3 Desember 2023

Rahmah El Yunusiah, Ulama Perempuan yang Melawan

0Shares

Rahmah El Yunusiah merupakan sosok perempuan pemberani yang terlahir dari keluarga progresif. Ia lahir di bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, 29 Desember 1900. Lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Ia terkenal keras hati dalam memperjuangkan keinginannya.

Sang kakek bernama Imanudin adalah seorang ahli ilmu falak dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah di Minangkabau. Ayahnya, Syekh Muhammad Yunus adalah seorang Qaddi/hakim yang ahli ilmu falak dan hisab di Pandai Sikat. Sedangkan ibunya bernama Rafiah adalah salah satu anggota keluarga dari Haji Miskin, ulama pemimpin Perang Padri di awal abad ke-19.

Rahmah sangat dekat dengan ibu dan kakaknya. Sang kakak bernama Zainuddin Rasyad adalah ulama muda revolusioner yang mengubah sistem pendidikan sekolah agama menjadi pendidikan modern. Sekolah tersebut diperuntukkan tidak hanya untuk laki-laki tapi juga buat perempuan. Sekolah milik Zainuddin merupakan sekolah Islam pertama di Indonesia yang memperbolehkan Perempuan dan laki-laki bersekolah di tempat yang sama.

Masa Kecil Hingga Remaja

Awal pendidikan Rahmah diperoleh dari sang ayah dan dilanjutkan oleh kedua kakaknya. Meskipun hanya sebentar, karena ayahnya meninggal pada saat ia masih kanak-kanak. Selanjutnya, selain itu Rahmah kecil juga telah mendapat pendidikan formal sekolah dasar selama tiga tahun di kota kelahirannya, Padang Panjang.

Tidak hanya belajar dengan kakaknya, Rahmah juga berguru dengan para ulama di Minangkabau seperti Haji Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang-Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi, dan Syaikh Daud Rasyidi. Bila di waktu paginya belajar di madrasah maka pada setiap sorenya, Rahmah rutin mengaji pada Haji Abdul Karim Amrullah yang merupakan ayah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka di surau Jembatan Besi, Padang Panjang.

Di sini ia memperdalam pengajian mengenai masalah agama dan wanita, disamping itu juga ia mempelajari bahasa Arab, fiqih dan ushul fiqih. Selama proses belajar inilah telah banyak mempengaruhi pemikiran Rahmah untuk melakukan pembaharuan pendidikan. Pada usia 16 tahun Rahmah menikah dengan seorang mubalig dan ulama muda berpikiran maju bernama H. Baharuddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Pada tahun 1922, suami Rahmah berniat untuk menikah lagi dan meminta izin untuk poligami. Namun, Rahmah memilih untuk bercerai daripada dimadu oleh suaminya.

Aktif dalam Gerakan Perempuan

Pasca bercerai, Rahmah semakin aktif dalam Gerakan Perempuan dan perjuangan pendidikan di Sumatera. Bahkan ia dipercaya memimpin rapat kaum ibu di Padang Panjang. Rahmah berjuang agar ibu-ibu dan kaum Perempuan harus melek pendidikan. Kegigihan Rahmah mendidik kaum Perempuan dan memimpin rapat-rapat dicurigai oleh pihak kolonial Belanda. Suatu Ketika rapat yang dipimpin oleh Rahmah diawasi pihak Belanda. Ia bahkan dedenda 100 gulden dan dituduh membicarakan politik dan menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS).

Rahma tidak pernah kapok. Ia berpandangan bahwa perjuangan meningkatkan derajat kaum Perempuan harus dilakukan oleh kaum ibu dan Perempuan. Ia mendirikan Diniyah Putri School Padang Panjang, tepatnya pada 1 November 1923. Ia sendiri yang mengelola perguruan itu dengan belajar kepada sang kakak.

Prinsip Non-Kooperatif

Setahun berjalan, tahun 1924 kakaknya meninggal. Rahmah amat terpukul. Ia harus belajar lebih keras untuk mengurus perguruannya sendiri sambal memagang teguh prinsipnya. Ia ingin berdikari di atas kakinya sendiri. Sehingga ia menolak subsidi pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian sekolahnya. Ia lebih memilih perjuangan non-kooperasi dengan pemerintah kolonial.

Demikian pula saat M Zen Djambek, ulama Minangkabau menawarkan bantuan untuk Pembangunan gedungnya, Rahmah tetap tak ingin menerima bantuan dan menolaknya secara halus. Untuk mengembangkan perguruannya, Rahmah mengumpulkan dana dari ceramahnya di berbagai kota. Seperti di Aceh, Sumatera Utara, Semenanjung Melayu selama tahun 1926.

Usaha Rahmah berhasil karena sekolahnya makin berkembang. Bahkan ia mendirikan sekolah lagi di Batavia. Rahmah juga mengetuai Khutub Khanan, sejenis Taman Bacaan untuk kaum perempuan. Menurutnya, Perempuan harus belajar, terdidik dan pintar.

Hingga pada tahun 1935, Rahmah mewakili Perempuan Sumatera Tengah datang ke Kongres Perempuan di Bandung. Tekadnya sudah bulat, Ia tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan kemerdekaan dan hak Perempuan untuk dapat mengakses Pendidikan yang layak.

14 tahun setelah itu, tepatnya pada 7 Januari 1949, ia ditangkap tentara Belanda di tempat persembunyiannya di Gunung Singgalang. Kehadirannya di tengah Laskar dianggap mengobarkan perlawanan kepada Belanda. Rahmah pun ditahan selama 9 bulan.

Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai