19 Juni 2024

Estetika dan Kesejahteraan

0Shares

Dinamika Pembangunan Visual-estetis

Gerak dan perubahan terus terjadi, baik dalam diri kita, lingkungan sekitar hingga lingkup yang lebih besar lagi. Ruang lingkup tiap orang berbeda-beda. Bagi mereka yang lebih banyak beraktivitas di rumah, maka ruang lingkupnya secara fisik adalah ruang demi ruang dalam rumah dan di luar rumah.

Sementara mereka yang secara fisik lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, ruang lingkupnya berpindah-pindah, dari jalanan, kendaraan yang ditumpangi, ruang kantor dan berbagai ruang publik  Setiap hal, benda dan manusia bergerak dalam dimensi kecepatan yang berbeda dan mengalami dinamika pergeseran yang berbeda.

Seluruh dinamika perubahan dijalani dalam kehidupan keseharian hingga tanpa disadari, tiba-tiba kita terbangun di pagi hari dalam dimensi ruang dan waktu yang baru. Coba amati perubahan lingkungan fisik yang bertujuan untuk pembenahan, didalamnya juga terdapat aspek visual-estetis.

Biasanya perubahan mencolok terlihat pada kawasan pusat kota dan juga kawasan bisnis. Karena pada kawasan tersebut menjadi pusat keramaian dan terdapat kegiatan yang beragam serta memiliki nilai sosial-ekonomi.

Merancang perubahan lingkungan fisik membutuhkan cara pandang dan wawasan terhadap satu wilayah dengan mempertimbangkan desain dan elemen-elemen yang terdapat dan dibutuhkan oleh wilayah tersebut.

Aspek estetika merupakan bagian tak terelakkan dengan adanya perubahan perilaku dan gaya hidup yang dialami oleh sebagian besar masyarakat. Sehingga terjadi hubungan antara suatu tempat dengan mobilitas penduduk.

Estetika

Ruang dan tempat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari. Estetika, salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan, berasal dari bahasa Yunani αἰσθητικός (aisthetikos, yang berarti “keindahan, sensitivitas, kesadaran, berkaitan dengan persepsi sensorik”), turunan dari αἰσθάνομαι (aisthanomai, yang berarti “saya melihat, meraba, merasakan”).

Awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, tetapi perubahan pola pikir dalam masyarakat turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan.

Misalnya pada masa romantisisme di Prancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan memadukan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda.

Dalam estetika kota proses pembentukan kota dipengaruhi oleh tingginya tingkat urbanisasi, pesatnya proses urbanisme dalam masyarakat kawasan pinggiran kota, dan terjadinya proses globalisasi di berbagai bidang kehidupan.

Dari sini muncul kebutuhan untuk pembentukan kawasan diiringi dengan pembangunan kawasan. Masyarakat tanpa kecuali semakin menyadari kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Terkait tingkat kenyamanan dan keamanan yang melibatkan pula aspek daya dukung prasarana kota yang memadai hingga aspek visual-estetis lingkungan fisikal.

Kita tidak dapat menampik terjadinya urbanisasi, sebagai transformasi paling signifikan dalam masyarakat.

Hal ini akan terus terjadi dan berkembang dalam cara hidup kita. Pandemi Covid-19 dan peristiwa alam mengajarkan kita menjadi lebih kuat dan memandang hidup dan kehidupan dalam ruang lingkup kita dengan cara berbeda.

Pengaruhnya Pada Masyarakat Urban

Bagaimana hal ini turut berperan dalam membentuk masa depan dengan elemen terpenting adalah manusia. Kita saling terhubung secara emosional, didorong oleh data, dan berkelanjutan. Di mana lingkungan padat penduduk dan sangat terhubung adalah rumah kita, tempat kita bekerja, belajar, bermain, dan bersosialisasi.

Desain rancang bangun semestinya juga mempertimbangkan kesejahteraan orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya. Tentu saja tugas perancang desain adalah membuat desain bukan penempatan subyek manusianya.

Namun dengan mempertimbangkan kesejahteraan akan berpengaruh dalam pembuatan rancangan. Misalnya jalan, apartemen, mall, alat transportasi dll. Prinsip kesejahteraan mungkin akan mengalami benturan antara kebutuhan dan keindahan.

Pedagang asongan, buruh toko dan mungkin juga gelandangan, bukan menjadi bagian dari keindahan. Sebuah jalan yang bersih, tertata rapi, arus lalu lintas lancar dengan pelancong di sisi jalan yang tenang merupakan bagian dari keindahan.

Desain dan Kelas

Maka pada akhirnya desain kawasan akan membagi ruang dan tempat sesuai status sosial manusianya. Tidak heran kita mengenal istilah kawasan kumuh, pinggir kali atau kawasan ‘remang-remang’.

Dengan prinsip peningkatan kualitas hidup, mungkin terbersit harapan bahwa perubahan lingkungan fisik akan menaikkan taraf hidup masyarakat, termasuk pedagang asongan, buruh dan gelandangan.

Fakta di lapangan menunjukkan suara yang berbeda. Pembangunan berjalan seiring dengan waktu yang dijalani mereka yang menjadi buruh atau pedagang asongan selama puluhan tahun. Taraf hidup seharusnya meningkat seiring dengan pesatnya pembangunan. Sayangnya tidak berlaku demikian.

Perpindahan dari kawasan pedesaan atau pinggiran dengan tujuan yang sama, meningkatkan taraf hidup.

Diterpa kerasnya persaingan dan harga kebutuhan sehari-hari yang terus membumbung, peningkatan taraf hidup bagi sebagian masyarakat berjalan lamban. Konsekuensi yang dijalani demi tujuan ini adalah kerja keras dan berhemat. Tidur di jalan, emperan toko, terminat atau di los pasar dan membeli makan dengan harga seminimal mungkin. Tanpa batasan 8 jam kerja sehari.

Jam kerja yang kemudian berubah seiring perubahan lingkungan fisik. Ada ruang dan tempat yang tidak lagi diijinkan menjadi bagian dari mobilitas harian. Berdagang di kawasan tertentu dan tidur di kawasan tertentu.

Keindahan kawasan menjadi pemandangan bagi semua orang namun bukan menjadi kenyamanan bagi sebagian orang. Keindahan di mata tapi bukan kenyamanan bagi perut mereka. Untuk mengisi perut, ada batasan ruang dan tempat.

Kota besar menjadi incaran dan tumpuan harapan ketika di kampung halaman atau desa tidak memberikan kemungkinan penghasilan.

Tanah menjadi alasan terbesar diikuti dengan pemenuhan bahan produksi seperti air, pupuk, bibit, alat dan tenaga. Disamping itu jalan, transportasi, mekanisme pasar dan faktor cuaca. Kita tidak bisa menggampangkan pertanyaan, mengapa tidak kembali ke desa atau mengapa tidak kerja (jenis pekerjaan) yang lain.

Sosial-Politik

Faktor sosial politik sangat berpengaruh. Tingkat pendidikan pun menjadi terpengaruh karena perekonomian mau tidak mau saling terkait dengan sosial politik. Pendidikan murah dan gratis tidak mampu teratasi dengan ongkos kendaraan.

Jadi tingkat pendidikan rendah dan minimnya ketersediaan pekerjaan menjadi alasan kuat selama berpuluh tahun sebelumnya untuk pindah ke kota. Ada banyak faktor yang kemudian membuat harapan kandas dan memaksa untuk tetap pada kehidupan dan kerja saat ini.

Tanpa bermaksud sinis pada keindahan dan rancang bangun ruang dan tempat, karena pemenuhan perubahan gaya hidup dan mobilitas tetap dibutuhkan.

Namun, perubahan lingkungan fisik apakah tidak mungkin berpadu, seiring sejalan dengan kesejahteraan semua manusia tanpa kecuali? Jika tidak, maka pengkotakkan kawasan akan terus berlangsung. Jadi, ketika memandang kawasan luas terhampar, apa yang terlintas dalam benak, sebuah apartemen atau sekumpulan manusia?

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai