19 Februari 2026

VCAT Training 2026 Menjadi Titik Balik Suluh Perempuan Menguatkan Perspektif Survivor dan Hak Kesehatan Reproduksi

0Shares

Ketua Umum Suluh Perempuan, Siti Rubaidah, menegaskan bahwa penyelenggaraan VCAT Training Suluh Perempuan 2026 bukan sekadar agenda pelatihan rutin, melainkan refleksi atas kegelisahan organisasi dalam memperkuat identitas, perspektif, dan profesionalisme kader dalam mendampingi survivor. Hal tersebut disampaikan dalam sambutan pembukaan kegiatan yang berlangsung pada 8 Februari 2026 di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Dalam pernyataannya, Rubaidah mengungkapkan bahwa pelatihan ini dipilih sebagai agenda pertama tahunan setelah proses strategic planning organisasi. Keputusan tersebut berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memperjelas arah gerakan serta memperkuat nilai-nilai dasar organisasi.

“Kenapa kemudian kita memilih agenda pertama tahunan kita setelah strategic planning adalah VCAT Training ini sebenarnya kegelisahan-kegelisahan yang ada di kita,” ujar Siti Rubaidah dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa dalam berbagai diskusi internal, Suluh Perempuan merumuskan kembali identitas organisasinya sebagai komunitas yang memiliki ciri khas kuat, yakni mayoritas anggotanya merupakan survivor berbagai bentuk kekerasan dan kebijakan yang menimbulkan korban.

“Suluh Perempuan itu punya ciri khas mayoritas adalah survivor. Sehingga kemudian Suluh Perempuan mencoba mengedepankan pembeda kita dengan organisasi perempuan lainnya sebagai komunitas survivor,” tegasnya.

Siti Rubaidah (kanan), Ketua Umum Suluh Perempuan, saat memberi sambutan pada acara VCAT Training Suluh Perempuan 2026, 8 Februari 2026 di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Dok. IST

Menurutnya, komunitas survivor di Suluh Perempuan tidak terbatas pada korban kekerasan berbasis gender seperti KDRT dan kekerasan seksual, tetapi juga mencakup korban kekerasan struktural, termasuk mereka yang terdampak peristiwa politik dan kebijakan negara.

“Tidak hanya kekerasan berbasis gender seperti KDRT dan kekerasan seksual, tapi ada juga survivor kasus 1998, jadi kekerasan berbasis analisa negara sebagai korban kebijakan juga bisa berkumpul di sini,” lanjutnya.

Lebih jauh, Rubaidah menyoroti pentingnya memaksimalkan sumber daya manusia yang dimiliki organisasi untuk menjawab kebutuhan survivor secara komprehensif. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan survivor selama ini sering difokuskan pada aspek konseling dan pemulihan psikologis, sementara pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi masih luput dari perhatian.

“Salah satu kebutuhan survivor selain konseling dan psikologis, tapi yang kita luput selama ini adalah hak kesehatan seks dan reproduksi perempuan, terutama untuk korban,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi dengan tenaga medis dan sumber daya profesional di dalam jaringan organisasi, Suluh Perempuan kemudian menggagas VCAT Training sebagai ruang pembelajaran sekaligus strategi penguatan kapasitas kader dalam memahami dan memperjuangkan hak kesehatan seksual dan reproduksi survivor.

“VCAT Training ini menjadi bagian dari upaya kita mengkolaborasikan kegiatan dengan tim medis untuk menjawab kebutuhan survivor atas pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksinya,” katanya.

Seorang peserta sedang menulis harapannya terhadap organisasi Suluh Perempuan di acara VCAT Training Suluh Perempuan 2026, 8 Februari 2026 di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Dok. IST

Dalam sambutannya, Rubaidah juga menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai dalam kerja pendampingan. Ia mengingatkan bahwa perspektif korban dan keadilan gender tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus benar-benar dipraktikkan dalam interaksi sehari-hari dengan survivor.

“Kita tidak bisa hanya slogan ‘aku berperspektif gender’, tapi dalam praktik seringkali kita masih bias, masih menyalahkan korban, masih menghakimi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelatihan VCAT menjadi ruang untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut melalui metode pembelajaran yang partisipatif, reflektif, dan aplikatif agar kader mampu memberikan penerimaan dan pendampingan yang tidak menghakimi.

“Nilai-nilai ini tidak hanya kita dengar, tapi kita internalisasi melalui proses pembelajaran yang bisa kita adopsi dalam praktik sehari-hari,” jelasnya.

Siti Rubaidah (kanan), Ketua Umum Suluh Perempuan memberikan souvenir berupa buku kepada dr. Zakiah Tourik, SpOG, salah satu narasumber pada acara VCAT Training Suluh Perempuan 2026, 8 Februari 2026 di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Dok. IST

Menutup sambutannya, Ketua Umum Suluh Perempuan menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum awal bagi organisasi untuk memperkuat disiplin, transparansi, dan akuntabilitas, sekaligus memastikan nilai-nilai yang selama ini diyakini benar-benar diwujudkan dalam praktik organisasi.

“Tahun 2026 ini menjadi pijakan awal kita untuk berdisiplin, berorganisasi secara transparan dan akuntabel, serta memastikan nilai-nilai baik yang selama ini ada di kepala benar-benar kita internalisasi dan praktikkan,” tutup Siti Rubaidah.

Melalui VCAT Training Suluh Perempuan 2026, organisasi berharap dapat membangun perspektif yang lebih kuat, profesionalisme kader yang lebih matang, serta komitmen kolektif dalam memperjuangkan pemenuhan hak-hak survivor secara berkelanjutan.[]

Sukir Anggraeni

0Shares