Pelatihan VCAT Training Suluh Perempuan 2026 yang berlangsung pada 8 Februari 2026 di Sawangan, Depok, Jawa Barat, dibuka dengan sambutan dari Dewan Pengawas Suluh Perempuan, dr. Adinda Bunga Syafina, Sp.B. Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya disiplin, semangat kolektif, serta kekuatan pengalaman penyintas sebagai fondasi gerakan Suluh Perempuan. Pernyataan-pernyataan dr. Adinda disampaikan dalam konteks forum pelatihan internal yang bertujuan memperkuat perspektif korban dalam kerja-kerja pendampingan.
Di awal sambutannya, dr. Adinda mengajak seluruh peserta untuk menghargai waktu sebagai bentuk penghormatan terhadap satu sama lain. Ia menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang hadir tepat waktu, sekaligus menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijalankan secara konsisten.
“Tepat waktu itu adalah komitmen yang paling penting. Karena artinya kalau kita tepat waktu, itu kita menghargai waktu kita bersama. Waktu saya tidak lebih penting daripada waktunya orang lain, dan waktunya orang lain tidak lebih penting daripada waktu saya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kedisiplinan bukan sekadar teknis kegiatan, tetapi juga bagian dari etika kolektif dalam membangun gerakan yang setara dan saling menghormati. Menurutnya, kebiasaan menunggu atau membuat orang lain menunggu mencerminkan ketimpangan penghargaan terhadap sesama.
“Kita tidak bisa mau mengubah sesuatu yang besar kalau kita tidak bisa memulai dari hal yang kecil dulu. Salah satunya adalah masalah waktu ini. Kalau kita menyuruh orang menunggu, artinya kita berpikir waktu kita lebih penting, dan itu tidak benar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Adinda juga menyoroti identitas Suluh Perempuan sebagai organisasi yang berdiri dari pengalaman para survivor. Ia menilai pengalaman hidup para penyintas menjadi kekuatan moral sekaligus energi perubahan yang membedakan Suluh Perempuan dari organisasi lainnya.
“Suluh Perempuan berdiri dari survivor. Itu bukan hanya membuat kita berbeda, tapi menunjukkan bahwa semangatnya sudah terinternalisasi. Orang yang pernah mengalami punya semangat yang lebih besar untuk membuat perubahan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu harus berskala besar. Membantu satu orang saja, menurutnya, sudah merupakan perubahan yang signifikan karena dampaknya sangat besar bagi kehidupan orang tersebut dan keluarganya.
“Kita tidak harus membuat perubahan untuk semua orang di Indonesia. Kita mulai dari satu orang. Satu orang itu mungkin terlihat kecil, tapi bagi keluarganya dia adalah 100 persen kehidupan mereka. Jadi tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dikerjakan, dan tidak ada perubahan yang terlalu kecil untuk dicoba,” tuturnya.
Lebih jauh, dr. Adinda mengajak seluruh anggota Suluh Perempuan untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Ia menekankan bahwa setiap peran, sekecil apapun, memiliki arti penting dalam keberlanjutan gerakan.
“Setiap orang bisa memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya. Ada yang memberi materi, ada yang menyiapkan ruang, ada yang menyediakan makanan atau kopi supaya teman-teman tetap semangat. Semua itu bagian dari kerja kolektif,” jelasnya.
Menutup sambutan, ia menyampaikan harapan agar Suluh Perempuan terus berkembang dan tidak pernah kehilangan semangat dalam melakukan kebaikan, sekaligus menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan tidak pernah sia-sia.
“Semoga Suluh Perempuan bisa selalu maju dan bersemangat dalam berbuat kebaikan. Tidak pernah ada kata rugi dalam berbuat kebaikan, apapun itu,” ucapnya sebelum secara resmi membuka pelatihan VCAT Training Suluh Perempuan 2026.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya Suluh Perempuan dalam memperkuat perspektif korban serta memperdalam kapasitas pendampingan berbasis pengalaman penyintas. Melalui forum tersebut, organisasi berharap dapat terus memperluas dampak kerja-kerja advokasi dan pendampingan yang berpihak pada korban, dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Dialog Multipihak Desak Negara Wujudkan Kesetaraan Substantif bagi Perempuan Indonesia