17 April 2024

Gelombang-Gelombang Feminisme (2)

0Shares

Sejarah Feminisme

Lahirnya gerakan feminisme dipelopori oleh kaum perempuan dan terbagi menjadi empat gelombang. Dan pada masing-masing gelombang memiliki perkembangan yang cukup sangat pesat. Diawali dengan kelahiran era pencerahan yang terjadi di Eropa dimana Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condoracet sebagai pelopornya.

Menjelang abad 19 gerakan feminisme ini lahir di negara-negara jajahan Eropa dan memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood atau persaudarian semesta.


Gelombang Pertama

Kata feminisme sendiri pertama kali dikreasikan oleh aktivis sosialis utopis yaitu Charles Fourier pada tahun 1837. Kemudian pergerakan yang awalnya berpusat di Eropa ini pindah ke Amerika Serikat dan berkembang pesat pula sejak terbitnya sebuah buku berjudul The Subjection of Women (1869) karya John Stuart Mill, Pergerakan ini pun menandai lahirnya gerakan feminisme gelombang pertama.

Gerakan tersebut memang sangat diperlukan pada saat itu (abad 18) dikarenakan banyak terjadi pemasungan dan pengekangan akan hak-hak perempuan. Selain itu, sejarah dunia juga menunjukkan bahwa secara universal perempuan merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum laki-laki terutama dalam masyarakat yang terkonstruksi sebagai masyarakat patriaki.

Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan dan politik, hak-hak kaum perempuan biasanya cenderung inferior ketimbang laki-laki yang jelas sekali mendapatkan priviledge. Apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki di depan, di ruang publik sedangkan perempuan ditempatkan di ranah domestik.

Situasi tersebut pun mulai mengalami kemajuan ketika datang era Liberalisme di Eropa serta imbas dari tejadinya Revolusi Perancis di abad ke-18. Di mana perempuan sudah mulai berani menempatkan diri mereka seperti laki-laki yang sering berada di luar rumah.

Patriarki di Ranah Fundamental Agama

Meski nahasnya, suasana tersebut kemudian justru diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan khotbah-khotbah yang mendukung situasi opresi tersebut.

Ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan jemaat
pun hanya dapat diisi oleh pria. Banyak khotbah-khotbah mimbar menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus tunduk kepada suami.

Lantas berdasar realitas tersebut, di Eropa berkembang gerakan untuk menaikkan derajat kaum perempuan meski gaungannya kurang terdengar atau didengar. Baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai diperhitungkan. Tahun 1792 Mary Wolllstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of The Right of Woman yang isinya dapat dikatakan meletakan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari.

Penghapusan Perbudakan dan Feminisme

Secara umum baik pada gelombang pertama maupun kedua hal-hal yang menjadi alasan perjuangannya adalah ketidaksetaraan gender, ketidakadilan pada hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan isu seksualitas.

Gelombang Kedua

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, yang ditandai dengan lahirnya negara-negara baru yang merdeka dari penjajahan negara-negara Eropa, maka lahirlah gerakan feminisme gelombang kedua pada tahun 1960-an dimana fenomena ini mencapai puncaknya dengan dilibatkannya kaum perempuan supaya memiliki hak suara di parlemen.

Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih sehingga selanjutnya dapat ikut serta mengintervensi ranah politik kenegaraan.

Feminisme liberal gelombang kedua dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang yahudi kelahiran Algeria yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekontruksionis, Derrida.

Dalam The Laugh of The Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo-American Feminist, dia menolak essensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang
sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida.

Objektifikasi Perempuan Negeri Jajahan

Secara lebih spesifik lebih banyak feminis-individualis kulit putih dan meskipun tidak semua, mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga,. Yang meliputi negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Selatan.

Dalam berbagai penelitian tersebut, telah terjadi proses universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosialis, agama, ras dan budaya.

Banyak kasus menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women” di mana semua perempuan adalah sama. Dalam beberapa karya novelis perempuan kulit putih yang ikut memperjuangkan feminisme yang masih terdapat celah, yaitu tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan. Mereka masih diangkat sebagai objek dari studi atau perkembangan feminisme.

Penggambaran pergerakan feminisme adalah masih mempertahankan posisi budak sebagai pengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih. Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai objek yang sama sekali tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua.

Pejuang tanah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki daripada perempuan. Terbukti kebangkitan semua negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan, politik, dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki.

Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang nyaris tidak ada suaranya.

Dengan keberhasilan gelombang kedua, perempuan dunia pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan mereka yang teropresi di dunia ketiga, dengan asumsi bahwa semua
perempuan adalah sama.

To be continued…

Sampai jumpa di sesi terakhir Gelombang feminisme

***(MJ)

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai