19 April 2024

Empat Perupa Perempuan yang Perlu Kamu Tahu

0Shares

Sedikit sekali kita mengenal perempuan perupa Indonesia, namanya pun banyak yang kita tidak pernah dengar sebelumnya.

Merekamnya di dalam tulisan, gambar, audio wawancara dan ragam moda lainnya perlu untuk kita lakukan. Sehingga kita dapat merawat karya-karya mereka sebagai cinderamata zaman, sebagai azimat kebudayaan Indonesia.

Nah, kali ini Suluh Perempuan memuat 4 perupa perempuan Indonesia untuk kalian kenali dan ketahui.

1. Sriyani Hudyonoto 

Sriyani Hudyonoto merupakan pelukis kelahiran Yogyakarta, 6 Mei 1930. Tahun 1939 ia mulai belajar melukis pada Soedjojono di Sunter, Jakarta dan tahun 1947 belajar memahat pada pematung Sumadi di Mangkunegaran, Solo.

Sriyani kuliah di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar di bawah Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia di Bandung pada tahun 1950.

Ia memiliki guru lain seperti Theo Bitter di Belanda, dan tahun 1951 pernah belajar melukis pada Ries Mulder di Departemen Seni Rupa ITB. Selanjutnya menempuh studi di Koninklijke Academie voor Grafiesche Kunsten, Den Haag, Belanda pada rentang (1955-1960).  Dan belajar melukis di Sanggar Jiva Mukti, Bandung.

Sejak tahun 1956 sering mengikuti pameran di dalam maupun di luar negeri. Ia cukup lama bermukim di luar negeri: Vietnam, Tanzania, Uganda, Paris. Karya-karya lukisannya bergaya kontemporer figurative, dan ada yang dikoleksi Museum Fatahillah, Museum Adam Malik, dan Museum Kebangkitan Jakarta.

Pada tahun 1985 ia menerbitkan buku berjudul “The Flying Buffalo” (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta). Sriyani Hudyonoto menutup usia pada 6 Desember 2006.

2. Kartika Affandi

Kartika Affandi (lahir 27 November 1934) adalah seorang pelukis Indonesia. Ayahnya adalah pelukis terkemuka, Affandi. Kartika lahir dari ibu Maryati, istri pertama Affandi. Lukisannya banyak dipajang di Museum Affandi, antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), dan “Apa Salahku?”

Kartika Affandi lahir di Jakarta pada tanggal 27 November 1934. Ia adalah putri pelukis maestro terkenal Affandi dari istri pertamanya, Maryati. Perjalanan pendidikannya dimulai dari Taman Dewasa di Taman Siswa Jakarta, kemudian belajar seni di Universitas Tagore Shantiniketan India. Ia juga belajar tentang patung di Politeknik School of Art London.

Pada tahun 1952, Saptohoedojo menikahinya dan mereka memiliki delapan anak. Tahun 1957, ia bergabung dengan sebuah pameran lukisan bersama dengan pelukis wanita lainnya di Yogyakarta untuk pertama kalinya.

Pada tahun 1980 Kartika pergi ke Wina, Austria untuk belajar di Academy of Fine Arts jurusan Teknik Pelestarian dan Pemulihan benda-benda seni, kemudian meneruskan studinya di ICCROM (International Center of Pelestarian dan Pemulihan Properti Budaya) di Roma Italia.

Saat ini, lukisan dan patung Kartika juga dipamerkan di Museum Affandi, di Galeri ketiga.

Kartika tidak pernah menerima instruksi formal seni. Sejak usia tujuh tahun, ia belajar dari Affandi dalam tehnik melukis dengan jari dan pelototan cat dari tube langsung di atas kanvas. Setiap pencampuran warna dilakukan pada tangan dan pergelangan tangan.

Kartika tidak memiliki studio permanen seperti Affandi. Kartika lebih memilih untuk melukis di luar, di lingkungan desa tempatnya berinteraksi langsung dengan sekitar. Ini berbeda dengan kebanyakan pelukis kontemporer Indonesia, yang bekerja di studio mereka.

Kartika affandi adalah salah satu dari sekelompok kecil perempuan yang dari pertengahan tahun 1980-an telah berhasil memamerkan karyanya secara teratur dan memperoleh pengakuan dari berbagai kalangan termasuk pengamat seni dan kurator. Karya seni Kartika muncul sebagai sesuatu yang unik, mulai dari konvensional ke subversif.

Mengikuti jejak populis Affandi, Kartika juga memiliki sejarah panjang mengenai tema-tema lukisannya seperti masyarakat pedesaan, nelayan, petani, buruh dan pengemis. Saat melukis, dia berinteraksi langsung dengan model nya, kemudian saling bertukar pengalaman, cerita dan kisah kehidupan, ketika sedang melukis.

Narasi lukisannya bila dilihat dari dekat larut dengan kedalaman yang kuat, kesan abstrak dalam plototan serta goresan cat minyak penuh semangat.

Perjalanan Karir Kartika Affandi

Selama pendidikan di Austria tahun 1980-1983, ia melakukan kuliah kerja, di restorasi Fresco Akademi seni Rupa di Vienna, restorasi Fresco pada bangunan-bangunan bersejarah di Viena, Austria dan restorasi Fresco pada Gereja di Unter Marketlor Austria. Pada tahun 1984, ia berpameran di Roma, Italia dan pada bulan Desember 1984,  ia menikah lagi dengan Gerhard Koberl dari Austria.

Pada tahun 1964, ia mengikuti pameran bersama di Museum Modern of Art, Rio De Janeiro, Brazil. – Di tahun 1967, membantu Affandi membuat lukisan dinding (Fresco) di East West Center University of Hawaii, USA.

Tahun 1977, ia menjadi kurator pada museum Affandi hingga sekarang. Tahun 1969, ia menggelar pameran tunggal pertama di Jakarta dan dilanjutkan setiap tahun berpameran dikota-kota besar di Indonesia.

Tahun 1970 pameran bersama di Thailand dan negeri Belanda. Tahun 1971, berpameran di Samat Art Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia, Malay Art Gallery, Singapura. Tahun 1972 berpameran di Palazzo delle Esposizioni, Roma.

Pada tahun 1973, Mengikuti pameran di Palais de Beaux-Arts Bruselles, Belgia dan Benrahter Orangerie, Dusseldorf, Jerman. Tahun 1974, ia berkeliling Indonesia bagian Timur dan Thailand bagian Utara untuk melukis. Tahun 1975, berpameran di FIAP Gallery, Paris, Lily Bone Gallery Nancy Festival, Perancis dan National Art Gallery, Algeria.

Pada tahun 1978, berpameran di Credit Central Bank, Brussel, Belgia. Di tahun 1979, berpameran di Pinakota Art Gallery, Melbourne, Australia. Tahun 1980, berpameran di Gameente Massloujs Museum Netherland, Volkenkundig Museum Geradus, Gronigen dan Westpries Museum, Netherland.

Tahun 1981, berpameran di Heimat Museum, Floritzdorf, Austria. Di tahun 1982, berpameran di K. Gamming Vienna International Center, Austria. Tahun 1983 berpameran di Mistelbach Gallery, Vienna Intenational Center.

Penghargaan :

Kartika mendapatkan banyak penghargaan. Ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Perancis untuk mengunjungi tempat-tempat kesenian di Paris. Tahun 1982 ia mendapatkan Gold Medal dari Academica Italia Salsamoggiere (1980), Honorary Degree sebagai maestro di Pittura.

Mendapatkan AUREA Gold Medal dari The International Parliament for Security and Peace, USA pada tahun 1983. Beasiswa dari ICCROM untuk keliling Itali (1984).

Selain itu, ia mendapat julukan Master of Painter dari Youth of Asian Artist Workshop (1985) dan Outstanding Artist dari Mills College di Oakland California (1991).

Potret Diri, 2002

3. Ratmini Soedjatmoko

Lahir di Jakarta, 18 November 1925, merupakan seorang pelukis Indonesia. Mengenyam pendidikan di berbagai universitas, seperti Instituut voor Kunstnijverheids-Amsterdam, Cornell University-New York dan Corcodan School of Art-Tokyo.

Ratmini sering mengadakan pameran lukisan, antara lain di International House, Tokyo dan Vatican. Saat ini, ia juga adalah anggota pengurus Women’s International Club Jakarta seksi Beasiswa.

Isteri Dubes, Pembelajar dan Kaya Karya

Membaca kisah Ratmini kita akan mendapat gambaran kehidupan masa kolonial Belanda maupun Jepang. Tentu ada kisah romance antara Soedjatmoko dan Ratmini. Keduanya menikah 15 Oktober 1957 dengan mas kawin sepasang bunga kantil dan sepasang bunga melati (dari emas).

Sejak usia muda ia berpindah negara seorang diri dalam penerbangan menuju Belanda 1 Oktober berangkat dari Kemayoran tiba di Belanda 4 Oktober 1953.  Singgah di Singapura, Thailand, Vietnam, Pakistan, Mesir, Roma baru kemudian Belanda.

Di Belanda Ratmini belajar 1 tahun di IKNO (Institut voor Kunstnijverhieds Onderwijs), Institute for Arts & Crafts Education jurusan guru gambar di Amsterdam. Selama belajar, saat libur Ratmini kerap berjalan-jalan ke Perancis. Ia kembali ke Indonesia tahun 1954 dengan kapal laut Willem Ruys berlayar selama tiga minggu.

Selain istri Duta Besar Amerika Serikat, Ratmini adalah maestro lukis dan pencipta motif batik. Ia bukan layaknya istri pejabat pada masanya maupun masa kini. Sebagai istri pejabat ia justru menggunakan kesempatan untuk belajar di negeri dimana ia tinggal.

Di Amerika Serikat saat suaminya menjadi Dubes, ia belajar melukis di Corcoran School of Arts. Ia juga belajar perhiasan perak dan emas pada Denyse Touchette.  Di Jepang belajar melukis gaya Jepang dan merangkai bunga khas Jepang manakala Soedjatmoko menjadi Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa di Tokyo.

3. Charlotte Panggabean

Merupakan seorang pianis sekaligus pelukis, Charlotte Catarina Ter Veer Panggabean atau Charlotte Panggabean menutup usia di usia 90 di kediamannya pada Kamis, 29 Juli 2021 lalu.

Charlotte Panggabean dikenal sebagai salah satu pianis klasik Indonesia yang memiliki segudang karya.

Latifah Kodijat (kiri) dan Charlotte Panggabean tampil memukau pada Debut Concert by Faculty Member dan Advisor Internasional Konservatori Musik Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (19/1).

4 Umi Dachlan

Lahir dengan nama Umajah Dachlan, (dibaca: Umayah Dachlan) pada 13 Agustus 1942 dan meninggal pada 1 Januari 2009. Ia adalah salah seorang pelukis perempuan ternama di Indonesia.

Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan juga menjadi wanita pertama yang menjadi dosen di almamaternya. Karyanya dikenal dengan pencampuran antara Ekspresionisme Abstrak dengan pendekatan Lirisisme. 

Karier kesenian Umi dimulai dengan studi mengenai prinsip dan teknik seniman dari dosen seni ITB, Ahmad Sadali. Ia juga dibimbing oleh A.D. Pirous, Mochtar Apin, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono dan Yusuf Affendi. Ia disegani dan disukai banyak rekan seperti Heyi Ma’mun, Sam Bimbo, dan Seriawan Sabana.

Setahun setelah lulus kuliah, ia diangkat menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa, ITB. Pada tahun yang sama, beliau juga menerima Hadiah Memorial Wendy Sorensen untuk lukisan terbaik. Wendy Sorensen adalah istri Abel Sorensen, seorang arsitek penting dalam sejarah Indonesia, yang ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk merancang Hotel Indonesia untuk Asian Games ke-4 tahun 1960.

Kampung Balubur

Di tahun-tahun awalnya, Umi Dachlan menolak tradisi agama yang ketat dari keluarganya, tetapi di tahun-tahun berikutnya beliau memasukkan banyak aspek spiritual dan agama dalam karyanya. Hubungan antara agama Islam dan Seni Umi Dachlan dijelaskan dalam buku teman-temannya, Esmeralda dan Marc Bollansee.

Nah, kita telah membaca kisah dan karya empat perupa perempuan Indonesia ini. Semoga menginspirasi perempuan dan generasi muda untuk berani berkarya.

Penulis: (MJ)

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai