28 September 2022

Batik Ecoprint: Melestarikan Alam dan Bernilai Ekonomis

0Shares

Sejak bulan Oktober yang lalu, Suluh Perempuan mengadakan pelatihan ecoprint di berbagai komunitas yang berbeda. Ecoprint merupakan varian baru dalam pengerjaan batik. Pengerjaan dan hasil produksi mirip dengan batik namun ecoprint memiliki kekhususan karena menggunakan bahan-bahan dari alam. 

Ecoprint berasal dari kata eco atau ekosistem (alam) dan print, mencetak. Batik Ecoprint dibuat dengan cara mencetak menggunakan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar baik sebagai media, pewarna, maupun pembuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting.

Dikatakan bersifat ramah lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran air, tanah atau udara dan tidak melakukan pengrusakan. Sehingga produk yang dihasilkan mencerminkan keindahan alam dan lingkungan. Sejatinya, ecoprint justru dapat difungsikan sebagai pelestari alam dan memiliki nilai ekonomis. 

Media ecoprint dapat dipilih dari serat alami. Pemilihan serat alami karena mampu menyerap warna dengan baik. Serat alami kelompok selulosa misalnya katun, linen, goni, kulit kayu, sedangkan, kelompok protein misalnya sutera, wol maupun kulit binatang.

Pola desain yang akan dibuat dapat mengambil dedaunan di sekitar kita. Beberapa jenis dedaunan jua dapat di proses untuk menjadi pewarna. Jenis dedaunan tersebut adalah daun jati, klengkeng merah, daun lanang, jarak kepyar, teruju, miyono, daun jambu biji, kesumba, jinitri dan daun anggur.

Proses pembuatan ecoprint juga memberi kita pengetahuan tentang warna yang dihasilkan oleh tiap jenis daun, daun yang tidak mengeluarkan warna serta kadar air dalam tiap jenisnya. juga memberi pengetahuan tentang bagaimana menerapkan perlakuan yang berbeda untuk tiap kategori daun-daun tersebut.

Teknik Batik Ecoprint

Langkah pembuatan ecoprint melewati beberapa tahap. Tahap pertama dimulai dari sejak pembelian kain. Kain yang baru kita beli di toko merupakan buatan pabrik dan masih menyimpan sisa-sisa bahan kimia. Kain tersebut dicuci terlebih dahulu dengan dengan sejenis bahan yang disebut TRO.

Selanjutnya kain menjalani proses pengolahan atau mordanting yaitu perendaman kain menggunakan air tawas selama semalam. Proses mordanting ini penting untuk menyiapkan kain agar dapat menyerap warna Dan meningkatkan afinitas warna alam serta mempertahankan warna atau pola yang tercetak.

Proses berikutnya adalah pencetakan dengan cara merentangkan kain setengah basah kemudian daun yang telah dipilih, ditata sedemikian rupa kemudian dipukul-pukul dengan palu atau batu. Kekuatan dalam memukul harus dikendalikan agar daun tidak hancur dan warna meresap dengan baik pada kain.

Kain digulung pada kayu dengan tetap mempertahankan posisi daun agar tidak bergeser. Kain kemudian diikat kencang. Tahapan selanjutnya adalah pengukusan selama 2 jam. Pengukusan ini bertujuan agar warna dasar daun keluar.

Setelah proses pengukusan selesai, kemudian kain dibuka, dibersihkan dari sisa-sisa daun yang menempel di kain, maka motif sudah tercetak di kain. Proses terakhir adalah fiksasi dilakukan dengan merendam kain dengan air tawas dengan tujuan mengikat motif dan warna agar tidak luntur. Terakhir, kain dicuci menggunkan lerak dan dijemur di terik matahari.

Daun-daun yang dipergunakan baik melalui pounding maupun pengukusan tidak mengandung zat berbahaya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami. Bentuknya hampir sama seperti sayuran yang direbus untuk konsumsi harian.

Di sinilah letak seni dan keunikan ecoprint, karena baik warna maupun motif tidak bisa diulang sekalipun bahan dan proses pembuatan sama. Ecoprint dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik. Umumnya menggunakan teknik steam atau pounding. Keduanya memiliki kelebihan tersendiri dari segi hasil dan artistik. Namun ada pula yang menggabungkan teknik keduanya.

Beberapa kegiatan pelatihan ecoprint di komunitas

Pelatihan Ecoprint Suluh Perempuan

Budidaya dan pengembangan teknik ecoprint di masa pandemi sangatlah menarik, karena selama pandemi lahir budaya baru di masyarakat, seperti adanya Work From Home (WFH). Karena bekerja di rumah maka banyak orang yang memanfaatkan waktunya secara produktif, antara lain mengembangkan hobi berkebun atau urban farming di masyarakat perkotaan dan lainnya.

Dalam rangka budidaya dan pengenalan teknik ecoprint dan budaya ramah lingkungan, Suluh Perempuan mengajak serta beberapa komunitas dan Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat. Seperti yang dilakukan beberapa saat yang lalu bersama Jaringan Karya Seni Muda Mudi Rawasari. Bersama komunitas ibu-ibu di Sukmajaya, Tajur Halang Bogor, komunitas Ikohi, komunitas Taman Kota serta Bekasi.

Kain ecoprint yang dihasilkan dapat diaplikasikan dalam berbagai produk fashion atau rumah tangga seperti baju, sprei, apron, tas dan lain-lain. Batik ecoprint juga tampil Manis saat dikombinasikan dengan produk lainnya seperti lurik, kain polos, kulit bahkan jeans. Nilai ekonomi produk semakin bertambah seiring dengan variasi dalam mengaplikasikannya.

Semakin sering melakukan ecoprint, kita dibawa untuk semakin menyelami alam dan jiwa kita. Ecoprint bukan sekedar menempelkan daun dan mengukusnya atau memukul-mukul melainkan juga merasakan, membaca dan menyatukan pikiran dan tenaga. Ecoprint sesungguhnya menyatukan jiwa dan raga kita dengan alam.

Ernawati

Pelatihan Ecoprint di Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat
0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai