Di Rumah Majelis Pengajian, di jalan komplek Keraton, Kota Pontianak, puluhan anak usia dini akan segera merayakan salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Bukan perpisahan, melainkan pelepasan. Sebuah istilah yang dipilih dengan penuh makna oleh PAUD-KB Cendrawasih.
Pada 11 Juni 2026 mendatang, lembaga pendidikan anak usia dini itu akan menggelar acara Pelepasan Peserta Didik Angkatan IV Tahun Ajaran 2025–2026 dengan tema “Langkah Kecil Menuju Mimpi yang Besar, Selamat Melanjutkan ke Jenjang Berikutnya.”
“Kalau di zaman dulu namanya perpisahan. Tapi sekarang ini namanya pelepasan. Karena konteksnya mereka bukan menamatkan pendidikan, tapi melanjutkan. Jadi mereka dilepas ke jenjang berikutnya,” ujar Rani Ariyani, operator PAUD-KB Cendrawasih.
Acara tersebut akan dirangkai dengan lomba peragaan busana daerah yang melibatkan pasangan orang tua dan anak. Para peserta bebas mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Di rumah besar yang mampu menampung banyak peserta dan tamu undangan nanti, selain keluarga peserta didik, sejumlah lembaga mitra juga akan hadir memberikan dukungan, antara lain Suluh Perempuan, PBH Peran, MAI (Muslimah Ahlulbait Indonesia), Nurul Ilmu Islamic School, dan Ahlulbait Indonesia.
Sekitar 50 orang diperkirakan menghadiri acara tersebut, termasuk orang tua, peserta didik, dan para tamu undangan.
“Targetnya jam 12 siang paling lama. Mulainya jam 7.30,” kata Rani.
Bagi PAUD-KB Cendrawasih, pelepasan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Momen ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju usia lima tahun lembaga tersebut pada tahun depan. Karena itu, mereka mulai mengumpulkan berbagai dokumentasi perjalanan sekolah sejak awal berdiri.
“Tahun depan itu sudah masuk tahun kelima. Jadi mulai buat video-video dokumentasi dari awal berdirinya PAUD-TB Cendrawasih,” ujarnya.
Belajar dengan Pendekatan Mendalam
Tahun ajaran 2025–2026 menjadi tahun penting bagi PAUD-KB Cendrawasih karena mulai menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam.
Menurut Rani, secara umum metode pembelajaran di PAUD tidak banyak berubah. Namun pendekatan yang digunakan kini lebih menekankan pada pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
“Kalau metodenya itu sebenarnya konsepnya sama. Cuma pendekatan pembelajarannya yang deep learning,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa kebutuhan utama pendidikan anak usia dini bukanlah penekanan pada teori atau akademik, melainkan pengalaman eksplorasi yang kaya.
“Kalau di PAUD itu kebutuhannya lebih pada penggunaan media pembelajaran. Karena anak-anak ini bukan lebih banyak berteori. Dia harus mengeksplor bakat mereka, mengeksplor minat mereka.”

Karena itu, berbagai alat permainan edukatif dan media belajar menjadi sarana utama untuk membantu anak mengenali potensi dirinya.
Melatih Anak untuk Mandiri
Salah satu hal yang menjadi perhatian PAUD-KB Cendrawasih adalah membangun kemandirian anak sejak dini.
Pada minggu pertama tahun ajaran baru, sekolah memberikan masa adaptasi bagi anak dan orang tua. Orang tua diperbolehkan berada di sekitar kelas, tetapi tidak masuk ke dalam ruang belajar.
“Seminggu itu kita kasih waktu sama orang tua. Dia tidak masuk ke kelas sebenarnya. Orang tua hanya di sekitar kelas saja,” kata Rani.
Menurutnya, proses ini penting sebagai persiapan anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
“Karena ini bagaimana untuk persiapan ke SD. Karena SD memang tidak boleh ditemani lagi sama orang tua.”
Kemandirian juga dilatih dalam aktivitas sederhana sehari-hari, termasuk saat makan.
“Bagaimanapun anak-anak harus dilatih untuk mandiri. Dan kalau memang di Cendrawasih, kita arahkan dia harus bisa makan sendiri, tidak disuapin.”
Meski pada awalnya ada anak yang masih terbiasa disuapi di rumah, lingkungan sekolah perlahan membantu mereka belajar melakukan berbagai hal secara mandiri.
“Awal-awalnya ada anak-anak yang mungkin di rumah disuapin sama orang tua. Tapi karena di kelas itu ramai, dia kepikir juga bagaimana berusaha untuk nyuap makan sendiri.”
Membuka Ruang bagi Anak-Anak Istimewa
Di balik aktivitas belajar sehari-hari, PAUD-KB Cendrawasih juga memikul tanggung jawab lain yang tidak ringan, yakni menerima dan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus atau yang oleh Rani disebut sebagai “anak-anak istimewa”.
“Di tahun 2026 ini kita tetap menerima anak-anak istimewa,” ujarnya, merujuk pada komitmen sekolah yang telah lama membuka akses pendidikan bagi semua anak.
Tantangan terbesar, menurutnya, justru berada pada kesiapan guru dalam mendampingi anak-anak dengan kebutuhan yang beragam itu.
“Karena kalau anak-anak istimewa itu ada yang hiperaktif. Ada yang tidak bisa diam. Ada yang tidak bisa fokus. Tidak bisa langsung dibuat tertib seperti anak-anak reguler.”
Belum lama ini, para guru mengikuti pelatihan pendidikan inklusi yang difasilitasi pemerintah. Meski hanya berlangsung dua hari, pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas pendidik.
“Sebenarnya tidak cukup waktu dua hari itu. Kita harus menyerap kemampuan untuk pendidikan inklusi, sebenarnya tidak cukup.”
Ke depan, PAUD-KB Cendrawasih berencana menerapkan kurikulum individual bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kalau yang reguler dia klasikal. Tapi kalau anak istimewa, kurikulumnya nanti per individu dibuat.”
Pendekatan tersebut memungkinkan target belajar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.
“Kalau anak reguler capaiannya misalnya dalam seminggu dia sudah harus bisa A. Tapi kalau anak istimewa belum tentu. Mungkin dia bisa sebulan baru mampu.”
Menurut Rani, langkah ini juga menjadi jawaban atas keterbatasan jumlah sekolah luar biasa (SLB) dan tingginya biaya pendidikan khusus.
“Pemerintah sebenarnya minta ke PAUD-PAUD supaya tidak menolak anak-anak istimewa.”
PAUD Bukan Sekadar Persiapan Akademik
Belakangan muncul perdebatan mengenai kemungkinan anak langsung masuk SD tanpa melalui PAUD. Rani mengakui isu tersebut banyak dibicarakan orang tua.
Meski secara aturan terdapat kemungkinan tersebut dengan syarat tertentu, ia menilai PAUD tetap memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak.
“Kalau menurut saya penting. Karena sebenarnya di PAUD itu anak-anak bukan belajar akademisnya, ia belajar bersosialisasi, memantau perkembangan motorik anaknya.”
Menurutnya, banyak persoalan perkembangan anak justru baru teridentifikasi ketika mereka memasuki PAUD.
“Kadang-kadang orang tua baru tahu saat anak sudah usia empat atau lima tahun.”
Salah satu yang paling sering ditemukan adalah keterlambatan bicara (speech delay).
“Nah, sekarang kasus anak istimewa itu cenderung meningkat.”
PAUD-KB Cendrawasih bekerja sama dengan lembaga asesmen anak untuk membantu orang tua memperoleh pendampingan dan pemeriksaan perkembangan anak secara lebih dini.
“Kalau anak-anak istimewa yang sekolah di PAUD-TB Cendrawasih, setahun sebelum mereka selesai di sini, nanti kita dampingi mereka untuk assessment dan itu gratis.”
Ketika Gawai Menggeser Interaksi

Rani juga menyoroti meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini. Menurutnya, kondisi tersebut ikut memengaruhi kemampuan fokus dan komunikasi anak.
“Sekarang dia mainnya sama handphone, jadi perhatian mereka itu cenderung tidak fokus.”
Ia menjelaskan bahwa banyak orang tua menganggap anak fokus ketika diam memainkan ponsel. Padahal dalam perspektif pendidikan anak, fokus berarti kemampuan memberi perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan.
“Ketika anak-anak itu diarahkan untuk mengerjakan hal yang lain, mereka tuh tidak bisa fokus. Karena tadi seolah-olah dibiasakan untuk megang handphone.”
Ia juga mengaitkan penggunaan gawai yang terlalu dini dengan meningkatnya kasus keterlambatan bicara.
“Karena handphone itu tidak bisa komunikasi dua arah. Beda kalau kita komunikasi, ngobrol dengan orang tua.”
Rani mengingat kembali pesan seorang psikolog yang menjadi fasilitator pelatihan pendidikan inklusi.
“Kalau anak sudah bisa berbicara, silakan orang tua mau kasih handphone. Tapi kalau belum bisa ngomong, jangan coba-coba kasih handphone. Yang ada kejadiannya pasti dia telat bicara.”
Menurutnya, keberadaan PAUD menjadi salah satu ruang penting agar anak memiliki waktu bermain, belajar, dan berinteraksi dengan teman sebaya tanpa bergantung pada layar.
“Paling tidak dia ada waktu tiga sampai empat jam itu di sekolah. Lepas dari handphone.”
Bahkan, beberapa orang tua mengaku memilih menyekolahkan anak ke PAUD karena alasan tersebut.
“Daripada di rumah mainnya handphone terus, mendingan dia masuk PAUD dulu. Paling tidak tidak pegang handphone di rumah, dia ketemu sama kawan-kawan.”
Merayakan Setiap Anak
Dalam acara pelepasan nanti, semua peserta akan mendapatkan penghargaan. Bagi PAUD-KB Cendrawasih, setiap anak berhak merasakan pengalaman diapresiasi.

“Ada trofi. Trofi ini semua peserta dapat. Karena konsepnya kalau di PAUD itu tidak bisa kalau tidak ngasih semua anak hadiah.”
Perbedaannya hanya terletak pada kategori penghargaan yang tertulis dalam piagam.
“Paling nanti yang membedakan keterangan di piagam saja. Piagam juara satu, dua, tiga. Kemudian ada kategori khusus seperti busana terbaik, persahabatan, dan fotogenik,” pungkasnya.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Tiga Suara Perlawanan Akan Bergema di KondeFest 2026
Sekolah Ditutup Masa Depan Dikawinkan
Kebangkitan Ulama Perempuan Menentang Kekerasan dari Rumah hingga Negara