Di tengah riuh Kawasan Wisata Kota Tua Fatahillah, Jakarta Barat, ada sosok yang memilih diam. Bergerak hanya saat ada receh masuk ke kantung uang di depannya. Mereka itu sedang bekerja.
Dari diam itulah, mereka mencari nafkah untuk keluarga. Mereka adalah bagian dari Komunitas Manusia Patung, pekerja seni jalanan yang menghibur pengunjung dengan berpose layaknya patung, tidak bergerak selama berjam-jam.
Selain manusia patung, juga ada Cosplayer, para pemeran karakter berkostum yang menjadi daya tarik utama dan hiburan bagi para pengunjung yang kerap diminta untuk berfoto berbagai pose dengan menggunakan berbagai properti seperti topi, bunga, becak dan lainnya.
Kerja Sampingan Hingga Pekerjaan Utama
Beberapa anggota Komunitas Manusia Patung dan Komunitas Cosplay merupakan perempuan yang telah berkeluarga. Salah satunya adalah Ayu, 28 tahun.
“Kalo untuk saya pribadi, saya ada di hari Jumat, Sabtu, Minggu. Karena saya ada kerjaan lain juga,” ujar Ayu saat ditemui di area Fatahillah, Jumat malam, 7 Agustus 2026.
Ayu mengaku memiliki pekerjaan utama sebagai pelayan di sebuah restoran. Menjadi manusia patung ia jalani sebagai pekerjaan tambahan di akhir pekan.
Bagi Ayu, tantangan terbesar dalam pekerjaan ini adalah bagaimana menarik perhatian pengunjung agar mau berfoto.
“Tantangannya bagi saya adalah bagaimana bisa menarik pengunjung,” katanya. Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling ramai. “Ramai banget,” ujarnya singkat.
Di lokasi yang sama, berbeda jarak, Devi juga menggantungkan hidup dari profesi ini. Perempuan yang tinggal di Jalan Tongkol, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara itu datang sejak pagi.
“Saya di sini dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam, Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu sampai jam 10 malam,” jelas Devi. “Anak saya titipkan ke neneknya di kampung,” tambahnya.
Tantangan Keamanan dan Apresiasi Pengunjung
Di balik kostum dan berbagai aksesorisnya, para pekerja seni ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Cuaca, rasa lelah, hingga perlakuan pengunjung menjadi bagian dari risiko kerja mereka.
Saat ditanya tantangan terbesar yang dialami saat menghadapi pengunjung, Devi menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat bekerja. “Tantangannya kadang ada yang datang main peluk saja. Kan kaget! Sedikit pelecehan juga,” ungkapnya. Selain itu, ia juga menyoroti minimnya apresiasi dari sebagian pengunjung.
“Ada juga yang foto-foto hanya memberikan 200 rupiah. Cring-cring. Memang sih seikhlasnya, tapi tolong yang sepantasnya ya..,” tuturnya.

Ayu dan Devi punya harapan kepada pengelola kawasan wisata kota tua, yaitu jam operasional bisa diperpanjang. “Ke depannya bagi kami jam bukanya diharapkan lebih panjang. Karena dari Senin sampai dengan Jumat hanya sampai jam 21.00 saja,” harap Ayu.
Selain itu, meski bekerja di ruang publik, para perempuan ini tetap berupaya menjaga produktivitas. Ayu dan Devi juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens lebih luas. Saat diwawancara Ayu juga melakukan live TikTok dengan akun “Ayu Rangga Buana”.
Tidak berbeda dengan Ayu, Devi menutup perbincangan dengan harapan pengunjung Kawasan Wisata Kota Tua lebih banyak dan mau memberikan apresiasi yang layak bagi para pekerja seni.
“Semoga seniman pejuang dari Komunitas Manusia Patung dan Cosplayer mendapatkan rejeki yang banyak dari pengunjung,” pungkasnya.(*)
Tjung Susanti

Terkait
Dikejar Karena Identitas, Seorang Transpuan Hidup Berpindah Stasiun Demi Merasa Aman
Komnas Perempuan Desak Perlindungan Spesifik Perempuan Adat dalam RUU Masyarakat Adat
Koalisi Besar Buruh Desak RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Lebih Berpihak pada Pekerja