28 September 2022

Siti Fitriah: Garda Depan Pengelolaan Sampah Kabupaten Gresik

Tantangan lain adalah penentangan atas gagasan dan upayanya. Menurut penuturannya, Fitriah pernah memperoleh ancaman dari pemulung. ’’Waktu itu pulang ambil sampah dari warga saya dihadang empat orang. Saya dianggap saingan,’’ ungkapnya. Namun, Fitriah menyadari betul bahwa pekerjaan lapangan memang keras.
0Shares

Praktik Baik Kemasyarakatan

Masyarakat Patriarkis menempatkan posisi perempuan di sektor domestik. Namun dalam berbagai kesempatan, kaum perempuan mampu membalikkan situasi dengan menjadikan sektor domestik sebagai garda depan praktik-praktik baik seperti dapur umum, bank sampah dll. 

Praktik baik ini menunjukkan komitmen pada kemanusiaan, lingkungan dan keberlanjutan masa depan.

Sampah dari dapur kita mewakili apa yang kita konsumsi setiap hari serta bagaimana kita membelanjakan pendapatan kita. Baik dari kemasan makanan, label pakaian, nota maupun tiket perjalanan. 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sebagian besar atau kecil hasil industri kapitalis mendarat di tong sampah rumah tangga. Apabila tidak dikelola, sampah menjadi masalah besar terutama di musim penghujan. 

Sampah organik membusuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Hampir setiap kota akan mengalami hal yang sama, penumpukan sampah.

Profil Siti Fitriah

Siti Fitriah berjuang untuk mengatasi masalah ini, mengubah sampah menjadi rejeki dan bagian dari kerja sosial masyarakat. Namanya dikenal sebagai penggerak Bank Sampah di Kabupaten Gresik.  

Sumber: atmago.com

Dari tiga bank sampah berkembang menjadi 350 bank sampah. Berawal dari pendirian Bank Sampah Meduran Bersatu (BSMB) pada tahun 2011. Fitria terus mengembangkan dan mewujudkan ide-ide kreatifnya, “Sampah ini memang sering disepelekan oleh masyarakat, tapi jika tidak dikelola maka akan menjadi penyakit bahkan merusak lingkungan kita,” Ujarnya.

Sumber: atmago.com

Pengelolaan sampah dengan prinsip  3R (Reuse , Reduce dan Recycle). Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. 

Pengelolaan ini diterapkan pada sampah  non-organik seperti plastik, minyak jelantah dan lain sebagainya menjadi berbagai kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Minyak jelantah dikemas menjadi sabun dan minyak wangi. Tidak berhenti sampai disitu, Fitriah mulai mengembangkan pengelolaan sampah organik menjadi eco enzim. 

Bank-bank sampah lain segera mengikuti jejaknya. “Pengelolaan sampah non organik pernah saya lakukan melalui lele maupun eco enzim, namun kali ini saya mencoba dengan maggot BSF,” ujarnya menambahkan. Pengelolaan sampah organik melalui maggot diprediksi akan menghasilkan banyak keuntungan karena larva maggot bisa dijual dan bisa digunakan lagi sebagai pupuk organik tanaman. 

Saat ini di indonesia terdapat sekitar 11,556 unit Bank Sampah yang tersebar di 363 kab/ kota di seluruh Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar memberikan Penghargaan kepada tujuh Bank Sampah terbaik Nasional dari 5.800 Bank Sampah induk di seluruh Indonesia di sela-sela Rapat Kordinasi Nasional (RAKORNAS) Bank Sampah 2021, secara virtual dari Jakarta.  Bank Sampah GEMES Sekardadu, kabupaten Gresik merupakan satu dari ketujuh peraih penghargaan tersebut.

Sumber: Radar Gresik

Penghargaan langsung diberikan kepada pembina BSI GEMES Sekardadu Siti Fitriah secara virtual. Fitriah merasa terharu dan tidak menyangka BSI Binaan nya selama ini meraih prestasi tingkat nasional. 

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi Bank Sampah di Indonesia yang tetap berinovasi selama pandemi dan terus melakukan pemberdayaan masyarakat untuk bisa menjadi produktif seperti praktik-praktik baik yang dibangun di Bank Sampah GEMES Sekardadu Gresik.

Penghargaan ini tidak lantas membuatnya bangga dan berpuas diri. “Kalau sampah dipilah dengan baik, kata dia, tidak akan ada bau. Saya pernah masukkan kepala saya ke tong sampah, juga nggak bau,’’ ujarnya. 

Srikandi Pejuang Sampah

Siti Fitriah tetap bersikeras untuk merubah persepsi dan perilaku masyarakat terhadap sampah.  Menjadi pegiat persampahan merupakan jalan hidup pilihan Fitriah. Baginya, tugas utama bukan hanya terletak pada mengangkut dan memilah sampah. “Tugas terpenting seorang pejuang sampah yang menjadi tantangan paling berat adalah mengubah persepsi negatif yang sudah melekat tentang sampah,” tekannya.

“Di mana pun setiap kali saya jadi pemateri tentang pengolahan sampah, semua peserta menjawab sampah itu limbah, bau, penyebab banjir. Pokoknya yang jelek-jelek,’’ jelasnya lagi. Demi perjuangannya ini, Fitri rela meninggalkan pekerjaannya sebagai salah satu pegawai di sebuah perusahaan kontraktor.

Dalam berbagai kesempatan, Fitriah terus berupaya untuk mengubah perlakuan atas sampah yaitu kumpul, angkut, lalu buang menjadi pilah, tabung dan manfaatkan sampah. ’’Sampah tidak melulu sesuatu yang negatif. Dari sampah kita bisa bayar SPP anak, beli sembako, maupun bayar listrik,’’ tutur Fitri.

Tantangan lain adalah penentangan atas gagasan dan upayanya. Menurut penuturannya, Fitriah pernah memperoleh ancaman dari pemulung. ’’Waktu itu pulang ambil sampah dari warga saya dihadang empat orang. Saya dianggap saingan,’’ ungkapnya. Namun, Fitriah menyadari betul bahwa pekerjaan lapangan memang keras.

Tantangan tersebut dihadapi dengan cara persuasif dan cara ini cukup berhasil. Setidaknya, tiga kali dalam seminggu, Fitriah mengangkut sampah dari para nasabah bank sampah. Dia menyetir sendiri motor bak roda tiga (dorkas). Sebelum tahun 2014, Fitriah harus mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Namun, mulai 2014 dia menginisiasi adanya unit bank sampah di setiap RT/RW.

Pada bulan Juli 2016, Fitriah diundang DPRD Kabupaten Gresik untuk membahas poin-poin pembentukan induk pengelolaan sampah. Salah satu poin menyebutkan pentingnya peran serta masyarakat. ’’Saya katakan, PNS juga harus aktif menjadi penabung bank sampah. Biar merembet dan jadi contoh,’’ jelasnya.

Sumber: atmago.com

Fitriah menerangkan, dari total 441 penabung sampah di BSMB, tidak ada satu pun yang berstatus PNS. Hanya perorangan seperti ibu rumah tangga biasa. Juga, koletif seperti perusahaan, sekolah, dan puskesmas. Fitriah tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk menimba ilmu mengenai bank sampah.

Setiap kali mendapat kesempatan bertemu dengan tokoh penting dan berpengaruh, Fitriah memanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Salah satunya dengan mantan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya. Juga, pencetus Bank Sampah Indonesia Bambang Suwerda. ’’Kalau ketemu orang-orang begitu, saya ikut aja supaya dapat ilmunya,’’ ungkapnya. Hal ini menurut  Fitriah membuatnya merasa lebih matang dan percaya diri dalam memberikan pengajaran pada masyarakat.

Sumber: atmago.com

Rasa percaya dirinya membuat banyak pihak mempercayai Fitriah untuk menempati posisi seperti menjadi marketing di Bank Sampah Meduran Bersatu, ketua ASBAG Asosiasi Bank Sampah Gresik, Bid. operasional bank sampah di DPP ASOBSI, Bid. publikasi di DPP ASOBSI. Korwil Jatim di ASOBSI, penasehat di DPD ASOBSI gresik. Ketua pokja 3 PKK Kab Gresik. Ketua WANDARLING. Direktur bank sampah pasar dan Pembina bank sampah GEMES Sekardadu.

Bersama Bank Sampah, Siti Fitriah menunjukkan potensi perempuan untuk turut dalam menentukan keputusan, arah kebijakan, pola pandang serta perilaku masyarakat. Artinya sebagai perempuan dengan menggunakan posisi domestik mampu memberi pengaruh pada sektor sosial, ekonomi, politik dan budaya. Semoga tekad dan semangat Siti Fitriah dapat menjadi pembuktian bagi semua pihak.

Ernawati

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai