25 Februari 2024

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Belajar dari Kuba

0Shares

Bagaimana bisa mencerdaskan kehidupan bangsa jika akses pendidikan gratis, inklusif, demokratis dan ilmiah tidak terselenggara?

Para pencerdas dan anak-anak cerdas ini seolah hanya ada di sekolah-sekolah mahal yang bonafide.

Mereka menelurkan generasi-generasi emas dengan mindset yang cukup mumpuni juga rangkaian prestasi di berbagai kompetisi dan olimpiade.

Sekolah Gratis untuk Siapa?

Lalu di sekolah yang katanya gratis masih ada yang melakukan pungutan dengan aneka macam sebutannya biar terkesan masuk akal.

Infrastruktur yang buruk masih sangatlah banyak, apalagi suprastrukturnya? Ketiadaan guru di wilayah 3T serta honor guru terutama guru honorer yang tidak sebonafide kaum pejabat.

Sepelemparan batu dari ibukota saja masih banyak anak-anak sekolah usia belasan yang masih belum fasih membaca!

Pendidikan di Kuba

Sebaiknya contohlah bagaimana Kuba menjalankan sistem pendidikannya wahai Bung Menteri Nadiem Makarim.

Peperangan Kelas

Di sini di negeri Indonesia ini, dapat sangat jelas kita lihat pertarungan kelas yang amat nyata. Kapitalisme berjaya dan si miskin kumuh dan lumpen-lumpen proletar terasingkan.

Belum lagi korupsi dana BOS, nepotisme dan bagi-bagi kepeng sesama kroni dalam proyek anggaran, kualitas pendidikan yang kejar-kejaran dengan gonta-ganti program dan kurikulum, kerja-kerja administratif yang menyebabkan guru sibuk dengan tugas tersebut ketimbang memerhatikan perkembangan belajar siswa.

Aplikasi-aplikasi yang terus bertambah dan wajib diakses guru bikin makin mumet guru-guru baik muda maupun tua, belum lagi kenaikan golongan yang mengakibatkan guru fokus pada pembuatan penelitian baik secara mandiri maupun mempergunakan calo-calo akademis.

Pendidikan kita gagal, akui sajalah dan lalu kemudian perbaiki dengan mengetahui sebaik-baiknya bagaimana kondisi di lapangan, jangan terlalu memaksakan modernitas tanpa tahu perihal kesulitan akses dan kesulitan lainnya.

Bagaimana juga nasib mahasiswi/a kita yang terpaksa putus kuliah yang diakibatkan ketidakmampuan mereka membayar UKT dan lain sebagainya?

Beasiswa pun diskriminatif, hanya pada mereka yang pintar, hanya pada mereka yang miskin atau tidak mampu dengan dibuktikan adanya SKTM, hanya pada yang Hafidz qur’an dan lain-lain.

Selayaknya pendidikan dan beasiswa itu tersedia bagi semua tak peduli di kelas ekonomi mana mereka berasal.

Mila Joesoef

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai