28 September 2022

Sekolah Tanpa Rapor, Mungkinkah?

"Proses pencarian pengetahuan dalam sekolah tanpa rapor berlangsung terus menerus, mengalami gerak perubahan dan perkembangan."
0Shares

Rapor identik dengan sekolah dan demikian sebaliknya. Kata rapor diserap dari kata bahasa Belanda rapport, dieja menjadi rapor. Menurut KBBI berarti laporan resmi (kepada yang wajib menerimanya). Istilah rapor juga kerap digunakan untuk memberi penilaian atau prestasi pada jabatan dalam masyarakat atau standar keberhasilan dalam sebuah instansi, pejabat atau wilayah dalam struktur pemerintahan.

Sedangkan, sekolah adalah cara untuk memperoleh pendidikan, sebuah tempat yang menawarkan pendidikan. Dengan demkian, sekolah mengacu pada tempat pendidikan. Di sisi lain, pendidikan mengacu pada belajar atau mengajar. Pendidikan adalah proses belajar atau proses mengajar.

Terlepas dari makna sekolah dan pendidikan, manusia sebagai makhluk hidup bergerak dan digerakkan oleh pengetahuan, proses pencarian pengetahuan dan menerapkan pengetahuan itu menjadi unsur penting dalam menjalani kehidupannya.

Sebagai makhluk sosial pengetahuan ini juga menentukan nilai sosial dalam hubungannya dengan mahluk sosial lainnya serta lingkungan yang menyertainya. Pengetahuan ini pula yang kemudian membentuk nilai sosial dan standar sosial dalam kehidupan bersama, secara kolektif sebagai masyarakat dan negara.

Nilai sosial mempengaruhi standar sosial dan sebaliknya untuk selanjutnya menentukan tingkatan status sosial dalam kolektif masyarakat dan negara. Nilai, standar maupun tingkatan status sosial dalam prosesnya justru mengaburkan makna pencarian pengetahuan untuk menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. Sehingga memunculkan istilah orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Istilah ini lantas membedakan status sosial seseorang terutama dalam mencari penghasilan untuk penghidupannya.

Pengetahuan terus berkembang hingga manusia mengenal teknologi seiring dengan pelembagaan proses pencarian pengetahuan tersebut. Rapor menjadi bukti penting bagi ukuran standar keberhasilan dalam proses mendapatkan pengetahuan. Sekolah tanpa rapor atau ijasah tidak diakui sebagai standar keberhasilan dalam memperoleh pengetahuan. Pengakuan yang berubah menjadi kekhawatiran ketika seseorang memilih untuk tidak memasuki pendidikan formal.

Bagaimana masa depannya kalau tidak sekolah? Kekhawatiran ini menjadi acuan bagi program wajib belajar 9 tahun dalam pendidikan formal. Di masa pandemi, program ini disesuaikan dengan cara belajar online. Kini setelah berangsur pulih, kurikulum merdeka menjadi tawaran untuk merespon masalah pendidikan. Namun tetap dengan pembuktian berupa rapor online.

Tulisan ini adalah mencoba menyoal sekolah tanpa rapor berdasarkan pengalaman pribadi. Penulis mempunyai tiga orang anak (Ocha, Geno dan Raisa) yang memilih jalurnya sendiri untuk memperoleh pengetahuan. Awalnya mereka bertiga memperolah pendidikan formal, namun kemudian mereka memutuskan untuk keluar dari jalur pendidikan formal.

Hingga pada titik tertentu, salah satunya mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan pendidikan formal karena menyadari standar baku keberadaan ijazah untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan. kedua anak lainnya masih dalam jalur pendidikan informal, memperoleh pengetahuan secara mandiri baik di rumah maupun di luar rumah.

Dalam prosesnya, ketiga anak tersebut mendapat pengetahuan dan saling melengkapi. Kemajuan teknologi memungkinkan ketiganya memperoleh pengetahuan dari internet. Sebagai makhluk sosial, pengetahuan diperoleh dari interaksinya dalam kolektif.

Ukuran keberhasilan ketiganya beragam, bukan hanya berdasarkan nilai dalam bentuk angka atau indeks prestasi. Bagi anak pertama yang kembali menempuh jalur pendidikan formal, nilai akademisnya ditentukan oleh IP namun secara umum ketiganya memiliki ukuran keberhasilan dari interaksinya sebagai makhluk sosial.

Ocha sebagai anak pertama kuliah di jurusan seni namun bekerja diluar jurusan akademiknya dan memperoleh pengetahuan mengenai permainan mata uang, memasak dan mengelola bisnis. Sementara Geno anak kedua, melatih diri dalam berbagai bidang olahraga, seni tari, penggunaan alat rekam dan seni peran. Raisa, anak ketiga mengembangkan bakat dalam seni lukis, patung dan kemampuan untuk merekam dalam ingatannya.

Bagi kami, nilai keberhasilan sekolah/pendidikan akan tampak dalam caranya mengemukakan pandangan saat berdiskusi serta ketrampilan.

Kegemaran dan kebutuhan juga menentukan pilihan. Misalnya seperti memasak, mengorganisir diri dan membagi tugas. Bagi Ocha, pengetahuan memasak diperoleh dari praktek di rumah dan di tempat kerja. Mencari dan melakukan berulang kali hingga mengetahui komposisi bahan yang tepat serta teknik memasak berbagai olahan bahan makanan. Ketepatan dalam penggunaan alat dan waktu yang dibutuhkan dalam pengolahan hingga penyajian yang dapat mengundang selera.

Sejak kecil, Geno sudah melatih fisik dengan mengikuti les balet, melakukan riset mengenai tari Salsa dan Gambyong hingga menggemari tari modern. Di samping balet juga mempelajari alat musik biola untuk membantunya mempelajari nada dan ketukan. Mengolah fisik dalam bidang olahraga panjat dinding, berkuda, panahan, berenang, surfing dan diving.

Seiring pertambahan pengetahuan, minatnya berkembang pada seni fotografi dan media rekam visual. Ketrampilan ini membawanya pada kemampuan untuk merekam sendiri gerakan tari yang dilakukannya. Kemampuan merekam ditunjukkan dalam menghitung kecepatan, pencahayaan, sudut pengambilan gambar dan gerak. Sehingga mampu melakukan pengambilan gambar, editing dan finishing. Kebutuhan kalori dipenuhi dengan ketrampilan mengolah bahan makanan sendiri.

Bagi Raisa, kebutuhannya berbeda dengan kedua anak lainnya. Kegemarannya pada seni lukis dan patung membuatnya tekun melakukan pengerjaan hingga berjam-jam di tempat. Kemampuannya merekam dalam ingatan berguna bagi kakaknya untuk melakukan gerak saat menari, pun berbagai informasi mengenai grup musik yang digemari dan berita tentang berbagai peristiwa.

Pengetahuan sosial, matematika dan alam tercermin saat membicarakan mengenai kebutuhan kalori tubuh sebagai atlit dan penari, menerapkan komposisi warna, komposisi bentuk, penghitungan, musik latar hingga komposisi ruang.

Pendapat mereka dalam interaksi sosial diproyeksikan dalam cara pandang mengenai gender, kesetaraan dan keadilan misalnya dalam hal hubungan antar sesama, pernikahan, cinta, seksualitas, anak, pendidikan dan kritik pada institusi negara.

Sikap kritis mereka terungkap pada pernyataan menentang pertunjukan lumba-lumba, pembakaran hutan di Papua, pembangunan bandara, konflik di Wadas dan sejarah perang. Celetukan seperti, “Kenapa Borobudur terletak di desa?” Tentang kode tangan meminta bantuan saat mengalami kekerasan menyeruak dalam diskusi. Termasuk pandangan mengenai pendidikan dan berita viral atas aturan pemakaian jilbab. Tentang keluhan teman-temannya yang kondisi kesehatannya menurun setelah menjalani PKL, pemeriksaan murid yang ijin haid saat mata pelajaran olahraga dan lain sebagainya.

Ketika mereka disodori sebuah soal, “Mendapatkan hak pendidikan harus diimbangi dengan tingkat ekonomi yang mumpuni, pro atau kontra?” Dijawab dengan balik bertanya, “Kenapa harus di sebut pro dan kontra? Apa arti kata pro dan kontra? Apa kepanjangannya?”

Saat ini Ocha masih kuliah sambil bekerja dan berniat menggunakan hasil kerjanya untuk membeli rumah. Masih jauh tapi bisa menabung mulai sekarang. Geno bekerja paruh waktu di sebuah LSM dan kadang menerima panggilan casting. Ia berniat mengalokasikan pendapatannya untuk melanjutkan pendidikan seni peran dan tata rias.

“Ya, itulah susahnya, mau ga mau kemana-mana kita masih ditanyain ijasah,” ujar Ocha. Geno menimpali dengan kalimat senada. Raisa, anak ketiga belum memiliki perspektif dan rasanya terlalu melelahkan jika membebaninya dengan gambaran tanggungjawab kelak setelah ia beranjak dewasa.

Berkaitan dengan pola pandang ketiganya, mengutip dari Carl Rogers—salah satu tokoh Psikologi humanistik–mengatakan bahwa salah satu penghalang untuk memiliki kepribadian yang sehat adalah kondisi keberhargaan individu yang lebih banyak ditentukan oleh faktor di luar dirinya, mulai dari orang tua, kawan sebaya, hingga pasangan yang menerima keberadaan kita dengan syarat, ekspektasi atau kriteria tertentu.

Feist, Feist dan Roberts (2013) mengatakan bahwa kondisi keberhargaan akan menghasilkan positive regard yaitu penghargaan yang didapat dari orang lain dengan melakukan suatu hal yang bersyarat, sedangkan jika mengalami kegagalan memenuhi ekspektasi, maka positive regard tidak diberikan.

Joseph (2019) menjelaskan definisi penerimaan diri tanpa syarat yang dimaksud oleh Carl Rogers adalah saat kondisi di mana seseorang menghargai, menyukai dan bersikap hangat terhadap diri mereka tanpa dikondiskan syarat atau ekspektasi orang lain.

Sebagai makhluk sosial dan bagian dari kolektif masyarakat, ketiga anak juga turut mengalami perubahan sosial yakni perubahan kehidupan masyarakat yang berlangsung terus-menerus dan tidak akan pernah berhenti, karena tidak ada satu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa. Manusia memiliki peran sangat penting terhadap terjadinya perubahan masyarakat.

Manusia sebagai makhluk Tuhan, dibekali akal-budi untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan akal-budi tersebut manusia memiliki tujuh kemampuan yang berfungsi untuk: menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan segala hal dalam interaksinya dengan alam maupun manusia lainnya (Herimanto dan Winarno, 2009).

Nilai rapor ketiga anak tersebut terletak pada penerimaan diri, penghargaan pada diri dan penggunaan akal budi. Bagaimana masa depan dengan sekolah tanpa rapor, tergantung bagaimana ketiganya memproyeksikan diri sebagai makhluk Tuhan dan mahluk sosial.

Tidak ada nilai yang sempurna yang berhenti pada satu titik. Cara pandang, perilaku dan kedewasaan Ocha, Geno dan Raisa merupakan proses belajar yang berharga dan penting. Baik bagi diri sendiri maupun saat berinteraksi dengan orang lain.

Berabad-abad yang lalu nenek moyang kita membangun candi dan berbagai monumen sejarah. Generasi abad ini akan membangun monumennya sendiri. Semoga monumen ini adalah bangunan masyarakat yang menjunjung kesetaraan, keadilan, non diskriminasi, menghormati ekologi dan terus mencintai Tuhan.

Penulis: Ernawati

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai