24 Juni 2024

Review Film: I Can Speak

I Can Speak adalah sebuah film lama dari Korea Selatan tahun 2017. Diangkat berdasarkan kisah nyata jugun ianfu garapan Kim Hyun-seok dan didistribusikan oleh Lotte Entertainment. Film bergenre komedi dan drama dengan dua bahasa, Korea dan Inggris.
0Shares

Na Ok Bun

Na Ok Bun merupakan sosok yang menggambarkan kegigihan dan kepedulian sosial tinggi. Terutama terhadap para tetangga di lingkungan terkecilnya, pasar.

Kepeduliannya sering disalahartikan sebagai cerewet dan mengganggu. Walau tampak galak dan rewel tapi sesungguhnya, jauh di lubuk hatinya, Na Ok Bun memiliki hati yang lembut dan penuh kasih pada teman-temannya sesama penghuni kios pasar.

Perjuangannya Sebagai Penghuni Kios di Pasar

Kiosnya sendiri menyediakan jasa menjahit baju. Di antara keruwetan lorong-lorong pasar, berhembus berita mengenai rencana pembongkaran pasar. Hampir setiap hari Na Ok Bun berusaha mengumpulkan barang bukti yang mengarah pada rencana tersebut.

Semua bukti berupa foto-foto dan berkas keluhan dikumpulkan secara rapi bersama dengan sekian berkas pengaduan yang ia kirimkan ke kantor pelayanan masyarakat setempat.

Park Min Jae tiba di kantor pelayanan masyarakat. Ini hari pertamanya bekerja di wilayah itu setelah dipindahkan dari kantor lamanya. Sebagai seorang pegawai negeri sipil golongan 9, Park Min Jae bekerja dengan penuh dedikasi untuk melayani masyarakat dan berpegang pada prinsip untuk mematuhi aturan.

Bertugas di bagian depan untuk penerimaan pengaduan dari masyarakat. Dedikasi pada pekerjaan mempertemukan Min Jae dengan Ok Bun. Min Jae menerima Ok Bun saat teman-temannya diam-diam menghindar.

Ok Bun sudah menjadi langganan tetap dengan sekitar 8000 lebih pengaduan. Kehadirannya menjadi kengerian tersendiri karena setiap datang, Ok Bun pasti membawa setumpuk berkas pengaduan mengenai berbagai hal. Park Min Jae tetap melayani sesuai ketentuan antrean pengunjung.

Setelah berbicara, Min Jae baru menyadari banyaknya pengaduan yang dilayangkan oleh Ok Bun. Min Jae tidak dapat mengingkari tugasnya namun juga berusaha berkelit dari berkas pengaduan Ok Bun. Hingga suatu peristiwa membuatnya harus berhadapan dengan Ok bun sebagai pengajar bahasa Inggris.

Pertemuan Min Jae dengan Ok Bun

Tanpa bisa dihindari, Min Jae membuat kesepakatan untuk mengunjungi kios Ok Bun sebagai pengajar. Di kios ini Min Jae baru mengetahui bahwa adiknya memiliki hubungan yang akrab dengan Ok Bun.

Saat datang, Min Jae mendapati adiknya asik makan siang hasil masakan Ok Bun. Alasan Ok Bun sederhana, karena ia sering menegur adik Min Jae yang gemar makan ramen tanpa dimasak.

Dari sini kisah berlanjut hingga Min Jae mengetahui alasan sebenarnya mengapa Ok Bun begitu gigih belajar bahasa Inggris. Setelah Jeong Shim, sahabatnya sakit dan mulai tidak dapat mengenali sekitarnya, Ok Bun tergerak untuk meneruskan perjuangan sahabatnya, bersaksi dalam audiensi publik tentang “comfort women” di Washington D.C.

Dari sini Min Jae baru mengetahui kisah masa lalu Na Ok Bun dan Jeong Shim. Mereka bersama ratusan perempuan muda menjadi korban pendudukan tentara Jepang di Korea saat Perang Dunia II.

Korban Pendudukan Tentara Jepang

Ok Bun berusaha menutupi kisah memilukan ini dalam upayanya untuk memghilangkan trauma dan dapat melanjutkan hidupnya. Jauh setelah pendudukan Jepang berakhir, Ok Bun hidup sendiri sementara adik semata wayangnya, sejak kecil hidup terpisah di Amerika Min Jae kemudian membantu menerjemahkan bahan kesaksian Ok Bun.

Para tetangga pun turut mendukung setelah mengetahui kisahnya dari penayangan di televisi. Ok Bun kemudian terbang ke Amerika.
Ok Bun masih harus berjuang untuk meyakinkan pihak pemerintah bahwa dirinya juga adalah korban.

Bersama komisi HR121, Ok Bun berhasil meyakinkan pemerintah Korea. Hal ini juga berkat dukungan petisi yang digalang Min Jae di kantor dan beberapa pejabat penting. Hingga tiba saatnya memberi kesaksian. Ok Bun mendapat pertanyaan yang menyerang dan membuatnya tidak mampu bicara.

Dari Korea, Min Jae terbang ke Amerika untuk membawakan bukti berupa sebuah foto berisikan Ok Bun dan para perempuan muda yang berada di kamp tentara Jepang.

Saat tiba, Min Jae segera menyadari kegugupan Ok Bun. Penjaga pintu menahan Min Jae. Menyadari situasi ini Min Jae kemudian berteriak pada Ok Bun, “How are you?” Semua mata menoleh ke pintu. Berhasil, Ok Bun kembali mendapat kekuatan dan menjawab, “Fine, thank you.”

Semangat Ok Bun kembali dan ia mulai memberi kesaksian dengan membuka bagian perutnya untuk memperlihatkan luka-luka goresan yang diterimanya saat menjadi budak seks para tentara Jepang.

Tubuhnya adalah bukti kuat perlakuan kejam tentara Jepang. Dengan ini, Ok Bun menepis semua pertanyaan yang meragukan dirinya. Di akhir kesaksian, pihak pemerintah Jepang tetap menyerang dengan kalimat tajam.

Tentang I Can Speak

I Can Speak adalah sebuah film lama dari Korea Selatan tahun 2017. Diangkat berdasarkan kisah nyata jugun ianfu garapan Kim Hyun-seok dan didistribusikan oleh Lotte Entertainment. Film bergenre komedi dan drama dengan dua bahasa, Korea dan Inggris.

Beberapa adegan mengambil lokasi di Amerika termasuk untuk adegan kesaksian Na Ok Bun pada Kongres Amerika Serikat dilakukan di Richmond, Virginia, Amerika Serikat. Penulis naskah Yoo Seung-hee serta Produser Lee Ha-young. Dibawah naungan Perusahaan produksi Myung Films, See Sun.

Film dengan durasi 119 menit mulai dirilis pada 21 September 2017. Pemeran utama adalah artis senior Na Moon-hee sebagai Na Ok Bun dan Lee Je-hoon, yang baru-baru ini dikenal lewat permainannya di drama Korea Taxi Driver, sebagai Park Min Jae. Sejak dirilis film ini sukses merajai box office Korea dengan total 3.001.767 penonton.

Data tersebut dirilis oleh Badan Perfilman Korea (KOFIC), pada 11 Oktober 2017. Film ini berhasil menggaet 20.771 penonton dari 611 layar bioskop di seluruh Korea Selatan. Melansir Variety, film indie itu menjual 727.000 tiket dalam 4 hari terakhir dan menghasilkan sekitar USD5,18 juta (Rp68,89 miliar).

Dengan pendapatan kotor US$23,3 juta. Hal ini sekaligus menguasai 46 persen komposisi penjualan tiket di box office Korea Selatan.

Secara fantastis, I Can Speak berhasil memenangkan hadiah untuk proyek skenario “Comfort Women” yang disponsori oleh Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga. Kompetisi ini dimenangkan dengan tingkat seleksi 75:1.

Selain itu, film ini juga terpilih untuk dukungan produksi film keluarga dari Korean Film Council. Berbagai penghargaan juga berhasil diraih, secara khusus Na Moon Hee memenangkan kategori “Aktris Terbaik” lebih dari lima kali lewat film ini.

Berbagai penghargaan tersebut adalah dari 1st The Seoul Awards Na Moon-hee dinobatkan sebagai Best Actress. Dinominasikan dalam 11th Asia Pacific Screen Awards sebagai Best Actress.

Pada 37th Korean Association of Film Critics Awards sebagai Best Actress. Film ini juga memenangkan penghargaan pada ajang Top 10 Films of the Year.

Sementara dari 38th Blue Dragon Film Awards Kim Hyun-seok memenangkan penghargaan sebagai Best Director. Na Moon-hee juga memenangkan Best Leading Actress dan Popular Star Award.

Sementara Yeom Hye-ran dinominasikan sebagai Best Supporting Actress. Dalam 17th Director’s Cut Awards, I Can Speak dinobatkan sebagai Films of the Year.

Lagi-lagi Na Moon-hee dinobatkan sebagai Best Actress dalam 4th Korean Film Producers Association Awards Won dan pada 18th Women in Film Korea Awards Woman in Film of the Year. Cine 21 Awards menobatkan Best Director pada Kim Hyun-seok.

Dan Na Moon-hee menjadi Best Actress 9th KOFRA Film Awards. Kembali memenangkan Best Actress pada 54th Baeksang Arts Awards. Sebagai pendatang baru, pada tahun itu, Lee Je-hoon dinobatkan sebagai Best Actor pada 1st Resistance Film Festival in Korea.

Berlatar Belakang Kisah Jugun Ianfu

Film yang menuai sukses ini menarik perhatian terutama karena latar belakang cerita yang mengisahkan tentang jugun ianfu. Sejak tahun 1910-1945, Jepang menduduki Korea pada masa Perang Dunia II.

Selama kurun waktu itu, lebih dari 200.000 perempuan Republik of Korea, Vietnam, China, Filipina dan Indonesia dijadikan budak seks atau sering disebut dengan Comfort Women oleh Jepang untuk para tentaranya yang berperang dan sebagian besar perempuan itu berasal dari Republik of Korea.

Jugun Ianfu berasal dari bahasa Jepang, ‘Ju’ berarti ikut, ‘gun’ berarti bala tentara atau militer. ‘Ian’ berarti kenyamanan atau hiburan dan ‘fua’ dalah perempuan. Jugun Ianfu adalah kebijakan perbudakan seks secara massal, brutal, dan sistematis, yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan biologis tentara Jepang di daerah peperangan, dimana mereka di tempatkan.

Selama hampir 23 (dua puluh tiga) tahun sejak tahun 1992 hingga 2015, masyarakat sipil dan aktivis terus melakukan aksi turun ke jalan dan aksi demonstrasi menuntut keadilan bagi Jugun Ianfu.

Selain tuntutan permintaan maaf dan kompensasi, ada beberapa tuntutan lain yakni mengenai pengakuan formal terhadap sejarah dan keberadaan Jugun Ianfu. Pengakuan ini menjadi penting bagi para Jugun Ianfu agar sejarah ini diketahui oleh masyarakat Jepang dan kemudian dijadikan pembelajaran agar tidak lagi dilakukan dimasa yang akan datang.

Bentuk pengakuan yang dapat dilakukan adalah dengan memasukan Jugun Ianfu sebagai bagian dari perundang-undangan atau kurikulum sejarah. Sehingga Jugun Ianfu tidak dipandang sebagai mitos belaka dan diakui keberadaannya.

Selain bukti sejarah, Republik of Korea juga menuntut hukuman yang setimpal bagi para pelaku.

Terkait penyelesaian permasalahan Jugun Ianfu, Perdana Menteri Shinzo Abe pada Maret 2014, menolak untuk merevisi permintaan maaf Jepang yang telah disampaikan oleh Korea pada tahun 1993, hingga Presiden Park Geun Hye memanggil Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mengusahakan rekonsiliasi bilateral atas penyelesaian isu ini pada November 2015.

Menteri Luar Negeri Fumio Kishida dan Menteri Luar Negeri Yun Byungse mengumumkan hasil rekonsiliasi bilateral melalui konferensi pers gabungan. Menteri Luar Negeri Kishida mengumumkan upaya rekonsiliasi penyelesaian isu Jugun Ianfu menghasilkan sebuah agreement pada tahun 2015 yang dinamakan “Comfort Women Agreement” dengan meyepakati 3 (tiga) hal yaitu permintaan maaf, kompensasi dan bahwa perjanjian ini bersifat akhir dan tidak dapat diubah lagi.

Di bulan Mei ini, perjuangan masyarakat bagi keadilan para jugun ianfu mengingatkan kita pada tragedi kelam perkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998. Para korban masih menunggu keadilan.

Rasa sakit, trauma bahkan hingga kematian akan tetap menjadi bagian dari sejarah kelam. Dalam peringatan 25 tahun reformasi, sejarah kelam tersebut hendaknya juga menjadi pembelajaran bagi kita. Untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Ernawati

*) Kirim tulisanmu untuk dimuat di www.suluhperempuan.org melalui email suluhperempuanindonesia@gmail.com dengan subject “kontributor super”

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai