25 Juli 2024

Sagea dan Ancaman industri Ekstraktif

0Shares

Hikayat Sagea

Sagea adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Desa ini dikenal karena keindahan alamnya dan potensi wisata yang menarik,  dikelilingi oleh hutan tropis dan memiliki pemandangan alam yang indah, termasuk sungai-sungai yang jernih dan pegunungan yang menakjubkan.

Salah satu daya tarik utama di desa ini adalah Gua Sagea, yang memiliki formasi batuan stalaktit dan stalagmit yang spektakuler. Gua ini juga memiliki sungai bawah tanah yang menarik bagi para pengunjung. Desa Sagea juga menawarkan pengalaman budaya lokal, di mana pengunjung dapat belajar tentang kehidupan sehari-hari dan tradisi masyarakat setempat. Potensi untuk ekowisata di Desa Sagea pun sangat besar, karena kelestarian alamnya yang masih terjaga dan berbagai flora dan fauna yang bisa ditemukan di sana.

Untuk mencapai Desa ini, dari ibu kota Indonesia, Jakarta, kita perlu melalui beberapa tahap perjalanan yang melibatkan transportasi udara dan darat. Dimulai dari penerbangan dari Jakarta ke Bandara Sultan Babullah (TTE) di Ternate, Maluku Utara. Dari Ternate, nantinya kita melanjutkan perjalanan dengan transportasi laut lewat Pelabuhan semut mangga dua menuju wilayah Sofifi yang merupakan ibukota provinsi, dan kemudian memakai transportasi darat menuju Weda, ibu kota Kabupaten Halmahera Tengah. Dari Weda, kemudian kita melanjutkan perjalanan darat menggunakan kendaraan pribadi, taksi, atau angkutan umum menuju Desa Sagea di Kecamatan Weda Utara. Perjalanan ini bisa memakan waktu beberapa jam tergantung kondisi jalan dan cuaca.

Ancaman Pertambangan hingga kerusakan Ekologis

Aktivitas pertambangan, terutama penambangan nikel yang marak di Halmahera, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Penambangan sering kali melibatkan pembukaan lahan besar-besaran, penggalian tanah dan batuan dalam skala besar, yang dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi. Sungai-sungai jernih itu tidak lagi seindah sedia kala. Kerusakan ekosistem di Sagea, khususnya yang menyebabkan kekeruhan Sungai Sagea, merupakan isu yang penting untuk dibahas. Kerusakan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan yang tentu berkontribusi pada perubahan alam.

Sisi lain, Deforestasi ini menghilangkan lapisan vegetasi yang melindungi tanah, sehingga meningkatkan risiko erosi. Tanah yang tererosi dapat terbawa ke sungai, partikel-partikel tanah dan batuan ini dapat terbawa aliran air dan menyebabkan kekeruhan di Sungai Sagea.

Di sisi lain, aktivitas penambangan gua, material yang digali dan dibuang sembarangan dapat mengalir ke sungai dan menyebabkan kekeruhan. Meskipun nikel memiliki banyak kegunaan dalam industri modern, tetapi masyarakat lokal di Sagea mungkin bergantung pada pertanian, perikanan, dan kegiatan subsisten lainnya yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Pertambangan nikel dapat merusak lahan pertanian dan mengganggu ekosistem perairan, sehingga mengancam mata pencaharian tradisional. Sagea memiliki potensi besar untuk ekowisata berkat keindahan alamnya, termasuk formasi karst dan keanekaragaman hayati. Ekowisata dapat memberikan sumber pendapatan berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Pertambangan nikel, dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan, dapat merusak daya tarik wisata alam. Sagea hanya satu dari sekian banyak kerusakan ekologis yang disebabkan oleh industri ekstraktif, yang tentu saja merugikan masyarakat, perempuan, anak dan seluruh makhluk hidup.

Milla Joesoef
(Wasekjen Suluh Perempuan)

sumber foto: Mongabay
0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai