7 Juni 2026

Tiga Suara Perlawanan Akan Bergema di KondeFest 2026

0Shares

Perjuangan membela hak-hak perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato, demonstrasi, atau ruang diskusi. Kadang ia datang melalui nyanyian, harmoni suara, dan lirik-lirik yang menyimpan ingatan, harapan, sekaligus perlawanan. Semangat itulah yang akan terasa dalam KondeFest 2026, perayaan ulang tahun ke-10 media Konde.co yang mengusung tema “Menjumpai Pengalaman, Mengalami Perjumpaan.”

Digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Melting Pop M Bloc, Jakarta Selatan, KondeFest bukan sekadar festival seni dan budaya. Acara ini menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari aktivis sosial, gerakan perempuan, komunitas marginal, hingga publik yang ingin merayakan keberagaman pengalaman hidup dan perjuangan kemanusiaan.

Salah satu daya tarik utama KondeFest tahun ini adalah kehadiran tiga kelompok musik yang selama ini dikenal tidak hanya berkarya di panggung seni, tetapi juga konsisten menyuarakan isu-isu sosial dan hak asasi manusia. Mereka adalah Sudut Jentera, Dialita Choir, dan Paduan Suara Gitaku.

Ketiganya datang dari latar belakang yang berbeda, namun dipertemukan oleh semangat yang sama: menggunakan musik sebagai medium untuk memperjuangkan keadilan, mengingatkan publik pada isu-isu kemanusiaan, serta menguatkan suara perempuan dan kelompok yang selama ini sering berada di pinggiran.

Sudut Jentera dan Lagu-Lagu yang Membela Perempuan

Duo SUDUT JENTERA. Foto: tangkapan layar instagram @safenetvoice

Sudut Jentera merupakan grup musik independen yang terbentuk pada tahun 2018. Duo ini digawangi oleh Alviani Sabillah dan Octania Wynn yang sama-sama mengisi posisi gitar dan vokal.

Sejak awal berkarya, Sudut Jentera dikenal sebagai musisi yang menjadikan musik sebagai ruang advokasi. Lagu-lagu mereka kerap berbicara tentang berbagai persoalan sosial, hukum, dan politik yang terjadi di masyarakat.

Yang membuat Sudut Jentera menonjol adalah keberpihakan mereka terhadap hak-hak perempuan dan kelompok marjinal. Melalui karya-karyanya, mereka berusaha menghadirkan narasi yang sering kali luput dari perhatian publik.

Lagu-lagu mereka seperti Janji-Janji, +62, Lerai, dan lagu Narasi Puan menjadi penanda bagaimana mereka memberi ruang bagi pengalaman dan suara perempuan dalam karya musik mereka.

Di tengah situasi ketika berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih terjadi, kehadiran Sudut Jentera di KondeFest menjadi simbol bahwa seni dapat menjadi alat untuk menyampaikan kritik sekaligus membangun kesadaran sosial.

Dialita Choir Merawat Ingatan dan Menolak Lupa

Kelompok DIALITA. Foto: mahardhika.org

Dialita Choir menghadirkan suara sejarah yang terus hidup hingga hari ini. Dialita, yang merupakan singkatan dari “Di Atas Lima Puluh Tahun”, adalah kelompok paduan suara asal Jakarta yang beranggotakan perempuan penyintas Tragedi 1965. Sebagian besar anggotanya merupakan mantan tahanan politik atau keluarga dari mereka yang pernah ditahan tanpa proses pengadilan pada masa Orde Baru.

Didirikan pada tahun 2011, Dialita menjadikan musik sebagai sarana untuk menyuarakan perdamaian dan menjaga ingatan kolektif bangsa. Mereka percaya bahwa sejarah tidak boleh dilupakan, terutama ketika menyangkut pelanggaran kemanusiaan yang meninggalkan luka panjang bagi banyak orang.

Melalui lagu-lagu yang mereka nyanyikan, Dialita mengajak publik untuk belajar dari masa lalu agar kejahatan kemanusiaan tidak terulang kembali.

Pada awalnya mereka membawakan lagu-lagu nasional dan daerah. Namun seiring waktu, Dialita juga mulai melestarikan lagu-lagu perjuangan yang diciptakan oleh para tahanan politik ketika berada di dalam penjara.

Kehadiran mereka di berbagai panggung seni selama ini telah menginspirasi banyak kalangan, termasuk generasi muda yang ingin memahami sejarah dari sudut pandang para penyintas.

Perjalanan dan perjuangan Dialita juga telah diabadikan dalam sejumlah karya dokumenter, salah satunya film Lagu untuk Anakku.

Paduan Suara Gitaku Menyanyikan Solidaritas

Paduan Suara GITAKU saat menggelar aksi solidaritas di Sarinah Jakarta untuk korban banjir dan longsor di Sumatra. Foto: Dok. GITAKU

Kelompok lain yang akan mengisi panggung KondeFest adalah Paduan Suara Gitaku. Paduan suara ini dikenal sebagai ruang ekspresi dan solidaritas sosial yang menggunakan seni vokal untuk menyuarakan berbagai isu kemanusiaan. Mereka kerap hadir di ruang-ruang publik, bukan hanya untuk bernyanyi, tetapi juga menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat luas.

Salah satu kiprah yang dikenal publik adalah aksi musikal dan nyanyian solidaritas yang mereka lakukan untuk mendesak perhatian terhadap korban bencana alam di Sumatera. Melalui musik, mereka menunjukkan bahwa empati dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Paduan Suara Gitaku juga aktif dalam berbagai gerakan demokrasi dan hak asasi manusia. Bersama kelompok masyarakat sipil lainnya, mereka pernah menggelar aksi flash mob di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, untuk menolak pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sekaligus mengenang aktivis HAM Munir.

Selain terlibat dalam berbagai aksi sosial, mereka juga aktif berpartisipasi dalam festival komunitas dan panggung budaya yang merayakan keberagaman serta kebersamaan.

Merayakan Perjumpaan dan Perjuangan Bersama

KondeFest 2026 hadir sebagai perayaan satu dekade perjalanan Konde.co dalam mengangkat suara-suara yang selama ini sering tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam media arus utama.

Selain pertunjukan musik, KondeFest 2026 juga akan menghadirkan Dialog Nasional yang membahas tema Women, Environment, Intersection, pertunjukan Performative Journalism, pameran seni, Konde Walking Tour, orasi perempuan, peluncuran buku, hingga berbagai aktivitas komunitas lainnya.

Seluruh rangkaian acara tersebut menunjukkan bahwa perjuangan hak-hak perempuan tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan isu lingkungan, demokrasi, hak asasi manusia, sejarah, dan kehidupan kelompok-kelompok marginal.

Melalui tiga penampil musik yang hadir tahun ini, KondeFest mengingatkan bahwa seni tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial. Lagu-lagu dapat menjadi arsip ingatan, ruang penyembuhan, sekaligus alat perlawanan.[]

Sukir Anggraeni, dari berbagai sumber.

0Shares