23 Mei 2026

Memecahkan Kesunyian Lewat Film Suamiku Lukaku

0Shares

Film “Suamiku Lukaku” hadir bukan sekadar sebagai drama keluarga, tetapi juga membawa pesan sosial tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan dalam relasi yang kerap tersembunyi di balik citra keluarga harmonis. Diproduksi oleh SinemArt, film ini mengangkat kisah tentang luka yang tak selalu terlihat, keberanian untuk bersuara, serta pentingnya dukungan bagi korban kekerasan.

Dalam press screening dan konferensi pers yang digelar di Jakarta, para pemain dan kru film berbicara mengenai proses emosional selama produksi hingga harapan agar film ini bisa membuka kesadaran publik.

Film yang disutradarai oleh Viva Westi dan Sharad Sharan ini terinspirasi dari realitas bahwa satu dari empat perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan dalam relasi. Melalui kampanye #memecahkankesunyian, film tersebut ingin mengajak masyarakat berhenti menormalisasi kekerasan.

Tokoh utama Amina, yang diperankan Acha Septriasa, digambarkan hidup dalam relasi penuh kekerasan bersama suaminya, Irfan, yang dimainkan Baim Wong. Kekerasan yang dialami Amina tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga kekerasan verbal yang meninggalkan luka batin mendalam.

Baim Wong mengaku sempat terkejut ketika pertama kali mendapat tawaran memerankan pelaku KDRT. Setelah cukup lama vakum bermain film dan lebih banyak berada di belakang layar sebagai sutradara, ia merasa proyek ini berbeda dari tawaran-tawaran sebelumnya.

“Saya terakhir main (bintangi film) itu tahun 2023, habis itu saya nge-direct terus, ada tawaran cuma buat saya yang ini kerasa beda pas ditawarin. Habis itu saya bilang ‘apa temanya? KDRT. Kok gue?’,” kata Baim.

Baim Wong dalam satu adegan pada film “Suamiku Lukaku”. Foto: The publicist

Namun setelah mendengar penjelasan lebih jauh dari tim produksi, ia melihat ada pesan penting yang ingin disampaikan lewat film tersebut.

“Akhirnya ke kantor saya dan menjelaskan. Saya juga menjelaskan dari segi saya karena waktu itu lagi ramai juga. Saya bilang kalau butuh dari aktingnya saya mau. Karena saya enggak pernah main lagi, ini suatu hal yang baru dan satu tujuannya itu mulia,” ujarnya.

Baim juga menilai lawan main menjadi faktor penting dalam membangun adegan-adegan emosional yang intens. Menurutnya, adegan kekerasan membutuhkan pengaturan blocking yang matang agar tetap aman tetapi terasa kuat di layar.

“Tapi satu saya mau tahu siapa lawan mainnya. Karena buat saya itu penting ya, karena kalau di skrip kan begitu aja, tapi yang paling susah blocking-nya,” katanya.

Dalam beberapa adegan, Baim bahkan melakukan improvisasi tanpa memberi tahu Acha terlebih dahulu agar reaksi yang muncul terasa lebih alami.

“Kalau script kan kertas doang cuma disuruh ini, cuma kan di sana blocking-nya itu sangat luas. Makanya kadang-kadang saya enggak kasih tahu hint-nya ke siapa, ke Acha saya mau ngapain supaya dia kaget,” ujarnya.

Ia mengingat salah satu adegan yang paling membekas saat memegang wajah Acha tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Pas cut dia (Acha) sudah teriak ‘seumur hidup gue, gue enggak pernah ya diginiin’. Jadi buat saya lawan main itu penting banget, untung Acha,” tambahnya.

Baim mengatakan chemistry dengan Acha terbangun dengan mudah karena keduanya sudah lama saling mengenal.

“Kita sebenarnya sudah lama sih temenan, habis itu ketemu lagi. Terus pas waktu pertama kali syuting kita lama ngobrol di belakang, akhirnya chemistry itu gampang timbul lagi,” katanya.

Sementara itu, Acha Septriasa menilai Baim berhasil keluar dari persona yang selama ini melekat pada dirinya.

“Karena yang saya tahu Baim kan selama ini kalau di film lebih banyak dia menjadi Baim Wong. Di sini saya ngelihat enggak kayak Baim Wong, justru malah saya ngelihat sosok aktor yang baik sekali dalam memancing adegan. Saya harap mudah-mudahan Baim jangan kapok sebagai aktor,” tutur Acha.

Bagi Acha sendiri, memerankan Amina menjadi pengalaman yang sangat menguras fisik dan mental. Ia mengaku sampai mengalami pecah pembuluh darah di wajah akibat pengulangan adegan emosional berkali-kali.

Acha Septriasa dalam satu adegan film Suamiku Lukaku. Foto: tangkapan layar chanel youtube CGV Kreasi

“Ketika udah take satu, take dua, dan pasti shot-nya kan lebih dari tujuh, akhirnya ulang 20 kali tuh. Itu sampai pembuluh darah saya tuh di muka pecah-pecah gitu. Itu enggak tahu karena stres atau karena saya juga kepikiran,” ujarnya.

Awalnya, ia mengira bercak merah di wajahnya disebabkan alergi make up. Namun setelah diperiksa, ternyata pembuluh darah di wajahnya pecah akibat tekanan fisik dan emosional selama syuting.

“Saya pikir alergi makeup, tapi ternyata itulah semua pembuluh darah di muka saya pecah udah kayak sapu lidi satu muka tuh isinya merah-merah. Jadi ternyata ketika kita akting pun karena kita melakukannya dengan jujur akhirnya efeknya juga ke badan juga,” katanya.

Tidak hanya secara fisik, proses mendalami karakter Amina juga memengaruhi kondisi mentalnya.

“Kalau secara mental ya pastinya tetap ada rasa hopeless-nya ya, kayak saya pengen aja setiap adegan yang terlahirkan di film ini tuh bisa benar-benar nantinya menyentuh hati yang nonton sebagai hiburan juga sebagai entertainment,” ujar Acha.

“Tapi juga di satu sisi bisa turut merasakan apa yang dirasakan Amina sehingga tidak ada lagi yang namanya istri-istri yang menderita di luar sana gitu,” tambahnya.

Selain kisah pasangan utama, film ini juga menghadirkan karakter ibu yang diperankan Ayu Azhari. Dalam wawancara usai gala premiere, Ayu menjelaskan karakter yang ia perankan adalah perempuan konservatif yang hidupnya sangat bergantung secara ekonomi pada suaminya.

“Dia memang konservatif, perempuan yang sangat mengikuti produksi perempuan Islam. Perempuan Melayu banget, jadi yang hidupnya tuh tergantung suaminya secara ekonomi. Jadi dia gak banyak kebebasan untuk menolak sesuatu yang dia tidak suka,” ujarnya.

Karakter tersebut, kata Ayu, pada akhirnya melihat kekerasan terjadi pada anaknya sendiri dan mulai menyadari bahwa perempuan tidak boleh terus hidup dalam diam.

“Sampai akhirnya dia melihat itu terjadi pada anaknya. Akhirnya dia memberikan motivasi bahwa hidup anaknya itu harus berubah. Harus berani mengambil langkah, jadi jangan hanya diam,” katanya.

“Karena diam itu nanti akan diteruskan lagi ke anaknya,” lanjutnya.

Ayu menegaskan bahwa perempuan berhak hidup bahagia dan kekerasan tidak boleh dinormalisasi.

“Rumah tangga itu suami istri berhak untuk bahagia. Dan tidak boleh normalisasi kekerasan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya film ini bagi generasi muda untuk memahami hubungan yang sehat dan mengenali relasi toksik sejak awal.

“Pentingnya kesehatan mental. Kesehatan mental itu kan harus ada self-care. Bahwa kita harus peduli dengan diri kita. Kita harus menjaga diri kita agar supaya tetap menjadi sejatinya kita,” katanya.

Ayu Azhari dalam wawancara usai gala premiere film “Suamiku Lukaku” di Epicantrum XXI Kuningan, Jakarta, Kamis (21/05/2026). Dok. IST.

Menurut Ayu, film ini tidak sedang menyudutkan agama tertentu, melainkan berbicara tentang perilaku individu dan lingkungan yang memungkinkan kekerasan terus terjadi.

“Kalau menurut saya, kalau ditonton juga nggak ada kaitannya sama agama. Jadi oknum aja gitu. Bukan berarti… sebenarnya nggak ada kaitannya sama agama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan dalam relasi tidak selalu berbentuk fisik dan bisa dialami siapa saja, termasuk laki-laki.

“Laki-laki juga bisa jadi korban. Kekerasan itu kan nggak harus fisik,” katanya.

Dalam gala premiere film tersebut, Ketua Umum Suluh Perempuan, Siti Rubaidah, turut hadir dan memberikan dukungan dengan menulis pesan pada ‘wall setiap luka ada cerita’:

“KDRT adalah masalah serius. Film ini mengangkat isu penting yang menjadi kegelisahan banyak perempuan. Semoga film ini membuka kesadaran banyak pihak untuk stop kekerasan dan jangan diam,” tulisnya.

Ketua Umum Suluh Perempuan, Siti Rubaidah, turut hadir dan memberikan dukungan dengan menulis pesan pada ‘wall setiap luka ada cerita’. Dok. IST.

Film “Suamiku Lukaku” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026. Selain menghadirkan drama keluarga yang emosional, film ini juga mencoba menjadi ruang percakapan tentang luka, keberanian, dan pentingnya memutus rantai kekerasan dalam relasi.[]

Sukir Anggraeni, dari berbagai sumber.

0Shares