25 Februari 2024

Ambil Uangnya, Jangan Pilih Orangnya

0Shares

“Kalau di kasih duit, ambil aja duitnya tapi jangan pilih orangnya, biar kapok,”  kata Rieke Dyah Pitaloka pada acara Women Resilience in Politics: Strategi Pemenuhan untuk Penguatan Konsolidasi Demokrasi di Indonesia di @america, Pacific Place, Lantai 3 pada Rabu, 30 Agustus 2023.

Kalimat itu berasal dari seorang artis dan aktivis politik. Dia adalah salah satu perempuan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kalimat itu terasa membanggakan karena dari seorang artis di acara yang penting bagi sejumlah tokoh politik perempuan. Selama ini labeling masih terjadi pada artis yang terjun ke dunia politik. Di mana bagi kita, terutama saya pribadi melihat mereka hanyalah sebagai “cheers leaders” saja atau sebagai penggembira.

Baca Juga: Perempuan, Politik dan Kuota

Popularitas VS Kualitas

Banyak partai politik mendulang dan mendongkrak perolehan suaranya dengan merekrut para artis menjadi calon legislatif (Caleg). Mereka sering mendapat keistimewaan dibandingkan kader partainya sendiri yang merangkak dari bawah. Bagi seorang artis, (kayaknya) hanya dengan modal kepopuleran saja mereka bisa menjadi anggota Dewan yang terhormat, untuk menjadi wakil rakyat di legislatif. Di sisi lain, kita tak pernah tahu bahwa ternyata seorang artis juga bisa menjadi pembelajar yang hebat. Siapapun, termasuk artis bisa memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan tugas dan fungsi mereka di pemerintahan.

Bagaimana seorang artis yang biasa mendapat bayaran tinggi kemudian menjadi anggota Dewan? Sepanjang pengamatanku, rata-rata kinerja mereka negatif. Seharusnya, sebagai wakil rakyat yang memperjuangkan hak rakyat di bidang legislatif itu memahami persoalan – persoalan rakyat yang mendasar.

Kita butuh wakil rakyat yang mengerti dan menjalani serta memiliki bukti bahwa ia adalah seorang yang memberikan waktu, tenaga dan keilmuannya demi rakyat yang ia wakili. Karena mereka terpilih dan mendapat gaji dari uang rakyat maka yang sejatinya haruslah dikembalikan kepada kemaslahatan rakyat melalui kerja – kerja politiknya yang nyata. Bukannya malah masuk kesalon perawatan dan menghabiskan uang berpuluh juta. Padahal uang yang dia terima adalah uang rakyat, tetapi…whatever-lah.

Politik dan Serangan Fajar

Keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat hari ini memang seyogyanya mencapai 30%. Tetapi hematnya bukan berarti untuk memenuhi kuota tersebut partai – partai mencari wakil – wakil rakyat dengan mengenyampingkan seleksi kualifikasi. Kita mengacu pada komentar wakil rakyat di atas. Bahwa banyak dari calon legislatif tersebut yang mencari dan mencuri perhatian konstituennya dengan uang. Atau dengan istilah kerennya, money politics. Maka lazim jika ada ungkapan uangnya ambil saja, tapi tolak ketika harus memberi suara kepada calon legislatif tersebut. Biar Kapok, katanya.

Dalam hal ini rakyat bisa memberikan sedikit pembelajaran kepada mereka yang mau menjadi wakil – wakil rakyat. Calon legislatif yang mencari jalan untuk menang pemilihan dengan cara seperti itu. Mereka haruslah paham bahwa untuk menjadi wakil rakyat di perlemen dibutuhkan kemampuan untuk mengemban tugas secara profesional  dan amanah. Bukan karena modal uang banyak saja.  Rakyat, yaitu kita yang memiliki tanggung jawab mendidik seluruh elemen masyarakat kita. Sama – sama menyadari bahwa kualitas calon legislatif yang kita butuhkan itu seperti apa. Masyarakat harus memilih dan menentukan calon – calon wakilnya seperti apa. Wakil rakyat seharusnya adalah personal yang  mereka percayai dan memiliki nilai – nilai leadership yang mumpuni.

Baca Juga: Peluang Perempuan Dalam Sistem Proporsional Terbuka

Nilai dan norma mengenai kualitas dan kualifikasi seperti apakah yang kita butuhkan untuk menjadi pemimpin di dalam pemerintahan kita mau pun  dalam lingkungan terkecil kita yaitu keluarga. Menariknya, hal ini sangat terkait langsung pada peran dan pengaruh dari seorang perempuan dan ibu.

Kita memang harus tegas ketika berbicara tentang hal ini. Dan seharusnya tersinggung ketika ada yang berani terjun ke dunia politik kemudian datang pada kita dengan serangan fajar. Memang ada komentar “Hah, jangan munafiklah, hari gini siapa sih yang nolak di kasih duit”. Yah jangan ditolak duitnya. Tapi tolaklah calon legislatif yang seperti  itu. Apakah kita mau memiliki wakil rakyat yang seperti itu? Suara kita yang akan ikut menentukan produk – produk peraturan dan hukum yang dihasilkan oleh wakil rakyat dengan kualitas seperti itu.

Bukan Pelengkap Penderita

Perempuan memang sudah saatnya menyadari bahwa ia bukanlah lagi sekedar “pelengkap penderita” dalam dunia poltik. Tetapi sudah seharusnya tampil sebagai bagian yang memberikan pengaruh signifikan kepada kualitas dunia politik. Perempuan haruslah tetap memiliki kualifikasi yang mencerminkan amanah keterwakilan itu sendiri.

Bahkan untuk mewujudkan dan menyukseskan program yang bersifat global, peran para ibu sangatlah memberikan kontribusi besar. Agenda menyelamatkan planet bumi dari sampah plastik dibutuhkan berhasilnya program pengelolaan sampah. Dan para perempuan lah kuncinya, turut serta pada pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.

Nah, kesadaran politik masyarakat kita pun juga sangat ditentukan ternyata oleh seorang perempuan. Maka bersikaplah yang tepat wahai perempuan ketika anda harus memberikan suara politik anda.

Reno Ranti

Baca Juga: Mengapa Perempuan Harus Berpolitik?

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai