15 April 2024

Ruang Rasa, Menembus Stigma dan Diskriminasi Transpuan

0Shares

Dewasa ini, ketetapan heteronormatif menjadi indikator penting dalam ukuran Masyarakat, meski sebenarnya ada banyak fakta yang tidak bisa disangkali bahwa gender di Indonesia ini memiliki kemajemukan.

Pemahaman dengan parameter yang bias ini menimbulkan beragam persekusi dan diskriminasi bagi kelompok transpuan di Indonesia. Sayangnya reproduksi pengetahuan ini malah berasal dari pemahaman “agama” yang menganggap mereka sebagai bagian dari manusia yang melakukan penyimpangan nilai-nilai  agama.

Sentimen agama  terhadap kelompok transpuan juga menjelma dalam kebudayaan masyarakat yang lebih luas. Menjadi transfobia yang begitu anti terhadap transeksualitas dan menjadikan heteronormatif sebagai bagian dari rujukan utama jenis kelamin. Pemahaman ini mengakomodir laki-laki dan perempuan sebagai jenis kelamin yang paten, ajeg, dan normal dalam anggapan masyarakat.

Tentu saja ini merupakan pandangan bias yang tidak bisa kita terima secara logika maupun secara sains. Pun ini menjadi berbahaya karena dijadikan legitimasi dalam berbagai kebijakan politik, termasuk beragam perda yang diskriminatif. Sikap antipati semacam ini mendukung narasi-narasi agresif dan sangat reaksioner, termasuk resisten terhadap ilmu pengetahuan. Padahal dalam analisis gender kita tidak bisa mempreteli gender lain dan menormalisasi segala sesuatu dalam landasan heteronormatif.

Pendisiplinan pada kelompok transpuan, menjadi lebih luas ketika manusia kehilangan akal sehat, memakai ilmu agama sebagai landasan kacamata iman melihat siklus hidup transpuan. Dalam konteks ini, agama bisa menjadi berbahaya dan mengalami dehumanisasi, dan menjadi  rujukan superior yang tidak berimbang dengan ilmu pengetahuan.

Dari situasi ini, kekerasan dan persekusi bereproduksi dengan sangat beragam pada kehidupan transpuan. Seperti corrective rape atau perkosaan korektif dengan alasan menyembuhkan orientasi seksualnya. Tentu ini bias dan melanggar hak asasi manusia. Ini adalah kekerasan struktural, yang tidak bisa dinormalisasi. Di sisi lain, transpuan kesulitan mendapat pekerjaan, sulit terhadap akses pendidikan yang layak, jaminan kesehatan yang layak, hingga tidak adanya jaminan ruang aman di tengah-tengah Masyarakat.

Pemeran Seni Ruang Rasa

Pameran Seni Ruang Rasa yang diadakan Sanggar Swara bekerjasama dengan transcreative, di Goethe Institute, pada 20-24 Maret 2024. Pameran ini merupakan sebuah ruang kolaborasi yang dibalut dengan pendekatan hak asasi manusia, feminisme dan seni. “Ruang Rasa” memberi medium bagi beragam transpuan untuk mengekspresikan pengalaman dan perjuangan hidup sebagai transpuan ditengah maraknya kriminalisasi, persekusi hingga kekerasan seksual.

Pameran ruang rasa menjadi ekspresi seni yang menggambarkan dengan begitu gamblang polemik menjadi transpuan di Indonesia, hingga lapisan kesulitan, ketakutan yang membayangi. Pameran ruang rasa juga membuka beragam fakta bahwa ada perjuangan, keberanian, solidaritas bagi transpuan untuk bertahan ditengah-tengah pengabaian negara atas hak hidup mereka.

Pameran Ruang Rasa juga membawa kita berjalan-jalan merasakan ekspresi dan lapisan ketertindasan menjadi transpuan. Kita diajak menyelami  memposisikan diri menjadi transpuan yang di stigma, mendapat stereotipe, label negatif, keterasingan, menghadapi amarah masyarakat. Mereka juga mengalami kebencian atas nama agama, stigma, diskriminasi, pembungkaman, emosi, trauma, luka, di objektifikasi secara seksual, hingga bayang-bayang kekerasan yang mengancam nyawa.

Pameran ruang rasa sedang mengajak kita, untuk belajar memahami pengetahuan dalam berbagai sudut pandang. Pengetahuan dalam melihat pengalaman fisik, orientasi seksual, identitas gender manusia yang majemuk atau beragam. Pameran ruang rasa juga menjadi medium kritis bahwa nilai-nilai heteronormativitas yang memang tidak relevan untuk dijadikan rujukan dalam sudut pandang keberagaman. Pameran ruang rasa secara persuasif menjadi upaya kolektif untuk membuka dan merombak cara pandang normatif untuk menjadi lebih inklusif dan humanis.

Fen Budiman

*Penulis adalah Perawat dan Sekjen DPP Suluh Perempuan

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai