28 September 2022

Feminisme Menyelamatkan Kehidupan, Maskulinitas Membunuh Kehidupan Setiap Harinya

0Shares

Sampai kapan kita akan menyadari fakta ini? Sejak Kongres Wanita Indonesia pertama di tahun 1920-an, gerakan perempuan telah menyumbangkan banyak hal kepada kehidupan di negeri kita yang bernama Indonesia ini.

Siapa yang pergi mengajarkan baca-tulis, memberantas buta huruf dari kampung ke kampung hingga pelosok terpencil? Siapa yang mendirikan Taman Kanak-kanak? Siapa yang mengajarkan para ibu rumah tangga untuk menanam tanaman dapur hingga tanaman obat di rumah-rumah mereka? Siapa yang mengajarkan cara membuat dan memperbaiki benda-benda di rumah sendiri secara DIY (do it yourself)?

Siapa yang menggiatkan literasi? Memberi pendidikan dan penyadaran pada hak-hak reproduksi perempuan? Menentang poligami? Memperjuangkan dihapusnya buruh anak dan kawin paksa? Memperjuangkan reforma agraria? Hak politik? Dicanangkannya Hari Ibu melalui keputusan Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung pada 22 Desember 1938?

Setelah 1965, terjadi domestifikasi gerakan perempuan oleh Orde Baru. Dharma Wanita dan PKK misalnya adalah merupakan organisasi yang lahir dari Ibuisme Negara. Suatu paham yang menempatkan kaum perempuan sebagai pekerja domestik tanpa dibayar demi mendukung kapitalisme negara.

Paham ini merupakan kontruksi sosial yang feodalistik dan paternalistik yang diciptakan selama pemerintahan Orde Baru di Indonesia. Negara dianggap dapat mengontrol masyarakat selama dapat mengontrol perempuan. Kontrol atas kaum perempuan dilakukan dengan upaya mendefinisikan peran ideal perempuan sebagai ibu dan istri. Teori ini diperkenalkan oleh Julia Suryakusuma.

Gerakan perempuan progresif sudah lama hadir di Indonesia, isu-isu yang diperjuangkan bukan hanya perkara ranah domestik belaka. Ekonomi, budaya, sosial, politik, kesehatan, pendidikan baik itu nasional maupun internasional.

Para perempuan aktif berkesenian, berkebudayaan, turut juga dalam giat pertanian, kepengajaran, hak memilih dan dipilih, keadilan di dunia kerja, hak menyusui, bersuara lantang menentang imperialisme dan pada gerakan hari ini kita berjuang habis-habisan untuk pengesahan RUU TPKS sebagai payung hukum atas tindak kekerasan seksual.

Feminisme merupakan juru selamat bagi kehidupan. Sedangkan maskulinitas, budaya patriarki merupakan ancaman besar bagi kehidupan. Sepanjang tahun 2021 saja tercatat 10.247 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 15,2% diantaranya merupakan kekerasan seksual.

Berapa kali kita peroleh berita-berita di media massa terkait ini? Kasus pemerkosaan oleh aparat keamanan, pemerkosaan pada anak tiri di Magelang, pemerkosaan oleh bos warteg di Bekasi, pemerkosaan anak di Kediri, pemerkosaan oleh pimpinan Ponpes di Bandung, pemerkosaan brutal di Majalengka, pemerkosaan di fly-over UI, pemerkosaan pada anak tunagrahita di Bogor, pemerkosaan oleh paman dan sepupu di Pangandaran dan banyak pula diantaranya yang berakhir dengan kematian seperti di Maluku, di Manado, di Riau, di Halmahera dan bisa saja banyak kasus lainnya yang luput dari pemberitaan atau tidak dilaporkan.

Betapa banyaknya kasus telah menguras hingga kering energi kita baik itu secara mental, pikiran dan tenaga. Pun, satu korban jiwa saja sudah teramat banyak. Selain itu, berharap pada solidaritas perempuan semata bukanlah sebuah solusi yang dapat sepenuhnya kita harapkan. Justru dibutuhkan lebih banyak lagi gerakan solidaritas dari kelompok laki-laki itu sendiri untuk mengeliminir budaya patriarki dalam keseharian kita.

Tentunya kita semua memahami akar masalah dari patriarkisme adalah para laki-laki itu sendiri. Memang benar isu ini adalah tanggung jawab kita bersama di dalam masyarakat akan tetapi selain tanggung jawab, pun harus bisa dipertanggung gugatkan karena terjadinya kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan berawal dari para laki-laki yang tumbuh besar oleh konstruksi keluarga dan sosial yang patriarkis.

Kita berhak menuntut supaya dilakukan revolusi pada bagaimana kelompok laki-laki memandang hal ini. Gerakan feminisme harus semakin melibatkan dan memperbanyak timbulnya para laki-laki berperspektif feminis. Laki-laki diedukasi oleh sesama laki-laki, kesadaran di kalangan laki-laki yang harus digenjot.

Dimulai dari kesadaran kerja-kerja domestik seperti berbenah, bersih-bersih, mencuci, memasak dan menyetrika misalnya yang adalah kemampuan dasar wajib setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian tugas-tugas kerja di rumah yang berkeadilan tanpa mengistimewakan anak lelaki, begitu pula pada pembagian tugas suami-istri tanpa ada sosok yang di-raja-kan di dalam rumah.

Menghentikan bahkan menghapus dan juga mengkritisi perkataan dan atau candaan-candaan seksis, memastikan adanya ruang-ruang aman bagi perempuan, saling berbagi perihal pendidikan seksual dan pemahaman akan kesetaraan gender serta banyak hal lainnya yang dapat dilakukan dalam menyokong kerja-kerja feminisme lintas gender.

Solusi bagi terciptanya rasa aman atau menjadikan Indonesia negara yang aman bagi perempuan adalah dengan mengubah konstruksi sosial masyarakat dari sebuah masyarakat yang merupakan manifestasi dari ideologi patriarki menjadi masyarakat yang berperspektif kesetaraan gender.

Mila Nabilah, Aktivis Suluh Perempuan Sukabumi

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai