24 Agustus 2026

Merangkul Bukan Menghakimi, Membuka Jalan Pemulihan bagi Pengguna NAPZA

1Shares

Persoalan NAPZA tidak berhenti pada penggunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Di balik seseorang yang terjerumus dalam ketergantungan, sering terdapat persoalan lain seperti tekanan ekonomi, depresi, kerentanan psikologis, dan tekanan sosial.

Namun, pengguna NAPZA masih kerap dipandang semata-mata sebagai pelaku kesalahan. Label sebagai pendosa, orang jahat, bahkan “sampah masyarakat” membuat mereka semakin jauh dari pertolongan dan mempersempit ruang untuk pulih.

Cara pandang inilah yang coba dibongkar melalui diskusi buku ‘Merangkul Bukan Menghakimi, Dakwah Pemulihan bagi Pengguna NAPZA’ pada Minggu (23/8/2026) di Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat.

Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Mulia Raya bersama Pesantren Al-Nahdlah Depok dan Muslimat NU tersebut mengangkat tema “Pendekatan Empati dan Dakwah Humanis dalam Upaya Pemulihan Pengguna NAPZA”.

Para narasumber diskusi buku ‘Merangkul Bukan Menghakimi, Dakwah Pemulihan bagi Pengguna NAPZA’, Minggu (23/8/2026) di Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat. Foto: MR Foundation

Buku ini menawarkan pendekatan yang mengedepankan empati, dukungan sosial, harm reduction atau pengurangan risiko, serta peran agama dalam proses pemulihan. Gagasan dasarnya, dakwah tidak semestinya hadir untuk menghakimi mereka yang sedang jatuh, melainkan membuka ruang agar mereka dapat kembali menemukan jalan pemulihan.

Dakwah Tidak Boleh Hanya Memilih Zona Aman

Prof. Dr. Musdah Mulia, MA, melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari panggilan iman sekaligus kemanusiaan. Menurutnya, dakwah tidak boleh hanya hadir di ruang-ruang yang nyaman, tetapi juga perlu menjangkau kelompok-kelompok yang berada di wilayah marginal.

Pengalamannya berinteraksi langsung dengan kelompok marginal membuat Musdah melihat bahwa tidak semua orang yang berada dalam situasi tersebut adalah orang jahat. Banyak di antara mereka merupakan korban yang terjebak oleh keadaan.

Karena itu, stigma terhadap pengguna NAPZA perlu dihentikan. Di tengah masyarakat, termasuk komunitas beragama, mereka masih sering diberi label sebagai pendosa, orang jahat, bahkan disamakan dengan setan.

“Stigma ini harus dihentikan,” tegas Musdah, karena pelabelan tersebut mengabaikan sisi kemanusiaan dan justru menutup ruang pemulihan.

Musdah juga mengingatkan bahwa penyalahgunaan NAPZA tidak dapat dilihat hanya dari sisi moral. Kerentanan psikologis seperti kekecewaan, depresi, dan tekanan sosial dapat menjadi bagian dari akar persoalan.

Masyarakat tetap perlu bersikap tegas terhadap narkoba. Namun, mereka yang sudah terlanjur terjerumus perlu dirangkul agar dapat menjalani proses pemulihan secara bertahap. Pendekatan harm reduction, menurutnya, merupakan salah satu langkah realistis dalam proses tersebut.

Di tengah perubahan zaman, Musdah juga menilai metode dakwah perlu terus diperbarui. Globalisasi, modernisasi, hoaks, hingga perkembangan kecerdasan buatan menuntut pendidikan agama yang lebih holistik, berbasis penelitian, dan mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Mengubah Cara Melihat Pengguna NAPZA

Milastri Muzakkar, penulis buku ‘Merangkul Bukan Menghakimi: Dakwah Pemulihan bagi Pengguna NAPZA)’, mengakui bahwa dirinya pernah memiliki stigma yang sama dengan masyarakat pada umumnya.

Ia pernah memandang pengguna NAPZA sebagai pelaku dosa dan “sampah masyarakat” yang pantas dikucilkan. Pandangan tersebut berubah setelah ia mendapat kesempatan untuk berpikir lebih terbuka dan berinteraksi langsung dengan para korban.

Dari pengalaman itu, Milastri melihat bahwa pengguna NAPZA yang menjadi fokus buku ini adalah mereka yang berada dalam kondisi rentan secara sosial, ekonomi, maupun psikologis dan sebenarnya memiliki keinginan untuk pulih.

Mereka dapat terjerumus karena kemiskinan, tekanan ekonomi, depresi, atau situasi yang menjebak. Karena itu, menurut Milastri, persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih manusiawi.

Ia juga menyoroti ketimpangan dalam penanganan kasus NAPZA. Pengguna dari kelompok ekonomi bawah sering kali berhadapan dengan hukuman berat, sementara pelaku besar yang memperoleh keuntungan dari perdagangan NAPZA tidak selalu mendapatkan perlakuan yang sama.

Buku tersebut kemudian mencoba menghadirkan perspektif Islam yang lebih humanis. Berdasarkan kajian terhadap Al-Qur’an, hadis, serta pengalaman para sufi dan ulama terdahulu, Milastri menemukan bahwa Islam tidak mengajarkan penghakiman dan pengucilan sebagai jalan utama menghadapi orang yang melakukan kesalahan.

Sebaliknya, ada ruang untuk merangkul dan membantu mereka menjalani recovery. Buku ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi pendakwah, organisasi kemuslimatan, dan masyarakat agar dapat ikut mendampingi proses pemulihan.

Dari Jalanan Belajar Tentang Arti Merangkul

Pengalaman Halim Ambiya, Founder Tasawuf Underground, memperlihatkan bagaimana pendekatan tersebut diterapkan langsung di lapangan.

Sejak 2017, Halim melakukan dakwah pemulihan dengan turun langsung menemui anak-anak jalanan. Ia tidak menunggu mereka datang mencari bantuan, tetapi mendatangi mereka dan membangun rasa aman terlebih dahulu.

Pendekatan awalnya adalah menempatkan diri sebagai sosok orang tua yang melindungi dan membela mereka. Setelah hubungan dan rasa percaya terbentuk, barulah proses pendampingan dilakukan.

Halim menghindari ceramah dan penghakiman karena anak jalanan maupun pengguna NAPZA umumnya sudah lelah dengan nasihat normatif. Ia juga tidak banyak menginterogasi masa lalu mereka.

Halim tidak menggunakan istilah “hijrah”, ia memilih istilah “Jalan Pulang”, sebagai gambaran tentang proses kembali kepada fitrah kemanusiaan.

Pendampingan bahkan dimulai dari hal yang sangat sederhana: mandi dan makan.

Bagi anak-anak yang hidup di jalanan, merawat tubuh menjadi langkah awal untuk mengembalikan kesadaran dan rasa berharga terhadap diri sendiri. Halim memandang mandi bukan hanya sebagai bagian dari bersuci, tetapi juga sebagai terapi fisik dalam proses pemulihan.

Namun, menurut Halim, pemulihan tidak cukup hanya dengan pendekatan spiritual.

Banyak orang yang telah pulih secara spiritual kembali terjerumus ketika menghadapi tekanan hidup, patah hati, atau tidak memiliki uang untuk bertahan hidup. Karena itu, pemulihan perlu disertai pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Ia menilai orang yang telah pulih perlu memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Karena itu, pelatihan kerja dan usaha menjadi bagian penting dari pendampingan agar mereka memiliki bekal setelah keluar dari proses pemulihan.

Sementara itu di tempat yang sama, Hj. Ade Rina Farida, M.Si., Ketua PC Fatayat NU Depok, membawa pengalaman dari lingkungan kampus.

Menurutnya, dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar. Ia dapat dilakukan di mana pun seseorang menjalankan pengabdiannya.

Ia menceritakan pengalaman menghadapi mahasiswa KKN yang kedapatan mabuk. Alih-alih langsung menghakimi atau menjatuhkan sanksi berat, ia memilih menemani mahasiswa tersebut, mengajaknya berbicara dari hati ke hati, dan mencari solusi agar ia tetap dapat menyelesaikan program KKN dengan pendampingan khusus.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa merangkul bukan berarti membenarkan perilaku yang salah. Seseorang tetap dapat diarahkan dan diminta bertanggung jawab tanpa harus kehilangan martabatnya.

Ade Rina juga menyoroti kerentanan generasi muda yang ia sebut sebagai “generasi stroberi”—tampak baik dari luar, tetapi menyimpan kerapuhan di dalam.

Di lingkungan mahasiswa, ia menemukan berbagai persoalan seperti depresi berat, kecanduan judi online, persoalan seksual, hingga jeratan pinjaman online. Menurutnya, kelompok ini membutuhkan ruang untuk didengarkan, bukan sekadar stigma dan penghakiman.

Keluarga Menjadi Bagian Penting dari Pemulihan

Buku Merangkul Bukan Menghakimi juga memberikan panduan bagi keluarga ketika mengetahui ada anggota keluarga yang terpapar NAPZA.

Buku ‘Merangkul Bukan Menghakimi: Dakwah Pemulihan bagi Pengguna NAPZA) ditulis Milastri Muzakkar. Foto: Instagram imuneofficial

Ade Rina menilai buku yang relatif ringkas tersebut memiliki isi yang padat karena memadukan argumentasi ilmiah, dalil Al-Qur’an dan hadis, serta panduan praktis.

“Salah satu pesan pentingnya adalah bahwa cinta Tuhan lebih luas daripada dosa manusia. Orang yang jatuh dalam kesalahan tetap memiliki kemungkinan untuk pulih,” ujar Ade Rina.

Karena itu, keluarga dianjurkan untuk tidak langsung panik atau marah. Langkah pertama adalah tetap tenang dan mendengarkan cerita mereka.

Keluarga juga perlu mengingatkan kembali potensi dan kebaikan yang pernah dimiliki, menggunakan bahasa yang tidak mempermalukan, serta memberikan pendampingan spiritual secara bertahap.

Jika persoalan tidak dapat ditangani sendiri, keluarga perlu mencari bantuan psikolog, psikiater, atau kiai sesuai kebutuhan. Yang tidak kalah penting, keluarga perlu memahami bahwa pemulihan membutuhkan waktu dan kesabaran.

Akhirnya diskusi buku ‘Merangkul Bukan Menghakimi’ ini mempertemukan pengalaman dari berbagai ruang: akademisi, penulis, pendamping anak jalanan, hingga organisasi perempuan.

Meski berangkat dari pengalaman berbeda, semuanya bertemu pada satu gagasan: pengguna NAPZA perlu dilihat sebagai manusia yang memiliki kesempatan untuk berubah dan pulih.(*)

Sukir Anggraeni

1Shares