28 September 2022

Resensi: Kumpulan Cerpen Memburu Muhammad

0Shares

Membaca buku berjudul Memburu Muhammad membuat ingatan kita melayang pada kisah Seribu Satu Malam. Kumpulan kisah yang sangat beragam mulai dari kisah percintaan, tragedi, komedi, syair, ejekan, serta beragam bentuk erotika. Beberapa kisahnya telah menjadi dongeng masa kecilku, seperti cerita Aladdin yang begitu melegenda.

Memburu Muhammad adalah kumpulan cerpen (kumcer) kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani. Buku pertamanya berjudul Bukan Perawan Maria telah mengembara di sejumlah kota di Italia, Inggris, dan Jerman. Saat ini Feby sedang merancang kumpulan cerpen trilogi Islamisme Magis yang ketiga.

Tulisan Feby Indirani dalam kumcer Memburu Muhammad ini cukup menggelitik dan kritis. Ada 19 cerita dalam kumcer Memburu Muhammad ini. Cerpen-cerpen yang disajikan dalam Memburu Muhammad terilhami dari cerita hikmah dan sufi yang pernah dibaca dan didengar Feby dari para penceramah di masjid dekat rumahnya. Feby mengemasnya kembali menurut versi kekinian dan sudut pandang masyarakat urban.

Pemahaman keagamaan Feby yang kritis turut andil besar dalam setiap cerita yang disuguhkan. Misalnya, dalam kisah Rahasia Rumah Kami, ia menceritakan pergolakan batin Annisa. Setiap hari, Annisa menyaksikan ayah ibunya yang tengah asyik menyantap potongan tubuh manusia. Makan bersama sambil menggunjing si A atau si B. Annisa juga mencium bau anyir dari mulut ayah ibunya, dan banyak orang yang ia temui di sekolah, pasar dan mall. Melihat perilaku ganjil ayah ibunya selalu membuat perut Annisa seperti diaduk-aduk, mual dan muntah.

Membaca paragrap pertama dari cerpen pertama telah membuat mataku terbelalak. Anehnya, ada hasrat untuk melanjutkan cerita karena penasaran. Tentu, aku membaca sambil bergidik. Lamat-lamat ingatanku terantuk pada sebuat ayat:

Artinya: “Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Oh, cerita ini pasti berangkat dari ayat ini, kataku dalam hati. Bisa aja nih penulisnya, selorohku sambil senyum-senyum. Horor juga ya ilustrasinya. Begitulah, cara Feby menyuguhkan cerita sekaligus menyusupkan pandangan kritisnya.

Ia tak hanya kritis tapi juga mempertanyakan cara beragama orang-orang di sekitarnya. Cara beragama yang menurutnya mewakili pandangan Islamisme magis. Beragama yang lebih mengedepankan keyakinan dan mitos tanpa penalaran kritis. Mereka beragama karena begitulah keluarganya menganut agama sejak turun temurun. Mau menjalankan agama hanya karena adanya janji surga bagi pemeluknya dan ancaman neraka bagi yang tidak menjalankan.

Soal janji adanya surga dan neraka, Feby menulis 2 (dua) cerpen: Hidup Kiai Zahid dan Perempuan yang Ingin Membakar Surga. Kyai Zahid adalah seorang ustadz yang hidup kembali setelah dinyatakan meninggal selama 7 jam. Kyai Zahid membuat kehebohan seisi pondok pesantren (Ponpes). Ia mengatakan bahwa neraka itu tak ada. Cerpen lainnya, Robia dalam Hikayat Kota diadaptasi dari kisah Rabiah Al-Adawiyah (713-801 M). Suatu siang, Rabiah menenteng air dan memegangi obor di tangannya melintasi Kota Bagdad. Orang-orang bertanya dan ia mengatakan hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air, agar orang tidak lagi mengharapkan surga dan menakutkan neraka dalam ibadahnya.

Cerita-cerita lain yang diangkat dalam buku ini adalah aneka rupa tema seperti suara alam kematian yang menggemparkan kampung di Jakarta, dilema bakso terenak di dunia, pelukis yang ingin melukis Tuhan, malaikat yang mencintai dengan pedih, negeri Tuantu yang dilanda mitos dan pandemi.

Salah satu cerita yang kemudian dijadikan judul buku ‘Memburu Muhammad’. Mengisahkan seseorang bernama Abu Jahal yang tiba-tiba muncul di sebuah kantor kelurahan. Ia mencari orang bernama Muhammad. Abu Jahal bingung karena tak menemukan Muhammad musuh lamanya. Ia justru menemukan banyak orang Indonesia bernama Muhammad. Ada Muhammad si tukang sayur, sastrawan, bahkan koruptor.

Feby Indirani adalah seorang penulis buku sekaligus sastrawan. Karyanya yang berjudul Bukan Perawan Maria telah mendapat apresiasi publik internasional karena kritis terhadap Islam, namun penuh humor sekaligus welas asih.

Bertepatan dengan peluncuran bukunya, Feby menginisiasi Relax, It’s Just Religion, suatu gerakan yang mengkampanyekan kemerdekaan beragama dan berkeyakinan melalui sastra dan seni. Para seniman yang berbasis di Indonesia dan Jerman berkolaborasi menafsir cerita-cerita dalam Bukan Perawan Maria dalam berbagai medium seperti tari, film pendek, seni instalasi, komposisi musik dan teater. Bukunya kemudian diterbitkan dalam bahasa Italia pada 2019 dan mendapat pujian dari kritikus sastra, media dan pembaca.

Posisi Feby Indirani mungkin bisa disejajarkan sastrawan kontemporer Ayu Utami. Novel-novel Ayu dinilai fenomenal, bukan hanya karena ia mendobrak tabu mengenai seksualitas. Ayu Utami juga mempertanyakan agama dan tradisi agama sebagai spritiualisme kritis. Bedanya, Feby lahir dari keluarga beragama Islam, sedangkan Ayu Utami lahir dari latar belakang keluarga Katolik.

Membaca buku Feby, bagi Goenawan Mohamad adalah seperti bergerak antara yang familier dan yang sama sekali bukan. Cerita-cerita Feby, menurutnya mencerminkan kehidupan, kepercayaan, kecemasan, dan kekonyolan, orang di lapisan yang bukan elite di masyarakat Indonesia. Sedangkan menurut Musdah Mulia, buku ini dengan sangat indah mengecam cara beragama yang tidak rahmatan lil alamin. Cara beragama yang tidak membuat manusia bahagia dan saling membahagiakan.

Buku kumpulan cerpen Memburu Muhammad karya Feby Indirani ini diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka) Yogyakarta pada Oktober 2020. Bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku Memburu Muhammad bisa membelinya di Mizan Online Bookstore www.mizanstore.com, Mizan Marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Blibli, JD.ID, Ilotte), dan Mizanstore.

Siti Rubaidah

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai