28 September 2022

Perempuan dan Politik: Bugis Abad 19

"Jauh sebelum Kartini lahir, dua orang perempuan dari Tanette, Sulawesi Selatan telah menorehkan karya besar bagi dunia sastra. Colliq Poedjie atau lengkapnya Retna Kencana Colliq Poedjié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé adalah bangsawan Bugis Melayu (1812 - 1876). Sedangkan putrinya, Siti Aisyah We Tenriolle adalah seorang Datu (Ratu) yang bertahta selama limapuluh lima tahun dari tahun 1855-1910"
0Shares

Colliq Poedjié

Jauh sebelum Kartini lahir, dua orang perempuan dari Tanette, Sulawesi Selatan telah menorehkan karya besar bagi dunia sastra. Colliq Poedjie atau lengkapnya Retna Kencana Colliq Poedjié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé adalah bangsawan Bugis Melayu (1812 – 1876).

Sedangkan putrinya,  Siti Aisyah We Tenriolle adalah seorang Datu (Ratu) yang bertahta selama limapuluh lima tahun dari tahun 1855-1910. Bersama ibunya, Aisyah menyelami sastra-sastra Bugis kuno, terutama I La Galigo

Patung Colliq Poedjié di Kabupaten Barru

Colliq Poedjie adalah seorang pengarang dan penulis, penyunting naskah Lontarak Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris istana Kerajaan Tanete (sekarang adalah Kabupaten Barru dahulu merupakan sebuah kerajaan kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja, yaitu: Kerajaan Berru (Barru), Kerajaan Tanete, Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Mallusetasi). Ia bertugas untuk menangani pengarsipan dokumen-dokumen kerajaan.

Colliq sering diminta oleh Raja yang merupakan ayahnya sendiri untuk menulis surat-surat kerajaan. 

Semasa berkuasa, Aisyah dan ibunya berhasil mengumpulkan naskah-naskah tua I La Galigo yang terserak di beberapa kerajaan yaitu Goa, Tallo dan Bone, selama duapuluh tahun. Epos I La Galigo oleh nenek moyang orang Bugis ditorehkan dalam ribuan daun lontar Sehingga sulit untuk mengumpulkan epos secara keseluruhan. Diperkirakan baru sepertiga yang bisa diselamatkan.

I La Galigo

Naskah I La Galigo

I La Galigo mencakup lebih dari 9.000 halaman folio. Setiap halaman naskah terdiri dari 10-15 suku kata. Dalam arti I La Galigo ditulis dalam sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar India, Mahabharata yang terdiri dari 160.000-200.000 baris.

I La Galigo berisi cerita berangkai yang tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa arkaik. Aisyah dan ibunya menyalin dan menerjemahkan ke dalam bahasa Bugis. Sedangkan BF. Matthess, seorang peneliti asal Belanda menerjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Matthes kemudian menyerahkan terjemahan ini kepada Pemerintah Kerajaan Belanda lewat Nederlandsch Bijbelgenootschaap dan diabadikan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Ayah Aisyah adalah La Tunampareq alias To Apatorang dengan gelar Arung Ujung. Aisyah memiliki dua saudara laki-laki bernama La Makkawaru dan I Gading. Setelah ayahnya, La Tunampareq meninggal dunia. Ibunya, Colliq Poedjie membawa Aisyah dan kedua saudara laki-lakinya kembali ke Tanette.

Hidup bersama kakeknya yang bernama La Rumpang. Pada waktu itu sedang terjadi perselisihan antara Belanda dan Raja Tanette, La Patau. Belanda kemudian menurunkan tahta La Patau di tahun 1840. La Patau diasingkan keluar dari Sulawesi Selatan. Sebagai gantinya, Belanda mengangkat La Rumpang Megga Matinro Eri Moetiara, kakek Aisyah sebagai Raja Tanette. Dimasa pemerintahannya, La Rumpang menjalin persahabatan yang cukup baik dengan B.F. Matthes dan Ida Pfeiffer.

B.F.Matthes adalah peneliti dari Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda dari perwakilan Nederlandsch Bijbelgenootschaap (Lembaga dari Belanda yang mengurusi masalah kitab-kitab). Sedangkan Ida Pfeiffer adalah orang Austria yang melakukan perjalanan keliling dunia dan menyempatkan diri singgah di Tanete pada April 1853.

Kepemimpinan Siti Aisyah We Tenriolle

Ketika turun tahta, La Rumpang menunjuk Siti Aisyah We Tenriolle sebagai penggantinya. Penunjukan ini dilaporkan kepada Gouverneur Celebes en Onderhorigheden (Gubernur Sulawesi dan Daerah Taklukan) pada 1852. Penunjukan ini diterima.

Siti Aisyah We Tenriolle sebagai Datu Tanete ke-XVIII pada 1855, menggantikan kakeknya, La Rumpang Megga Matinro Eri Moetiara .

Ratu Aisyah dan Pendidikan

Ratu Aisyah menunjukkan kecerdasan dan kecakapannya baik di bidang kesusateraan, pemerintahan maupun pendidikan. Aisyah mendirikan sekolah bagi rakyatnya. Sekolah tersebut menerima laki-laki dan perempuan. Sekolah tersebut mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Nyatalah, Aisyah merupakan bangsawan pribumi yang pertama mewujudkan kesetaraan gender melalui sekolahnya. 

Lima Kewajiban Pemimpin

Di bidang pemerintahan Aisyah menerapkan konsep Pau-Pauna Sehek Maradang (lima tuntunan Hikayat Syekh Maradang).

Hikayat tersebut menyebutkan bahwa kewajiban pemimpin itu ada lima yaitu:

  1. “Orang yang pintar adalah orang yang memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan suatu negeri;
  2. Orang yang kaya adalah orang yang memiliki harta benda dan mendermakan kekayaannya untuk membangun negerinya;
  3. Orang pemberani adalah orang yang dapat melindungi rakyatnya;
  4. Wali adalah orang yang dimuliakan Allah; dan
  5. Fakir adalah orang yang diterima doanya oleh Allah.”

Siti Aisyah We Tenri Olle mensentralisir pemerintahan dengan melakukan perampingan struktur pemerintahan kerajaan yang dipimpinnya. Tujuan dari perubahan tipe pemerintahan dari desentralisasi menjadi sentralisasi ini semata-mata untuk mengatur wilayah Tanete yang merupakan suatu kerajaan dengan luas 61.180 hektar dan berpenduduk 13.362 jiwa pada tahun 1861.

Pada masa pemerintahan Belanda dibentuk Pemerintahan Sipil Belanda di mana wilayah Kerajaan Barru, Tanete dan Soppeng Riaja dimasukkan dalam wilayah Onder Afdelling Barru yang bernaung di bawah Afdelling Parepare. Sebagai kepala Pemerintahan Onder Afdelling diangkat seorang control Belanda yang berkedudukan di Barru, sedangkan ketiga bekas kerajaan tersebut diberi status sebagai Self Bestuur (Pemerintahan Kerajaan Sendiri) yang mempunyai hak otonom untuk menyelenggarakan pemerintahan sehari-hari baik terhadap eksekutif maupun dibidang yudikatif.

Karya-karya Colliq Poedjié


Selain I La Galigo, Colliq Poedjie juga menulis Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan, Elong, Sure’ Baweng, Sejarah Tanete Kuno, Kumpulan Adat Istiadat Bugis, serta Berbagai Tatakrama dan Etika Kerajaan. Colliq Poedjié menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma pada 13 Agustus 2013.

Sekilas Mengenai Suku Bugis

Suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.

Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.

Kisah Sariwegading Opunna Ware


Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.

Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan.

Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan) Masa Kerajaan Kerajaan Bone Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang.

Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.

Kerajaan Makassar

Kerajaan Makassar Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar.

Kerajaan Soppeng Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. 

Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.

Konflik antar Kerajaan Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba.

Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka.

Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan.

Wajo kemudian bergesekan dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”.

Diambil dari berbagai sumber

Ernawati

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai