3 Desember 2022

Pejuang Ekonomi di Kaki Borobudur

0Shares

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Bantul, Yogyakarta, kami tiba di Kawasan Wisata Candi Borobudur yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Candi Borobudur adalah sebuah bangunan tua yang pernah dianggap hilang dan ditelantarkan selama berabad yang lalu. Menurut catatan sejarah, pada abad 10, Candi Borobudur pernah ditinggalkan seiring dengan dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok. Candi Borobudur dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

Candi Borobudur terdiri dari 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma) dan 2.672 panel relief serta 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar.

Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, Puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Sebagai perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Candi Borobudur bukan hanya milik orang Buddha. Bangunan tua dan kuno ini telah menjadi berkah bagi orang-orang di sekitarnya. Nah, ini adalah serba-serbi catatan perjalanan kami tentang pejuang ekonomi di kaki Borobudur. Mereka adalah para pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan bahkan pemulung yang merupakan warga sekitar Candi Borobudur.

Para Pejuang Ekonomi di Kaki Borobudur

Begitu menginjakkan kaki di area parkir, kami segera diserbu oleh para pedagang asongan. Beragam barang ditawarkan. Dari mulai cindera mata, topi hingga makanan. Setengah terganggu, kami menolak tawaran para pedagang tersebut dan segera melihat sekeliling mencari jalan masuk ke lokasi wisata tujuan utama kami, Candi Borobudur.

Kami segera meninggalkan areal parkir yang dipenuhi kendaraan para pengunjung Candi Borobudur. Sementara itu para pedagang asongan telah beralih menawarkan dagangan ke pengunjung lain. Kami berjalan menuju pintu masuk melewati deretan kios, semacam art market di Kuta, Bali. Deretan kios ini memajang beraneka barang yang hampir sama seperti kaos dan berbagai hasil kerajinan yang dapat dijadikan cindera mata.

Mendekati pintu masuk, kios berganti dengan deretan warung makanan. Sambil menunggu antrian, pengunjung dapat beristirahat terlebih dahulu di warung-warung tersebut. Disini pun kami tak luput dari pedagang asongan yang menawarkan jasa sewa payung, minuman dalam kemasan botol. kacamata dan topi. Saat di areal parkir kami sudah diperingatkan tentang larangan membawa makanan masuk ke kawasan utama. Di areal candi tentu saja tidak ada pedagang atau kios makanan dan perjalanan hingga masuk ke pelataran Candi Borobudur akan menempuh jarak yang cukup panjang.

Siang itu sinar matahari terasa menyengat. Para pengunjung yang tidak menyiapkan pelindung kepala dapat menyewa payung atau membeli topi dari para pedagang asongan, Dan tentunya membekali diri dengan air minum yang cukup. Beberapa pedagang asongan juga menawarkan foto dan denah lokasi. Denah ini berguna untuk memudahkan menelusuri lorong demi lorong Candi yang terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar.

Dari pintu terdepan, sebelum pintu utama loket yang menjual tiket masuk, hingga ke dalam pelataran Candi dapat ditempuh dengan jalan kaki atau menggunakan kereta mini. Di pintu masuk, pengunjung mendapat penjelasan bahwa saat ini Candi masih dalam tahap perbaikan sehingga pengunjung hanya dapat masuk hingga pelataran luar saja.  Rombongan kami memutuskan untuk tetap masuk walaupun tidak dapat melihat secara langsung 72 stupa berlubang dan ribuan panel relief serta stupa utama dan terbesar.

Aku memisahkan diri dari rombongan dan memilih untuk tidak ikut masuk. Lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kios makanan, Seorang Ibu menawarkan dagangannya, ku longok isi keranjangnya, nagasari yang masih hangat. Si Ibu berkata bahwa ia membuat sendiri kue nagasari itu. Tidak banyak barang dagangan yang dibawanya, dalam sebuah tenggok yang bisa dibawanya berpindah tempat.

Seorang ibu lain menawarkan bakpia. Aku lantas duduk di sebelah mereka dan bercakap-cakap sebentar seputar pekerjaannya. Kedua ibu ini sudah melakoni pekerjaannya selama belasan tahun. Keduanya berasal dari desa sekitar dan sudah berdagang sejak masa muda.

Percakapan terhenti dan kedua ibu ini membawa keranjangnya mendekati pengunjung yang lain. Aku beranjak masuk dengan melintasi sebuah pintu berpagar rendah, ke sebuah taman yang masih dalam areal luar namun terpisah dari deretan kios dan warung makanan. Di taman ada beberapa bangku panjang yang disediakan sebelum memasuki pintu loket. Tampak seorang pekerja taman sedang sibuk membersihkan dan mengumpulkan daum-daun yang berguguran di tanah.

Dari situ aku lantas berjalan ke arah pintu luar menuju areal parkir. Di belakang kendaraan pengunjung yang berjajar, ada penjual bakso dan minuman sachet yang manempatkan dagangannya di bawah pohon. Disitu terdapat semacam lingkaran yang dapat digunakan untuk duduk.

Dua orang ibu mendatangiku dan menawarkan dagangannya berupa makanan dalam kotak, dibawa dengan menggunakan kantung plastik. Mungkin ini bisa diistilahkan sebagai jemput bola. Aku duduk diantara keduanya dan mengajak bercakap-cakap. Sama seperti dua ibu sebelumnya, Bu Fatimah juga sudah berjualan sejak masa muda, bahkan jauh sebelumnya, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Seorang lagi, Bu Istiarti berasal dari Yogya. Ia sudah lama menetap di Magelang dan memilih tetap tinggal disini sambil bekerja memulung sampah botol kemasan. Bu Istiarti pernah berjualan namun sekarang Ia lebih memilih mengambil sampah botol kemasan. Hasil pulungannya dimasukkan dalam sebuah karung besar dan diletakkan dibawah pohon, tidak jauh dari tempat kami bercakap-cakap.

Memang di sekitar areal parkir banyak terdapat tumpukan sampah dari pengunjung. Terbanyak adalah kotak makan dan botol kemasan. Pengelola lokasi wisata Borobudur bekerjasama dengan beberapa BUMN telah menyediakan tempat sampah untuk menjaga kebersihan dan pemeliharaan. Tumpukan sampah ini justru menjadi berkah buat pemulung seperti Bu Istiarti.

Saat kami bercakap-cakap, datang seorang ibu lainnya dengan dagangan yang berbeda, Bu Wagiyah Namanya. Bu Wagiyah ikut nimbrung sebentar lantas pergi menawarkan dagangan ke tempat lain.

Para ibu ini menggunakan hasil berjualan asongan dan memulung untuk menyekolahkan anak dan menutup kebutuhan sehari-hari. Bahkan salah seorang dari ibu-ibu ini, anaknya baru saja diterima di sebuah universitas di Yogyakarta. Luar biasa bukan?

Bincang bersama pedagang asongan dan pemulung Candi Borobudur

Hebatnya lagi, para ibu ini tetap gembira, gigih dan tidak malu dengan pekerjaannya. Menurut pengakuan mereka, ada saat pengunjung sepi, sehingga beralih mengerjakan sawah, walau hanya sepetak kecil. Semuanya dikerjakan tanpa mengeluh. Tentu saja tidak ada yang mulus, penghasilan sehari tidak selalu bisa mengejar kenaikan harga kebutuhan pokok. Tapi setiap kesulitan bukan menjadi alasan untuk mengeluh dan berhenti bekerja.

Hari beranjak sore, sebentar lagi ibu-ibu ini pulang ke rumahnya masing-masing. Biasanya, untuk pulang-pergi ke Candi Borobudur mereka menggunakan kendaraan umum. Setiap hari minimal menghabiskan sekitar 20.000 rupiah. Ditambah pengeluaran untuk makan.

Aku jadi teringat pada buruh-buruh gendong di pasar Beringharjo dan Giwangan yang dulu kerap kudatangi. Pengeluarannya hampir sama. Dengan keuletan yang sama, menjalani pekerjaan sebagai pekerja informal.

Belum lama ini tersiar kabar bahwa Pemerintah berniat menaikkan harga tiket masuk Candi Borobudur sebesar 750.000 rupiah. Harga yang cukup mahal untuk kantong masyarakat kebanyakan. Terdapat pro kontra atas kenaikan harga tersebut. Ditilik dari nilai kebesaran bangunan suci ini, harga tiket tersebut masih belum sebanding dengan biaya yang dikeluarkan sejak bangunan ini ditemukan kembali dan mengalami beberapa kali pemugaran.

Sementara dari sisi pengunjung, harga tiket menjadi pertimbangan sendiri. Mereka datang ke Candi Borobudur dengan tujuan beragam. Ada yang ingin menyaksikan kebesaran sejarah dengan mata kepala sendiri, mencari spot foto yang instagramable, melakukan penelitian dan masih banyak lagi.

Bagi masyarakat lokal, pekerja informal, pelaku wisata dan UMKM, Kawasan Wisata Candi Borobudur merupakan lahan untuk mengais rejeki. Pengunjung yang diharapkan menjadi konsumen akan terlokalisir dengan mereka yang memiliki kemampuan untuk membeli tiket. Pertanyaannya adalah, apakah pengunjung yang sama akan membeli dagangan mereka, seperti bakso, nagasari atau makanan kemasan lainnya?

Apapun tujuan kita berkunjung ke Candi Borobudur, hendaknya tetap menjaga keagungan bangunan suci tersebut dengan tidak merusak, mengotori dan terlebih mengabaikan sumber daya yang berada di sekitarnya. Mari menelusuri kebesaran leluhur kita dan menjadikannya warisan yang kokoh hingga berabad yang akan datang. Ayo ke Candi Borobudur!

Penulis: Ernawati

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai