17 April 2024

Labirin, Kisah 15 Perempuan Penyintas

Dewi Indra adalah penyintas anxiety disorder. Ia mendirikan Soedjiwa Institut untuk mematahkan stigma bahwa para pengidap disabilitas mental adalah beban bagi masyarakat. Ia berharap melalui wadah ini para pengidap disabilitas mental (PDM) akan terus berkarya dan produktif
0Shares


“Labirin, Kisah 15 Perempuan” adalah judul untuk sebuah buku kumpulan cerita pendek yang diterbitkan oleh Perkumpulan Palu Gede bekerjasama dengan Soedjiwa Institut.

Buku setebal 186 halaman dan sudah 3 kali cetak ini diberi catatan editor oleh Gunapriya Dharmapatni, dan kata pengantar oleh Pratiwi Juliani.

15 kisah perempuan yang tersaji antara lain; Pilar Patah (Th. Hardiyanti), Jejak Mimpi (Zoya Herawati), Karma (Lisa Joesman), Jalan Raya (Irma Arimurti), Keresahan (Nurma Dian Rahmawati), Anjing Hitam (K. Dewantoro), She Said (Aisyah Nurcholis), Laki Luka Kaki Perempuan (Meirura L), Lindri (Yuanita Maya), Semesta Gree (Anysha Agresya), Menghimpun Luka (Idhey Detty), Memento Mori (Santi Saned), Luka Anak Ayam (Anissa Fitri), Melayat (Agnes Chintami), dan Prahara (Dewi Indra Puspitasari).

Saat bertemu Tim Suluh Perempuan, Dewi Indra Puspitasari, Direktur Soedjiwa Institut menceritakan suka duka menerbitkan buku Labirin. Perempuan kelahiran 24 Desember ini sekarang berkolektif dengan komunitas di bantaran Banjir Kanal Timur.

Aktif sebagai penulis rumahan untuk sebuah penerbit di Yogyakarta. Hidup berpindah antara Jakarta, Jogja dan Surabaya dilakoninya selama 5 tahun terakhir.

Dewi Indra adalah penyintas anxiety disorder. Ia mendirikan Soedjiwa Institut untuk mematahkan stigma bahwa para pengidap disabilitas mental adalah beban bagi masyarakat. Ia berharap melalui wadah ini para pengidap disabilitas mental (PDM) akan terus berkarya dan produktif.

Berikut adalah wawancara Tim suluhperempuan.org bersama Dewi Indra Puspitasari:

Bisa cerita kenapa menerbitkan Labirin?

Labirin diterbitkan untuk perempuan dengan gangguan jiwa agar speak up tentang penyebab mereka mengalami gangguan mental. Dan sebagai salah satu upaya untuk melawan stigma atas ODGJ yang sering disebut tidak produktif.

Apa tantangan menerbitkan Labirin?

Tantangannya adalah beberapa penulis mengalami relapse (kambuh) karena menuliskan lagi trauma yang mereka alami. Ini menyebabkan deadline mundur beberapa bulan menunggu mereka dalam keadaan stabil.

Selain itu beberapa di antara mereka bukan penulis cerita, sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara menulis alur cerita. Banyak jumping plot yang harus ditata ulang.

Dalam buku ini juga banyak kata atau kalimat yang lugas, sehingga sering disebut sebagai pemicu trigger. Justru karena itu, buku ini hadir agar orang dapat memahami labirin yang ada di kepala kawan-kawan PDM (pengidap disabilitas mental) sehingga mereka menjadi penyintas gangguan mental.

Bagaimana bisa menghimpun penulis untuk Labirin?

Awalnya saya sering dijadikan tempat curhat beberapa penulis atas apa yang mereka alami. Lalu saya berpikir untuk menerbitkannya sebagai sebuah buku, namun merekalah penulisnya bukan saya.

Berapa eksemplar dicetak?

500 eksemplar

Sejauh ini apa respon khalayak terhadap Labirin?

Cukup baik. Karena akhirnya banyak orang yang sebelumnya memandang remeh PDM memberikan ruang seluasnya bagi penyintas gangguan mental untuk berkiprah.

Adakah target/misi yang ingin dicapai?

Membuka ruang yang lebih luas bagi PDM untuk beraktifitas daripada sekedar merutuki keadaan mereka.
Kenapa penyintas gangguan mental usia produktif?
Penyintas gangguan mental, terutama usia produktif merupakan salah satu kelompok masyarakat yang paling merasakan diskriminasi di antara kelompok masyarakat lain di Indonesia. Penyintas gangguan dalam kelompok ini sulit mencari pekerjaan, mendapatkan layanan kesehatan, bahkan sering mendapatkan perlakuan tidak manusiawi karena kondisi mentalnya.

Kenapa fokus pada penyintas gangguan mental usia produktif?

Penyintas gangguan mental memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya. Termasuk hak memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, politik, hingga persamaan di depan hukum. Memperjuangkan hak yang dimiliki oleh penyintas gangguan mental dapat mengembalikan martabat mereka.

Apa itu Soedjiwa Institut dan apa yang dikerjakan?

Soedjiwa Institut adalah komunitas inklusi yang digerakkan oleh orang-orang muda lintas identitas dan disiplin yang membuat program advokasi, edukasi, dan kajian informasi tentang kesehatan mental. 

Visi kami adalah Indonesia tanpa stigma dan diskriminasi bagi penyintas gangguan mental usia produktif.
Kami melakukan kerja-kerja:
Membangun kesadaran secara luas tentang kesehatan dan gangguan mental melalui kampanye;
Pendampingan dan pemberdayaan penyintas gangguan mental usia produktif;
Advokasi penyintas gangguan mental usia produktif agar dapat hidup mandiri.
 
Nah, Apa itu Komunitas Palu Gede?

Palu Gede awalnya adalah sebuah komunitas kecil yang berdiri di kampus FISIP Universitas Airlangga. Komunitas ini mulanya bernama Kolektif Kalpataru. Ketika masih menjadi Kolektif Kalpataru, komunitas ini aktif bergerak di berbagai issue, terutama di Surabaya.

Sebagai sebuah komunitas yang lahir di kampus, Kolektif Kalpataru kerap mengadakan diskusi bertema cultural studies. Tidak hanya itu, Kolektif Kalpataru juga terlibat dengan pendampingan kaum miskin kota di Surabaya. Bersama dengan Urban Poor Community (UPC), Kolektif Kalpataru mendirikan Jaringan Rakyat Tertindas (Jerit) yang mendampingi dan mengadvokasi masyarakat stren kali Jagir.

Dalam pergerakannya, kolektif ini menyelenggarakan Festival Jogo Kali di tahun 2003 sebagai bentuk pernyataan sikap kepada Pemerintah Kota Surabaya yang mengklaim hunian di bantaran kali merusak ekosistem.

Tidak hanya itu, kolektif ini di tahun yang sama juga menyelenggarakan Pameran Trotoar di trotoar depan gedung DPRD Kota Surabaya sebagai aksi protes terhadap kurangnya kepedulian Pemerintah Kota Surabaya terhadap seni dan budaya di Kota Buaya ini.

Dalam perkembangannya, kolektif ini menjadi Perkumpulan Palu Gede yang telah disahkan di depan notaris pada tahun 2010. Sejak saat itu, Perkumpulan Palu Gede menjadi kian aktif di berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kemanusiaan, tidak hanya di kota kelahirannya, namun juga di Indonesia.

Memasuki tahun 2020, Perkumpulan Palu Gede mengkhususkan diri pada issue-issue kesehatan, terutama kesehatan anak dan perempuan. Sebagai sebuah perkumpulan, antologi ini adalah kerja pertama. Diharapkan perkumpulan ini dapat mengakomodir issue-issue kesehatan anak dan perempuan melalui buku, pun tindakan nyata.

Sukir Anggraeni

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai