19 Februari 2026

Kanker, Keberanian, dan Makna Hidup yang Dijaga

0Shares

Setiap tanggal 4 Februari, dunia berhenti sejenak untuk mengingat satu kenyataan yang tak bisa dihindari: kanker menyentuh jutaan kehidupan, melampaui batas negara, usia, dan latar belakang. Sejak tahun 2000, Hari Kanker Sedunia diperingati sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker—tentang pentingnya deteksi dini, akses pengobatan, pencegahan, serta dukungan yang manusiawi bagi mereka yang terdampak.

Namun kanker bukan sekadar persoalan medis. Ia bukan hanya tentang angka kejadian, grafik statistik, atau istilah klinis. Kanker adalah pengalaman hidup yang sangat personal. Ia hadir di tubuh, tetapi juga mengguncang emosi, relasi, keyakinan, dan cara seseorang memaknai hidup.

Inilah semangat yang diangkat dalam kampanye Hari Kanker Sedunia 2025–2027 bertajuk “Bersatu karena Keunikan”. Kampanye ini menempatkan manusia sebagai pusat perawatan kanker—mengakui bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan, cerita, dan kekuatan yang berbeda. Selama tiga tahun, kampanye ini mengajak dunia bergerak dari kesadaran menuju tindakan, dengan satu pesan utama: kita bisa bersatu tanpa menghapus keunikan satu sama lain.

Setiap Cerita Memiliki Arti

Di balik setiap diagnosis kanker, selalu ada kisah manusia. Kisah tentang ketakutan dan keberanian, tentang kehilangan dan harapan, tentang jatuh dan bangkit kembali. Pendekatan perawatan kanker yang berpusat pada manusia mengingatkan kita bahwa penyembuhan tidak hanya soal tubuh, tetapi juga tentang hati, dukungan sosial, dan rasa dimengerti.

Kisah-kisah para penyintas dan pejuang kanker berikut menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan berbeda, namun semuanya layak dihormati.

Syifa: Belajar Berdamai dan Bangkit Kembali

Bagi Syifa, kanker bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang baru. Penyakit ini mengajarkannya arti perjuangan, keteguhan untuk bertahan, keikhlasan dalam menerima keadaan, dan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri.

“Ada masa ketika aku jatuh ke lubang paling dalam,” kisahnya. “Namun di saat itulah banyak tangan yang Allah kirimkan untuk memelukku.” Ia bangkit, terjatuh kembali, lalu bangkit lagi.

Syifa telah melalui perjalanan panjang pengobatan—kemoterapi, radioterapi, hingga kini menjalani terapi target. Di tengah semua itu, ia percaya bahwa keajaiban bisa terjadi setiap hari. Miracles happen everyday, katanya, dengan keyakinan yang tumbuh dari pengalaman bertahan hidup.

Evi Krisna: Keteguhan Hati di Tengah Ujian

Bagi Evi Krisna, kanker mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat tubuh menahan rasa sakit, melainkan seberapa teguh hati memilih untuk tetap berharap. Kanker menguji raga, mengguncang emosi, dan menghadirkan kesabaran dalam kesunyian yang sering tak terlihat oleh orang lain.

Namun menurutnya, penyakit ini tidak pernah mampu merenggut keberanian. Ia tidak bisa memadamkan cahaya yang tumbuh dari cinta dan dukungan orang-orang terdekat.

Evi mengajak kita mengingat para pejuang yang masih melangkah, mereka yang telah beristirahat dengan tenang, serta keluarga yang setia mendampingi dalam diam. “Kita berdiri bersama,” ujarnya, dengan keyakinan bahwa harapan selalu lebih keras daripada rasa takut, dan setiap doa serta empati adalah langkah kecil menuju hari esok yang lebih manusiawi.

Melawan kanker, baginya, bukan semata tentang bertahan hidup, tetapi tentang menjaga makna hidup itu sendiri.

Lola: Penyintas dengan Rasa Syukur Baru

Lola memperkenalkan dirinya dengan sederhana, namun penuh makna. Ia adalah penyintas kanker payudara yang telah melewati berbagai tantangan dan keluar dari sana dengan kekuatan, rasa syukur, serta apresiasi yang baru terhadap kehidupan.

Pengalaman tersebut membentuknya menjadi pribadi yang lebih sadar akan arti waktu, kesehatan, dan kehidupan yang dijalani hari demi hari.

Indah M: Bertahan di Perjalanan yang Panjang

Selama 15 tahun, kanker telah menjadi bagian dari hidup Indah M. Ia adalah pejuang dan penyintas sarkoma Ewing metastatik yang mengalami kekambuhan berulang, menjalani lebih dari 30 operasi, dan perawatan yang tak terhitung jumlahnya.

Tubuhnya tak lagi sama. Salah satu kakinya lebih pendek, dan fungsi jantungnya kini hanya sekitar 20 persen. Kehidupan sehari-hari dipenuhi keterbatasan yang tak pernah ia bayangkan sebelum diagnosis.

Indah pernah hidup dengan luka kronis selama delapan tahun—luka yang nyaris merenggut nyawanya. Rasa takut, sakit, dan kelelahan menjadi bagian dari keseharian. Ada masa ketika kelangsungan hidup terasa tidak pasti.

Namun kanker juga mengajarkannya pelajaran yang mendalam. Bertahan hidup bukan berarti tanpa rasa takut. Ia mengakui bahwa dirinya masih takut, masih berjuang. Tetapi ia memilih untuk terus melangkah.

“Hingga hari ini saya belum sepenuhnya pulih,” ujarnya. “Perjalanan saya masih jauh dari selesai.” Meski demikian, ia bersyukur masih bisa bernapas, tersenyum, berbagi, dan menemukan makna hidup di tengah ketidakpastian.

Pada Hari Kanker Sedunia, Indah membagikan kisahnya sebagai pengingat bahwa dalam perjalanan terpanjang dan tersulit sekalipun, harapan tetap penting—dan tidak seorang pun seharusnya menghadapi kanker sendirian.

Erny: Dari Deteksi Dini hingga Harapan Baru

Bagi Erny, perjalanan kanker dimulai dari sebuah momen sederhana namun menentukan: pemeriksaan payudara sendiri. Ia menemukan benjolan kecil yang terasa tidak biasa dan memilih untuk tidak mengabaikannya.

Setelah serangkaian pemeriksaan, diagnosis kanker payudara pun datang. Anehnya, orang yang paling terguncang saat itu bukanlah dirinya, melainkan sang suami. Di tengah usahanya mencerna kabar tersebut, Erny justru harus menenangkan pasangannya.

Proses pengobatan yang ia jalani tidaklah mudah. Kemoterapi menguras energi, operasi menguji kekuatan tubuh. Namun dukungan keluarga menjadi penopang utama. Suaminya, yang semula terguncang, berubah menjadi pendukung terbesarnya—selalu hadir di setiap langkah perjalanan.

Selain keluarga, komunitas penyintas kanker juga memberi peran penting. Mendengarkan kisah orang lain membuat Erny merasa tidak sendirian. Ia menemukan ruang aman untuk berbagi, mendapatkan kekuatan, dan saling menguatkan.

Pengalaman ini mendorongnya untuk terus menyuarakan pentingnya deteksi dini. Ia mengajak perempuan untuk melakukan SADARI—pemeriksaan payudara sendiri—langkah sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa.

“Kepada siapa pun yang sedang mengalami ini,” pesannya, “jangan menyerah. Anda lebih kuat dari yang Anda kira.” Ia mengajak untuk mempercayai tenaga medis, bersandar pada orang-orang terkasih, dan tidak takut meminta bantuan. Karena harapan selalu ada, dan kehidupan setelah kanker adalah sesuatu yang mungkin.

Bersatu karena Keunikan

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kanker tidak pernah mendefinisikan siapa seseorang sepenuhnya. Setiap individu lebih besar dari penyakitnya, lebih dari diagnosis yang melekat pada tubuhnya.

Dalam semangat Bersatu karena Keunikan, Hari Kanker Sedunia mengingatkan kita bahwa kekuatan kolektif tumbuh ketika kita saling mendengar, saling memahami, dan saling mendampingi—tanpa menghapus perbedaan pengalaman.

Karena dalam perjuangan melawan kanker, setiap cerita berharga. Dan dalam kebersamaan, harapan menemukan rumahnya.[]

Sumber: worldcancerday.org

0Shares