19 Februari 2026

Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda

faspsych.com

0Shares

Kesehatan mental kian menjadi perhatian serius seiring meningkatnya kasus depresi, kecemasan, hingga bunuh diri, terutama di kalangan anak muda. Persoalan ini tak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Di sisi lain, akses terhadap layanan profesional masih terbatas akibat minimnya tenaga ahli, hambatan geografis, dan stigma yang melekat di masyarakat.

Data cek kesehatan gratis terhadap sekitar 70 juta penduduk Indonesia menunjukkan gejala depresi paling banyak ditemukan pada usia sekolah dan remaja, bahkan melampaui kelompok dewasa dan lansia. Kondisi ini menegaskan kebutuhan mendesak akan dukungan kesehatan mental yang mudah diakses, relevan, dan berkelanjutan.

Menjawab tantangan tersebut, Pusat Studi Intervensi Digital dan Kesejahteraan Mental Indonesia (PSIDAMAI) Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, bekerja sama dengan mitra Australia sejak 2024, mengembangkan intervensi kesehatan mental berbasis digital. Program ini didukung hibah Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI) dan Australia-Indonesia Institute (AII), serta mengadaptasi model layanan berbasis web dari platform This Way Up di Australia.

Dosen dan peneliti Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini, menegaskan bahwa tantangan utama kini bukan lagi penerimaan terhadap layanan digital, melainkan kesiapan sistem dan keberlanjutan implementasinya dalam jangka panjang. Layanan digital harus kontekstual, sesuai kebutuhan masyarakat, serta terintegrasi dengan sistem yang sudah ada.

”Tantangan utama di Indonesia bukan lagi pada penerimaan awal terhadap layanan digital. Kini tantangannya ialah kesiapan sistem dan keberlanjutan implementasinya jangka panjang,” kata Ratih.

Ratih memaparkan hal itu dalam pertemuan pemangku kepentingan dan diseminasi riset bertajuk ”Menuju Layanan Kesehatan Mental Digital yang Inklusif:  Dari Riset hingga Terapannya, Pembelajaran dari Kerja Sama Indonesia–Australia” di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Ketua tim peneliti Pusat Studi Intervensi Digital dan Kesejahteraan Mental Indonesia (PSIDAMAI) Fskultas Psikologi Universitas Yarsi Ratih Arruum Listiyandini (Kedua dari kanan) memaparkan pentinya mengembangkan akses layanan kesehatan mental digital di Indonesia di acara pertemuan pemangku kepentingan dan diseminasi riset bertajuk “Menuju Layanan Kesehatan Mental Digital yang Inklusif: Dari Riset hingga Terapannya, Pembelajaran dari Kerjasama Indonesia – Australia” di Jakarta, Kamis (12/2/2026). Foto: Kompas

Survei daring pada Desember 2025 yang melibatkan sekitar 960 responden Indonesia dan diaspora di Australia menunjukkan 88 persen responden merupakan calon pengguna dewasa muda. Sekitar 65 persen pernah mengakses layanan profesional kesehatan mental, sementara 35 persen belum pernah. Sebanyak 97 persen menggunakan internet untuk mencari informasi kesehatan mental, disertai pencarian bantuan kepada psikolog, psikiater, keluarga, teman, pemuka agama, hingga komunitas. Ini menunjukkan pola pencarian bantuan yang plural dan tidak terbatas pada sistem formal.

Dalam ranah digital, kanal yang paling sering digunakan adalah web browsing, media sosial, serta percakapan dengan chatbot generative AI. Meski demikian, pendekatan yang dinilai paling membantu tetap berupa telecounseling dan sumber informasi berbasis web yang terstruktur. Sebanyak 87,8 persen profesional dan praktisi kesehatan mental juga telah merekomendasikan layanan digital, terutama dalam bentuk telecounseling, layanan chat berbasis teks, aplikasi mobile, dan modul daring berbasis bukti.

Namun pengembangan layanan ini masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur internet, kurangnya tenaga terlatih, variasi minat pengguna, isu privasi data, hingga regulasi dan perizinan.

Untuk memperkaya pembelajaran, tim PSIDAMAI mengunjungi Clinical Research Unit for Anxiety and Depression (CRUfAD) St. Vincent’s Hospital dan Black Dog Institute di Sydney, Australia. Melalui platform This Way Up, masyarakat Australia dapat mengakses tes kesejahteraan singkat dan program intervensi untuk depresi, kecemasan, gangguan tidur, stres, Obsessive-Compulsive Disorder, hingga mindfulness.

Pengalaman Australia menunjukkan keberhasilan layanan digital tidak hanya ditentukan efektivitas klinis, tetapi juga kemampuan untuk diadopsi, diterapkan, dan dipertahankan dalam sistem layanan nyata. Integrasi riset dan praktik klinis, dukungan clinical champions, kepemimpinan yang konsisten, serta kemampuan menghadapi tantangan regulasi menjadi faktor kunci.

Infografis Kompas

Belajar dari praktik tersebut, PSIDAMAI mengembangkan Program Mindfulness Berbasis Web untuk Dewasa Muda Indonesia. Mindfulness dipilih karena terbukti membantu individu mengelola stres, kecemasan, dan tekanan emosional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis. Integrasi ke platform digital membuka peluang menjangkau lebih banyak anak muda secara fleksibel dan terjangkau.

Pengembangan program dilakukan melalui pendekatan co-design di lima kota—Jakarta, Medan, Bali, Banjarmasin, dan Kupang—melibatkan 50 orang dengan lived experience serta 15 praktisi kesehatan mental. Modul disempurnakan agar lebih kontekstual, dengan karakter yang merepresentasikan mahasiswa dan pekerja muda, mengangkat isu finansial, stigma, dan tekanan sosial. Bahasa juga dibuat lebih sederhana dan komunikatif.

Hasil uji coba awal menunjukkan program dinilai layak dan cukup mudah digunakan, dengan minat tinggi dari calon pengguna maupun praktisi. Bahkan ditemukan penurunan tingkat tekanan psikologis setelah mengikuti program.

Upaya ini menegaskan bahwa layanan kesehatan mental digital bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi penting untuk memperluas akses, menjawab kebutuhan generasi muda, dan membangun sistem dukungan yang lebih inklusif di Indonesia.[]

KOMPAS

0Shares