25 Februari 2024

Obituari Neng Yati, Pejuang dari Jelambar

0Shares

Jakarta – Hari ini kami sedih dan menangis mendengar kabar duka. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibu Neng Yati pada Hari Minggu, 20 Agustus 2023 pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Barat.

Neng Yati (52 Tahun) adalah seorang istri dan ibu dari dua orang anak laki-laki dari keluarga sederhana. Seorang putranya telah meninggal di usia 13 tahun karena sakit paru-paru. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di PT Indo Daya Cipta Lestasi dan sempat mengalami kecelakaan kerja sehingga harus mendapatkan perawatan dan pengobatan serius. Berkat kesabarannya mendampingi proses penyembuhan, kini suami sudah sehat dan aktif kembali.

Neng Yati adalah seorang perempuan miskin yang gigih memperjuangkan nasib kaumnya. Ia bergabung ke sebuah organisasi yang bernama Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) yang kini berubah nama menjadi Serikat Rakyat Mandiri Indonesia SRMI). Tak hanya sebagai anggota biasa, Neng Yati aktif sebagai  Bendahara SRMI, Bendahara Koperasi Rasuna Said dan Bendahara DPKc PRIMA Grogol, Petamburan, Jakarta Barat.

Sebagai aktifis perempuan, Ia menghadiri Konferensi Nasional Perempuan Indonesia di Wisma PKBI pada tahun 2014 yang memandatkan pembentukan organisasi massa perempuan bernama Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini). Pada Kongres API Kartini II, API Kartini berubah nama menjadi Suluh Perempuan.

Ibu Neng Yati berdiri nomor tiga dari kiri mengikuti Dikpol API Kartini

Saat Tim Redaksi Suluh Perempuan melayat ke rumah duka. Banyak orang yang merasa kehilangan. Kepergian Neng Yati terasa begitu cepat sehingga membuat keluarga, sanak saudara, tetangga dan teman-teman seperjuangan tak percaya.

Orang Miskin Dilarang Sakit

“Bu Neng bagi saya sudah seperti saudara. Dimana ada dia di situ ada saya begitu juga sebaliknya. Saya ingat kami pernah mengadvokasi warga untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit,” kata Bu Fatimah sahabat dan kawan dekatnya.

Menurut Bu Fatimah, hari sudah sangat larut malam dan pulangnya mereka tersesat karena ada penutupan jalan. Alih-alih mendapatkan jalan alternatif motor mereka justru terjebak banjir setinggi dada. Hingga mereka pun harus mencari pertolongan.

Saat itu belum ada sistem BPJS seperti sekarang. Banyak warga miskin yang sakit takut berobat ke dokter karena biaya mahal. Warga miskin juga kesulitan mendapatkan akses berobat di Rumah Sakit. Kondisi inilah yang memunculkan istilah “Orang Miskin Dilarang Sakit”. Di situlah peran Bu Neng Yati dan Fatimah selaku relawan dan kader SRMI dibutuhkan. Mereka mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT/RW dan memastikan agar Rumah Sakit terdekat mau merawat dan mengobati pasien miskin.

Sebagai kader di tingkat Kelurahan, Ibu Neng Yati aktif menjadi panitia setiap HUT Kemerdekaan RI. Pada perayaan kali ini pun Ibu Neng Yati masih aktif mengumpulkan donasi dari warga, membuat lomba dan membagikan hadiah kepada warga.

“Terakhir dia bilang, ini Agustus terakhir kita jadi panitia. Tahun depan saya sudah tidak jadi panitia lagi. Biarkan orang lain dan anak-anak muda yang menjadi panitianya,’ kata Bu Tari.

Begitulah, ternyata itu adalah firasat dan pesan terakhir yang disampaikan Bu Neng kepada kawan-kawan dan sahabat tercintanya.

Selamat jalan Bu Neng Yati. Beristirahatlah dengan damai di alam sana. Kami yang akan melanjutkan perjuangan dan cita-citamu. Memberi obor bagi kaum miskin dan papa. Agar bangsa ini mampu mencapai cita-cita kemerdekaannya. Mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Rest In Love….

Humaira

Neng Yati nomor dua dari kiri saat mengikuti FGD di Wisma PGI
0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai