indonesia diselenggarak di Yogyakarta pata tanggal 22 sampai dengan 26 Desember 1928. Kongres ini dicetuskan oleh Nyonya Soekonto (anggota komite Wanita Utomo), Nyonya Suwardi (Ketua Aisyah) dan Nona Soejatin (guru Perguruan Taman Siswa dan komite Putri Indonesia). Hampir tiga puluh perkumpulan perempuan mengikuti kongres ini.

Disebutkan ada 1000 perempuan yang hadir di pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama. Perempuan-perempuan itu berasal dari 30 organisasi perempuan, seperti Aisyiyah, Boedi Rini, Boedi Wanito, Darmo Laksmi, Jong Islamieten Bond, Jong Java, Karti Wara, Koesoemo Rini, Margining Kaoetaman, Nahdatoel Fataat, Panti Krido Wanito, Poetri Boedi Soedjati, Poetri Indonesia, Roekoen Wanodijo, Santjaja Rini, Sarekat Islam bagian Istri, Wanita Katholiek, Wanito Kentjono, Wanita Oetomo, Wanito Moeljo, Wanito Sedjati, dan Wanito Taman Siswa.

Sementara tokoh yang menonjol di forum adalah Siti Moendjijah dari Aisyiyah dan Siti Soendari dari Poetri Indonesia. Keduanya merajai forum-forum umum dengan keahlian beretorika dan berpidato.

Isu yang paling diperdebatkan di Kongres adalah soal posisi perempuan dalam perkawinan dan penolakan terhadap poligami. Dua isu ini yang membelah peserta Kongres dan organisasi yang diwakilinya terbelah.

Organisasi perempuan berbasis Islam, terutama Aisyiah dan Jong Islamieten Bond, membela perkawinan Islam, termasuk poligami. Sebaliknya, organisasi perempuan berbasis nasionalis dan sekuler memperjuangkan reformasi terhadap Undang-Undang Perkawinan untuk memberi tempat kepada hak-hak perempuan, penghapusan perkawinan anak, dan pelarangan poligami.

Dua kubu ini punya tokoh masing-masing yang tampil memukau di forum: dari barisan Islam ada Siti Moendjijah (Aisyiyah), sedangkan dari barisan nasionalis-sekuler ada Siti Soendari (Poetri Indonesia).

Dalam isu pendidikan, kendati kedua kubu sama-sama menganggap perlu memperbanyak lembaga pendidikan untuk perempuan, tetapi agak berbeda dalam soal isian atau muatan kurikulumnya.

Nah, saking menajamnya perbedaan soal isu perkawinan dan poligami, beberapa organisasi perempuan mengusulkan agar perdebatan pada tema itu diminimalkan. Sebab, semangat utama yang dikejar oleh Kongres adalah persatuan.

Meski diwarnai perdebatan sengit, tetapi Kongres tetap berhasil merumuskan beberapa keputusan penting: pertama, pembentukan badan permufakatan bernama Perikatan Perempuan Indonesia; kedua, pembentukan studiefonds untuk membantu pendidikan anak perempuan; ketiga, memperkuat pendidikan kepanduan; keempat, mencegah perkawinan anak-anak; kelima, mengirim mosi kepada pemerintah agar memberikan dana untuk janda dan anak yatim; dan keenam, mengirim mosi kepada Majelis Agama agar tiap taklik dikuatkan dengan surat sesuai dengan ajaran agama Islam.

—-

Kongres kedua yang diselenggarakan PPI bertempat di Jakarta dari 26 sampai 31 Desember 1929. Nama organisasi ini diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). PPII menyelenggarakan kongres pertamanya di Surabaya pada tanggal 13 sampai 18 Desember 1930.

Di tahun yang sama organisasi perempuan lain bernama Isteri Sedar  didirikan di Bandung. Organisasi ini diketuai oleh Soewarni Pringodigdo. Organisasi ini cenderung lebih radikal ketimbang organisasi-organisasi perempuan lain di masa itu. Ketika kongres pertamanya digelar pada tahun 1932, Soewarni Pringodigdo menyerukan agar perempuan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan nasional.

Di tahun yang sama pula, beberapa organisasi perempuan yang lebih kecil, tidak berbasis agama, bergabung bersama untuk membentuk satu organisasi bernama Isteri Indonesia di bawah kepemimpinan Mariah Ulfa Santoso.

—-

Kongres perempuan ketiga mengambil tempat di Bandung. Isu baru muncul dalam program yaitu hak memilih. Ini merupakan reaksi terhadap langkah-langkah trehadap pemerintah yang tidak memberikan hak pilih, ketika kaum perempuan meminta pemilihan perempuan Indonesia sebagai anggota Volksaard.

Rini, Sekjen API Kartini Periode 2018-2021

*Tulisan ini disampaikan dalam Pendidikan Politik Perempuan Tahap I di DPK API Kartini DKI Jakarta pada 9 November 2019.

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai