28 September 2022

Perempuan Afghanistan di Tengah Dinamika Politik Internasional

Kredit Foto: AFP

0Shares

Pernyataan Sikap Suluh Perempuan Perempuan

Afganistan terletak pada posisi yang sangat strategis, yaitu persimpangan antara Asia dan Eropa, serta interseksi tiga wilayah utama Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah. Selain itu juga terhubung dengan Timur jauh. Bahkan setengah dari jalur sutra melalui wilayah ini.

Negri dengan gunung-gunung yang cantik ini tidak pernah lepas dari peperangan. Pergantian kekuasaan dari 11 raja yang berkuasa, hampir selalu diwarnai dengan pertumpahan darah (1900-1929). Uni Soviet melakukan invasi pada tahun 1979-1989. Mujahidin dengan dukungan AS/NATO, Saudi Arabia, Pakistan dan sejumlah negara non-komunis lainnya (termasuk Indonesia) melakukan perlawanan militer pada tahun 1984 hingga Soviet jatuh (1989). Pada masa ini Al Qaeda terbentuk, disusul kemudian dengan Taliban (1994).

Pada tahun 2001-2021 pasukan koalisi internasional dibawah pimpinan AS menyerang Afghanistan hingga rezim Taliban jatuh. Namun pada bulan Agustus 2021 Taliban kembali berkuasa dan memukul mundur Pasukan AS. Gerakan Taliban pada awalnya mendapat dukungan Amerika Serikat, Pakistan dan Saudi Arabia dengan maksud menggantikan kekuatan Mujahidin.

Dalam praktek politiknya, Taliban yang menganut Mazhab Hanafi dengan teologi Maturidi ini, lebih mengedepankan ajaran Islam Deobandi yang konservatif dan menempatkan perempuan sebagai obyek seksual. Dalam sejarahnya, Afganistan pernah memiliki pemimpin perempuan, Ratu Soraya (1912-1960), perempuan progresif dan mendukung hak perempuan dan pendidikan Bersama Raja Amanullah Khan, Ratu Soraya melakukan kampanye anti-poligami dan anti berkerudung/hijab.

Kemerdekaan yang diperuntukkan kita semua…Apakah kamu pikir bahwa bangsa kita dipandang hanya perlu laki-laki untuk membangunnya? Perempuan juga harus ambil bagian seperti pada masa awal negara ini dan Islam dibangun…kita harus menimba ilmu pengetahuan sebanyak dan sesegera mungkin.”

Saat ini, setelah Taliban kembali berkuasa, berdasarkan laporan Human Rights Watch, diperkirakan 87% perempuan dewasa dan anak mengalami kekerasan. Termasuk pengenaan hukum cambuk di depan publik pada perempuan yang mengikuti demonstrasi. Malala Yousafzai adalah salah seorang perempuan yang pernah menjadi korban Taliban. Malala, perempuan Pakistan dari suku Pasthun, menjadi korban penembakan kelompok Taliban. Peristiwa penembakan Malala dan kekerasan terhadap perempuan lainnya di Afghanistan mengundang simpati dunia internasional.

Ruang demokrasi terpasung dengan pemantauan ketat pada sosial media. Salah satu warisan Taliban untuk dunia adalah “talibanisasi perempuan” yaitu suatu upaya domestifikasi perempuan. Perempuan dipandang sebagai sumber fitnah, penyebab permasalahan moral di ruang publik. Maka untuk mengurangi fitnah dan masalah, perempuan dilarang berada di ruang publik.

Situasi terakhir dibawah kekuasaan Taliban, perempuan tidak mendapat akses atas ruang publik. Dilansir dari BBC News, seluruh jajaran pemimpinnya adalah kaum laki-laki. Pemerintahan baru ini juga menghapus kementerian perempuan. Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan bahwa saat berkuasa, mereka akan tetap menghormati hak-hak perempuan.

Puluhan perempuan protes setelah mengetahui tidak ada perwakilan mereka dalam daftar menteri dalam kabinet baru Afghanistan. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di jalanan Kabul (19/09/2021). Sayangnya demonstrasi yang sebenarnya berlangsung damai itu langsung diberhentikan oleh Taliban sesaat setelah mereka mengetahuinya. Tak hanya disetop, para perempuan yang demo juga dicambuk dan dipukuli dengan tongkat yang mengeluarkan sengatan listrik.

Suluh Perempuan turut menyesalkan situasi ini dan memandang perlu untuk memberikan seruan:

Pertama, mendesak pemerintah Indonesia dan kelompok masyarakat sipil di Indonesia yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak di Afghanistan agar dapat mendorong dilakukannya dialog dengan pemerintah tepilih.

Kedua, dukungan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan yang melindungi semua warga bangsa terutama perempuan, anak dan kelompok rentan lainnya. Pemerintahan yang menjamin kesetaraan dan keadilan bagi laki-laki dan perempuan sebagai sesama hamba Allah dan sesama manusia.

Ketiga, menggalang solidaritas sebagai bentuk dukungan bagi perjuangan perempuan di Afghanistan guna mendapatkan ruang aman dan damai, mendapatkan penghormatan serta dijamin hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.

Jakarta, 4 Oktober 2021

Siti Rubaidah, Ketua Umum Suluh Perempuan

Fentia Budiman, Sekjen Suluh Perempuan

Narahubung

Ernawati – 08816717562

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai