9 Juni 2026

Lami dan Ruang Pertama bagi Mitra yang Mencari Pertolongan

0Shares

Di ruang depan kantor LBH APIK Jakarta, banyak cerita datang silih berganti. Ada perempuan yang datang dengan wajah cemas, ada yang menahan tangis, ada pula yang terburu-buru ingin menceritakan seluruh beban yang selama ini dipikul sendirian. Sebelum bertemu pendamping hukum, sering kali orang pertama yang mereka temui adalah Lami.

Perempuan berusia 40 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga di LBH APIK Jakarta. Namun, di sela-sela pekerjaannya membersihkan kantor, menyapu lantai, dan menerima tamu, ia juga menjadi orang yang mendengarkan kisah para mitra kekerasan berbasis gender.

“Ya, aku bekerja di asosiasi LBH APIK sebagai asisten rumah tangga, sekaligus juga sebagai paralegal,” kata Lami.

Perannya mungkin tidak selalu terlihat di garis depan pendampingan hukum. Namun, justru dari ruang penerimaan itulah ia menjadi saksi pertama dari banyak luka yang dibawa para mitra.

“Kalau misalkan mitra datang dan tidak ada orang yang di depan, pasti aku yang terima. Setelah pekerjaan rumah tangga pagi aku selesaikan, siangnya aku menerima mitra atau menerima tamu, atau menerima mitra.”

Di LBH APIK Jakarta, korban disebut sebagai mitra. Ketika mereka datang, Lami biasanya memberikan formulir untuk membantu menuliskan kronologi kejadian sebelum konsultasi dengan tim hukum. Tetapi pekerjaannya tidak berhenti di situ.

“Biasanya mitra itu datang dia selalu ingin buru-buru menyampaikan permasalahannya. Paling di situ aku mendengarkan. Jadi, mitra itu, siapa pertama yang dia lihat dia temui, pasti dia akan keluhkan.”

Ilustrasi Lami tengah menerima mitra. Foto: AI

Mendengarkan mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seseorang yang baru saja mengalami kekerasan, didengar dengan sungguh-sungguh sering kali menjadi langkah pertama yang penting.

Karena itu, Lami merasa masih perlu terus belajar.

“Mungkin kalau bisa, kebutuhanku ke depan aku perlu belajar atau pelatihan untuk bagaimana kita menerima mitra, secara kondisi psikologisnya juga.”

Selama sepuluh tahun bekerja di Asosiasi LBH APIK Jakarta, ia telah menerima ribuan cerita. Dalam sehari, jumlah mitra yang datang bisa mencapai lebih dari lima orang.

“Perhari bisa tiga, bisa kadang lebih dari lima juga.”

Tak hanya mitra, terkadang ia juga harus berhadapan dengan pelaku dalam proses mediasi. Dalam situasi seperti itu, keselamatan mitra menjadi perhatian utamanya.

“Kalau mitra datang duluan, aku umpetin dulu di belakang, supaya tidak ketemu langsung dengan pelakunya.”

Pelaku diterima di teras, sementara mitra ditempatkan di ruang belakang. Cara sederhana itu menjadi bagian dari upaya menjaga rasa aman bagi mereka yang datang mencari keadilan.

Meski terlibat dalam proses penerimaan dan pendampingan awal, Lami selalu sadar batas perannya.

“Jadi sebenarnya aku tahu porsinya, bagaimana yang bisa aku lakukan, kapasitas dalam pendampingan itu aku juga harus memahami.”

Baginya, pendampingan bukan soal mengambil semua peran, melainkan memastikan mitra bisa sampai kepada bantuan yang mereka butuhkan.

Puisi yang Datang Saat Menyapu

Di luar pekerjaannya mendampingi mitra, Lami juga dikenal sebagai penulis puisi.

Namun berbeda dengan banyak penulis yang menyediakan waktu khusus untuk berkarya, puisi-puisi Lami justru lahir dari aktivitas sehari-hari.

“Kalau di aku sendiri aku membiarkan ide atau inspirasi itu hadir, lalu aku tulis.”

Inspirasi bisa datang di mana saja. Di atas motor, saat membersihkan kantor, bahkan ketika menyapu lantai.

“Justru malah ide itu hadir ketika aku sedang nyapu, ketika aku ngepel, ketika situasi orang-orang belum datang ke kantor, ide-ide datang saat itu. Karena bagiku menyapu, membersihkan kantor, ngepel itu bagian dari meditasi.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana Lami menemukan ruang tenang di tengah rutinitas yang padat.

“Jadi ada ruang gerak secara fisik, ada keluwesan juga, ada ketenangan yang menurut aku ada penyatuan di situ.”

Puisi-puisi yang ia tulis kini tidak lagi hanya berbicara tentang kehidupan buruh seperti masa lalu. Tema-temanya berkembang menjadi pengalaman perempuan, alam, hingga situasi sosial-politik.

Lami pernah menulis puisi ‘Ngenger’ yang lahir dari perjuangan pengesahan RUU Pekerja Rumah Tangga. Ia juga menulis ‘Kidung Doa’ sebagai respons atas bencana banjir di Sumatera, serta karya bertema ‘Mei 1998’ yang ia sebut sebagai “kidung satir tentang militerisme”.

Di antara semua karya yang pernah ditulis, ada satu puisi yang paling membekas dalam ingatannya.

Puisi itu lahir dari pengalaman pulang lembur pada malam hari ketika ia sudah bekerja di APIK.

Ketika ditanya apa bahasa yang digunakannya dalam puisi, Lami tidak ragu menjawab bahwa di sana ada unsur protes dan perlawanan.

“Ada protesnya juga, ada perlawanan seperti ‘Perempuan Berontak Dalam Pelukan Malam’. Terus ada soal keputusasaan mungkin, dari putus asa ke protes juga.”

Menariknya, Lami tidak merasa dipengaruhi oleh penyair tertentu.

“Aku sebenarnya menulis puisi tidak dipengaruhi oleh siapa-siapa. Ya, biarkan itu sebagai bagian dari diriku.”

Baginya, puisi cukup mengalir dari pengalaman dan kejujuran diri sendiri.

“Apa yang hadir ya sudah mengalir saja. Aku nggak berbicara soal kemurnian dalam seni, biarkan jernih dari diri saja. Bahasa yang kupakai juga bahasa keseharian saja.”

Ketabahan dalam Kerja Pendampingan

Selama bertahun-tahun berada di lingkungan pendampingan mitra kekerasan, Lami belajar bahwa proses hukum tidak pernah sederhana.

Ada mitra yang memilih berhenti di tengah jalan. Ada yang memutus surat kuasa ketika proses masih berjalan. Ada pula yang bertahan hingga akhir dan memperoleh keadilan.

Namun ia memilih melihat situasi itu bukan sebagai kekecewaan.

“Karena kondisi mitra itu ternyata juga tidak bisa disesuaikan keinginan kita.”

Menurutnya, kerja-kerja pendampingan membutuhkan kesabaran yang besar.

“Menurut aku kerja-kerja pendampingan itu adalah kerja-kerja dengan penuh ketabahan. Karena berbicara soal mitra itu kita sendiri mungkin juga rentan. Tapi kita dituntut untuk lebih memahami, terlebih terhadap mitra.”

Kesadaran itu lahir bukan hanya dari pekerjaannya saat ini, tetapi juga dari pengalaman masa lalu sebagai buruh pabrik yang pernah mengalami berbagai bentuk ketidakadilan.

Karena itu, ketika ditanya apakah pernah merasa sia-sia dengan pekerjaannya, jawabannya tegas.

“Ya tidak sia-sia.”

Ia justru menemukan makna hidup dari pekerjaan yang dijalaninya sekarang.

“Aku hidup itu kayaknya aku harus berarti.”

Bagi Lami, nilai sebuah pekerjaan tidak selalu diukur dari jabatan atau posisi.

“Sekalipun aku itu hanya bisa menerima mitra itu sesuatu hal yang menurut aku punya nilai dan ada suatu panggilan dari dalam diri aku sendiri.”

Bahkan senyuman kecil yang diberikan kepada mitra yang datang ke kantor pun memiliki arti yang besar.

“Karena satu senyuman terhadap mitra atau mempersilahkan untuk masuk itu sudah sesuatu nilai yang berharga.”

Ia percaya setiap mitra yang datang membawa beban yang tidak ringan.

“Mitra yang datang itu orang yang membawa masalah, membawa segudang persoalan.”

Karena itu pula ia merasa bersyukur dapat bertemu mereka.

“Aku bersyukur bertemu dengan mitra-mitra sebenarnya. Karena tidak semua orang mempunyai kesempatan itu.”

Ketika Puisi Menjadi Ruang Pemulihan

Bagi Lami, seni dan pendampingan bukanlah dua dunia yang terpisah.

Ia percaya puisi dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan mitra.

“Puisi itu bisa menjadi media healing juga.”

Suatu hari pernah ada lokakarya menulis puisi, melibatkan para mitra yang didampingi LBH APIK Jakarta. Melalui kata-kata, mitra dapat menemukan cara baru untuk menceritakan pengalaman dan memulihkan dirinya.

Ketika ditanya puisi seperti apa yang wajib dibaca oleh polisi atau jaksa, jawabannya bukan tentang hukum atau pasal.

“Perspektif kita terhadap mitra.”

Menurutnya, aparat penegak hukum juga membutuhkan pelatihan agar lebih memahami pengalaman mitra dan memiliki perspektif yang berpihak pada mereka.

Di luar itu semua, Lami masih aktif di komunitas seni. Ia bergabung dalam Komunitas Rote Puisi yang rutin mengadakan pembacaan puisi setiap Jumat di kawasan Menteng, Jakarta.

Di sanalah ia menemukan ruang untuk terus menjaga nyala kesenian.

Lami membaca puisi di Aksi Kamisan Jakarta, sebuah aksi protes damai yang diadakan setiap hari Kamis di depan Istana Merdeka, Jakarta. Diprakarsai oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), korban, dan keluarga korban pelanggaran HAM berat. Aksi ini pertama kali digelar pada 18 Januari 2007 untuk menuntut keadilan dan menolak lupa. Foto: Mas Beni

“Seni secara umum, dia akan beku ketika tidak dicairkan lewat komunitas-komunitas seni.”

Baginya, puisi tidak seharusnya hanya tinggal di atas kertas.

“Aku merasa ada wadah di situ. Ya itu, seni saat ini dia akan beku kalau tidak dicairkan di dalam sebuah komunitas atau tidak dibacakan di jalanan. Puisi kan implementasinya dibacakan,” pungkas Lami.[]

Humaira

0Shares