28 September 2022

Tari Adinda: Pengetahuan adalah Pencerahan untuk Kesetaraan

0Shares

Tanpa MUSIK duniaku sepi …

Tanpa MIMPI waktuku berhenti …

Tanpa SENI jiwaku mati …

~Tari Adinda

Pembaca setia suluhperempuan.org, edisi Her Story kali ini ingin mengangkat sosok perempuan serba bisa, Tari Adinda. Tari adalah salah satu pendiri Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini). Konferensi Nasional Perempuan Indonesia yang memandatkan pembentukan ormas perempuan API Kartini. Ia terpilih sebagai Pengurus dan menjabat sebagai Bendahara (2014-2019). Pada Kongres Kedua API Kartini berubah nama menjadi Suluh Perempuan.

Mars API Kartini adalah salah satu sumbangsih Tari Adinda. Setiap orang yang menyanyikan akan terus mengenang kata-kata yang ia torehkan dalam bait Mars API Kartini. ‘Pengetahuan adalah pencerahan untuk kesetaraan’ adalah bait yang bernyawa. Ia akan terus menghidupkan jiwa yang bercita-cita mewujudkan kesejahteraan sosial dan kesetaraan gender.

“Musikku adalah Suara Kaum Tertindas,” kata Tari Adinda. Ia mengidolakan Iwan Fals, Slank dan Franky Sahilatua. Tapi ia lebih banyak belajar dari pengalaman Iwan Fals, pencipta lagu-lagu menghibur tapi berbau kritik sosial. Ia melakukan kritik sosial bukan hanya berdasar bacaan teori namun merasai langsung dari penindasan yang dialaminya. Ketidakadilan yang dialami langsung oleh buruh dan rakyat jelata.  

“Saya kagum dengan Iwan Fals karena mampu memadukan hal yang kocak dengan kritik sosial. Dengan begitu, lirik-lirik lagu Iwan Fals begitu meresap dalam sanubari para penggemarnya khususnya kawula muda,” ucapnya.

Tari pernah bermimpi tentang sosok idolanya, Iwan Fals yang bernyanyi tentang kehidupan buruh. Bahkan ia pernah mengirimkan surat khusus kepada Iwan Fals. Ia meminta Iwan Fals menciptakan lagu-lagu tentang kaum buruh. Sayang, surat itu tak pernah berbalas. Namun, ia tak kecewa. Tari sadar bahwa harus ada ‘Iwan Fals Perempuan’ yang berbicara tentang kaum buruh.

Bagi kawan-kawan seperjuangannya, Tari adalah sosok yang dirindukan. Kata-katanya menggema dan merasuk ke dalam jiwa. Ia tak hanya pandai berkata-kata namun juga mampu menggubah menjadi sebuah lirik dan syair baik dalam puisi dan lagu. Bagi sebagian orang, menulis dan berkarya mungkin butuh mood dan momen. Namun bagi Tari, setiap tarikan nafas dan gerak tubuh adalah ide yang menginspirasi karya.

Biografi Tari Adinda

Tari Adinda adalah perempuan yang komplit. Tak hanya seorang aktivis, Tari juga seniman dan aktivis buruh. Sebagai seniman ia bergabung dengan Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER). Ia juga aktivis buruh perempuan yang bekerja di pabrik garmen PT Bintang Adi Busana di Cakung, Jakarta Utara (sejak 2004 sampai 2011).

Tari lahir di Surabaya pada tanggal 2 Juli 1980. Dunia pergerakan berkabung mendengar berita kematiannya di usia yang sangat muda, yaitu 39 tahun. Ia meninggal dunia pada 26 September 2019 di kota kelahirannya Surabaya. Kepergian yang begitu cepat menyisakan kerinduan yang mendalam pada sosoknya yang sederhana dan bersahaja.

Ayahnya adalah seorang pemimpin orkes dan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Dari Sang Ayah, Tari belajar dasar-dasar bermain gitar. Ia jatuh cinta pada musik sejak masih SD. Tari kecil mengidolakan Julius Sitanggang, penyanyi cilik di era 1980-an. Ia sangat suka dengan suara merdu pelantun lagu ‘Maria’ itu. Saat remaja, Tari bergabung dalam kelompok musik keroncong. Ia menjadi vokalis di kelompok musik keroncong tersebut. Dari sana ia belajar dan mengasah kemampuan vokalnya.

Tahun 2004, ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai buruh pabrik garmen. Saat menjadi buruh garmen inilah ia melihat secara langsung ketidakadilan. Suatu hari, ketika ia sedang bekerja sebuah kejadian miris terjadi. Ia melihat teman buruhnya digebuki dan dimaki-maki oleh mandor. Ia sedih, karena teman buruhnya ini digebuki gara-gara hanya sanggup menyelesaikan 30 jahitan. Padahal perusahaan menargetkan setiap pekerja harus menghasilkan minimal 50 jahitan per-jam.

Kejadian itu membekas kuat di memorinya. Saat itu ia belum mengenal dunia pergerakan dan tergabung dalam serikat buruh. Ia hanya bisa sedih dan marah atas kejadian yang dilihatnya.

Tari Adinda (kedua dari kanan) bersama teman-temannya buruh garmen

Berkenalan dengan Pergerakan

Setelah ia mengenal pergerakan, kejadian di pabrik ia abadikan dalam sebuah lagu yang berjudul “Buruh Kontrak”. Lagu yang menggambarkan nasib seorang buruh kontrak yang mirip dengan bola, bisa ditendang kesana-kemari.

Awalnya, Tari tidak berminat bergabung dengan serikat buruh. Hingga suatu hari seorang aktivis buruh perempuan mengajaknya mengikuti rapat akbar yang menampilkan pementasan musik. Sampai di lokasi rapat akbar, konser musik yang ditunggu-tunggunya tak juga mulai. Ia mulai agak kecewa. Namun di penghujung acara, sekelompok pemuda tampil dengan lagu-lagu berbau kritik dan protes. Tari mulai berkenalan dengan seniman dari Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER).

Tari mulai terlibat dan berkunjung ke sanggar-sanggar yang dibangun JAKER. Ia kemudian bergabung dengan serikat buruh, yaitu Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI). Sejak saat itu, ia mulai terlibat dalam berbagai kerja pengorganisiran, demonstrasi dan aksi massa. Tari juga aktif sebagai kader Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Sejak itu, saya menjadi tahu kalau sistem yang menindas kaum buruh itu bernama kapitalisme,” kata Tari Adinda.

Persentuhan dengan gerakan membuat Tari mengenal banyak grup musik perlawanan seperti Red Flag dan Kepal-SPI. Satu peristiwa yang paling dikenangnya adalah menyanyi di tengah-tengah rally aksi buruh kawasan di Cakung, Jakarta. “Saya merasa mimpi saya terwujud hari itu. Menyanyi di tengah banyak orang yang sedang berjuang.”

Pencipta Lagu Perjuangan

Di usianya yang singkat, Tari sudah mencipta 100-an lagu. 35 diantaranya adalah lagu-lagu kritik sosial. Melalui lagunya, ia menyampaikan apresiasi tulus terhadap perjuangan kawan-kawannya, aktivis buruh yang rata-rata perempuan. Apresiasi itu ditulis dalam lagu berjudul “Perempuan Tangguh” yang diciptanya khusus untuk para aktivis buruh perempuan.

Tak hanya bicara tentang nasib buruh dan kondisi sosial di sekitarnya. Tari juga bicara tentang ketidakadilan dan penindasan yang terjadi meluas di seluruh pelosok negeri. Salah satunya, ia menulis lagu berjudul “Papua oh Papua”.

Demikianlah sosok Tari Adinda. Kita semua merindukan sosoknya yang bersahaja. Beristirahatlah dengan damai dan tenang di alam keabadian. Kami akan terus mengenang dan melanjutkan perjuanganmu.

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas

Hari ini tumbuh dari masamu

Tangan kami yang meneruskan

Kerja agung jauh hidupmu

Poetry: Henriette Roland Holst / Song: AJ Susmana / Music: Tari Adinda – Visit on https://www.youtube.com/channel/UCRYsaiN22Yfo8WhGWnr8LAg

Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai