19 April 2024

Raema Lisa Rumbewas

0Shares

Raema Lisa Rumbewas

Perjalanannya meraih medali-medali Olimpiade memang bisa dibilang menarik.
Waktu di Olimpiade 2000 ia termasuk dari tiga lifter putri Indonesia yang tampil di Sydney. Lisa dan Sri Indriyani tampil di kelas 48 kg putri, lalu Winarni (Binti Slamet) di kelas 53 kg.
Hanya rasa dingin yang ia rasakan waktu itu di venue angkat besi di Sydney. “Sampai bibir saya juga pecah-pecah,” ungkapnya

Ketika angkatan perebutan medali, Izabela Dragneva dari Bulgaria yang terkena doping itu memiliki angkatan snatch yang lebih bagus (85 kg), Tara Nott dari Amerika Serikat yang sebelumnya dapat perak juga lebih bagus dari Lisa.

Tapi di angkatan pertama clean and jerk, ia lebih bagus dari mereka (102,5 kg). Draganeva (100 kg), Nott (100 kg). Angkatan kedua ia juga bagus (105,0 kg), Nott (102,5 kg), Dragneva (102,5 kg).

Di angkatan ketiga Lisa gagal, Nott dan Dragneva juga gagal. Tapi akhirnya Dragneva yang dapat emas, Nott perak, Lisa perunggu. Indriyani di posisi keempat.

“Tara Nott sama saya sebenarnya memiliki total angkatan yang sama. Tetapi karena berat badan dia lebih ringan, akhirnya dia yang mendapatkan medali lebih bagus,” Begitu tuturnya.

Waktu terima medali Lisa langsung mendapatkan medali perunggu. Karena berat badan saya berapa ons lebih berat dari Tara Nott.

Medali Perak

Lisa Rumbewas meraih perak kedua di Olimpiade Athena 2004. Ketika itu tim bertanding di sore hari di Sydney. Sore hari bertanding, malam-malamnya tim mendapat kabar kalau Dragneva didiskualifikasi karena pakai doping. Jadinya Tara Nott dapat emas, Lisa perak, dan Indriyani perunggu.

“Kabar tersebut juga yang beritahu kerabat kami. Saya punya saudara pendeta yang juga tinggal di Sydney, beliau yang bicara kepada mama. Karena saat di Sydney, mama tinggal di rumah saudara. Katanya ‘Ibu, dengar ini berita dari Australia. Dragneva pakai doping, Lisa pasti dapat perubahan medali,’ kata saudara saya itu kepada mama,” tuturnya.

Akhirnya betul juga beritanya. Besok paginya kaget ditelepon Coach Lukman karena diminta penyerahan medali lagi.

“Saya sudah dengar berita, jadi ibu segera siap-siap. Karena kita mau upacara lagi untuk penerimaan medali baru ini,” ucap Coach Lukman kepada mama.

“Namanya pembawaan orang kan berbeda-beda. Biarpun yang namanya menang tapi saya tidak pernah seperti atlet lain yang girang, melompat-lompat. Tidak seperti itu, biasa saja, senyum-senyum saja. Makanya wartawan itu yang dari luar juga suka bilang ‘Senyum dong, semangat, di atas panggung itu angkat tangan kek, atau apakah’,””Bahkan Pak Menteri saat itu, Pak Agum Gumelar sampai bilang ‘Ayo angkat tangan, lompat-lompat dong’. Tapi, ya saya tidak bisa seperti itu,”

Setelah dari Sydney ia juga tampil di Olimpiade 2004 di Athena, dapat medali perak juga di sana. Cuma di Olimpiade 2004 Lisa naik kelas ke 53 kg.

Waktu itu Lisa sempat pingsan saat pertandingan, jatuhlah ia. Setelah selesai angkatan snatch itu ia merasa pusing, anfal, karena ia memiliki riwayat epilepsi. Biasanya kalau sudah anfal begitu harus tidur, tapi karena sadar masih punya angkatan lagi jadi harus tetap dilakukan. Ketika itu hanya tinggal Lisa saja dan [Udomporn] Polsak yang dari Thailand saja untuk perebutan emas dan perak. “Itu semua sudah Tuhan yang atur,” ucapnya.

Di Olimpiade 2008 di Beijing ia gagal mendapat medali perak, hanya perunggu. Ada kesalahan doi dalam pengangkatan.

Setelah angkatan snatch pertama yang 91 kg itu Lisa gagal dalam dua angkatan berikutnya karena mengangkat tangannya kurang tinggi. Giliran yang angkatan ketiga diangkat terlalu tinggi akhirnya lepas ke belakang.

“Padahal saat itu, lawan yang dari Belarusia, Natassia Novikava, yang akhirnya kena doping, kata mama sudah ketakutan dia. Karena kan di belakang panggung itu tempat pemanasannya kita sama-sama,” kisah Lisa.

“Mama curiga dengan si Belarusia ini. Mama melihat dia seperti pakai doping,” kata mama begitu.

Begitu dengar kabar Novikava kena doping, saya bilang ke mama, “Terima kasih, apa yang mama bilang benar terjadi,” ucap saya sama mama,

Hanya saja penyerahan medalinya tidak seperti Olimpiade 2000. Ia harus menunggu sampai 9 tahun sebelum menerima medali perunggu Olimpiade 2008.

Lalu ada telepon, “Selamat untuk apa Ibu? Lisa naik peringkat apa? Itu Lisa ikut Olimpiade yang mana lagi?” tanya mama ke orang Jakarta yang telepon.

Awalnya seremoni medali itu mau digelar di Papua, tapi entah kenapa akhirnya tidak jadi. Akhirnya seremoni penyerahan medali olimpiade 2008 itu di Jakarta.

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai