2 Desember 2022

Napak Tilas: Sejarah, Gerakan, Budaya dan Pemberdayaan

0Shares

Yogyakarta – Suluh Perempuan baru saja selesai menutup agenda Dewan Nasional yang diselenggarakan selama dua hari di Griya Swasti yang beralamat di Jl. Puntodewo DK VII No 1 Jomegatan RT 11, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta (2-3/7/2022).

Pada tanggal 3 Juli 2022, saat perjalanan pulang kami memiliki dua agenda tambahan yaitu mengunjungi Candi Borobudur dan mampir ke Rumah Ketela di Borobudur, Magelang.

Foto bersama di bagian belakang Candi Borobudur

Rumah Ketela Borobudur

Rumah Ketela ini dikelola oleh Ibu Maidar atau yang akrab kami sebut Ibu Ida sejak tahun 2014. Untuk berkunjung ke sini, aksesnya relatif mudah karena letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur.

“Kalau dari Borobudur, tinggal naik VW saja terus bilang mau ke Rumah Ketela. Di sini kan basecamp-nya mereka,” tutur Bu Ida kepada kami sambil menjelaskan bahwa VW tour Borobudur itu adalah bagian dari mitra Rumah Ketela.

Jarak dari Borobudur ke Rumah Ketela kurang lebih adalah 200 meter. Terletak di Dusun Ngaran 2 Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jam operasional Rumah Ketela setiap harinya adalah dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore.

Produk-produk yang dijual di sini merupakan produk olahan makanan berbahan baku lokal sebagaimana tertera di standing banner di sana. Di sana dijual slondok, criping, egg roll, cake tape, cake pisang, kue sus, brownies, gethuk, risoles, lumpia, singkong keju dan aneka keripik yang umumnya berbahan dasar ketela, dan tersedia pula soto rempah.

Rombongan Suluh Perempuan bertandang ke Rumah Ketela

Gluten Free

“Ini gluten free lho” ucap Mbak Erna di sela-sela perbincangan kami bersama Bu Ida dan diiyakan oleh beliau, pun beliau memberitahu bahwa tempat ini juga menjual tepung ketelanya.

Bebas gluten artinya tidak mengandung protein gluten yang biasanya diperuntukkan bagi penderita celiac atau memiliki intoleransi gluten.

Pemberdayaan

Kami juga diajak melihat-lihat tempat di mana kami bisa menginap di sana. Sambil berkeliling Mbak Rub berbicara tentang pelatihan pembuatan produk-produk berbahan dasar ketela yang bisa suatu waktu nanti kami adakan untuk pemberdayaan kawan-kawan gerakan perempuan ini dengan Bu Ida sebagai pematerinya.

Ternyata beliau juga merupakan rekanan dari dinas-dinas di Kabupaten Magelang. Tempat ini juga kerap diadakan pelatihan untuk pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan Disperinnaker, Disdagkom UKM, dan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang misalnya.

Pak Tomo

Almarhum Ariswara Sutomo atau Pak Tomo, suami dari Ibu Ida adalah seorang budayawan, pegiat tani, dan juga aktivis pada jamannya yang juga tergabung di dalam PRD.

Ketika tiba di Rumah Ketela, Ketua Umum kami di Suluh Perempuan, Mbak Rub mengatakan bahwa Pak Tomo dan Bu Ida ini merupakan orangtuanya kawan-kawan pergerakan. Karenanya perlu bagi kami-kami ini untuk turut mengenal dan melakukan napak tilas ini.

“Pak Tomo ini salah satu aktivis Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974,” tutur Mbak Rub ketika kami berkeliling melihat-lihat galeri lukisan yang dipenuhi lukisan-lukisan karya Mas Nugroho yang merupakan seorang pelukis dan juga membuka kelas privat di sana.

Sanggar Tari Tiwikromo, Hotel Rajasa dan Widji Thukul

Dari Rumah Ketela, selanjutnya kami beranjak ke Hotel Rajasa. Hotel milik keluarga ini terletak tak jauh dari tempat yang kami kunjungi sebelumnya. Beralamat lengkap di Jl. Badrawati, Dusun Ngaran II No.02, RT.02/RW.06, Dusun XVIII, Borobudur, Kec. Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Suasana malam di pendopo Hotel Rajasa yang dulu digunakan sebagai Sanggar Tari Tiwikromo

Sekali lagi, ini merupakan napak tilas sejarah terlebih bagi kami yang juga tumbuh dari asuhan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan tempat ini memiliki ikatan yang erat apalagi bila dihubungkan dengan peristiwa hilangnya Widji Thukul di masa Orde Baru yang beberapa kali menjadikan tempat ini sebagai tempat persembunyian.

Tempat ini juga sering kali dijadikan tempat untuk kawan-kawan PRD melakukan pendidikan-pendidikan politik, bahkan kawan-kawan pun kerap diberikan sangu (bekal).

Hotel ini dulunya merupakan Sanggar Tari Tiwikromo sekaligus rumah dari keluarga Pak Tomo dan dijadikan Hotel Rajasa. Kami di sana bertemu dengan Mas Ai anak dari Pak Tomo. Kami memperkenalkan diri bahwa kami dari organisasi Suluh Perempuan dan ingin melakukan napak tilas Widji Thukul dengan mendengar kisah tentang beliau serta hubungannya dengan tempat ini.

Kami ditunjukkan pada sebuah ruangan di mana biasanya beliau menginap setiap kali datang ke sana lalu kami pun berbincang santai di sana.

“Aku sedikit lupa-lupa inget soal persisnya gimana kejadian waktu itu,” begitu ucapnya pada pembukaan obrolan kami.

Mas Ai kala itu masih kecil, tapi ia ingat sosok Widji Thukul yang beberapa kali datang ke sana.

Pada saat itu, bangunan Hotel Rajasa belum seperti sekarang. Halaman di depan hotel yang sekarang menjadi taman dan ayunan dulunya merupakan kolam ikan. Kamar yang ditempati Widji Thukul dulunya adalah berupa sebuah gubuk untuk menjaga kolam ikan.

Terakhir kali aktivis pendiri Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) itu menginap di sana adalah sekitar Maret 1997 hingga kemudian hilang pasca peristiwa Mei 1998 dan tidak diketahui keberadaan pastinya hingga hari ini.

Jika ingin merasakan suasana langsung tempat di mana Widji Thukul biasa menginap, datang saja ke Hotel Rajasa di kamar nomor 8 yang letaknya tepat berada di paling pojok sebelah kiri. (*)

Penulis: Mila Nabilah

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai