13 September 2026

Dikejar Karena Identitas, Seorang Transpuan Hidup Berpindah Stasiun Demi Merasa Aman

2Shares

Seorang transpuan yang akrab disapa Bunga (nama disamarkan demi keamanannya) menjadi korban kekerasan oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai pemburu identitas gender tertentu di media sosial. Sejak kejadian itu, ia tidak berani pulang ke tempat tinggalnya dan memilih berpindah-pindah stasiun kereta commuter line Jabodetabek karena tidak memiliki tempat yang ia rasa aman untuk beristirahat.

Kisah ini terungkap saat seorang jurnalis warga bertemu Bunga dalam sebuah pertemuan komunitas untuk membahas rencana usaha kecil pembuatan keripik, opak, dan rengginang—sebuah upaya Bunga untuk memiliki penghasilan tetap dan tidak lagi bergantung pada kegiatan mengamen di jalanan. Namun di sela obrolan itu, Bunga menceritakan bahwa semalam sebelumnya ia dikejar dan menjadi korban kekerasan oleh sekelompok orang yang menyasar kelompok transpuan lewat tagar tertentu di media sosial. Dalam upayanya menyelamatkan diri, sepasang sepatu miliknya hilang.

Kecurigaan bahwa kasus ini bukan sekadar kekerasan biasa yang kerap dialami komunitas transpuan mulai muncul ketika sebuah rekaman video peristiwa tersebut beredar. Video itu memperlihatkan seorang transpuan dikejar-kejar oleh sekelompok orang. Setelah dikonfirmasi, Bunga membenarkan bahwa dirinyalah yang tampak dalam rekaman tersebut.

“Iya, Mas… itu saya,” ujar Bunga pelan saat dimintai konfirmasi soal video tersebut.

Bunga kemudian menceritakan kondisinya sejak malam kejadian. Ia mengaku sudah beberapa hari tidak makan dan baru kembali menyantap nasi saat bertemu jurnalis warga tersebut dalam pertemuan komunitas.

“Jujur, kemarin saya ikut pertemuan itu juga karena berharap bisa makan. Sejak kejadian itu saya tidak berani keluar. Sudah beberapa hari saya belum makan. Nasi yang kita makan kemarin itu adalah nasi pertama saya sejak malam kejadian,” katanya.

Hari itu pun, menurut penuturannya, ia belum makan apa pun selain sepotong roti pemberian dari pertemuan sehari sebelumnya. Bunga mengatakan tidak berani pulang ke tempat tinggalnya dan menghabiskan waktu dengan naik turun kereta commuter line dari satu stasiun ke stasiun lain karena bingung harus ke mana.

“Saya sekarang lagi di luar stasiun, bersembunyi di bawah pohon yang gelap sambil pakai masker. Saya takut dikenali,” tuturnya.

Ia juga mengaku tidak berani kembali ke wilayah tempatnya biasa beraktivitas, sebab menurutnya kawasan tersebut kini rawan bagi teman-teman transpuan lain yang biasa mencari nafkah dengan mengamen di sana. Bunga khawatir dirinya atau rekan-rekannya akan menjadi sasaran berikutnya.

“Saya juga tidak bisa kembali mangkal. Daerah saya sekarang sangat berbahaya karena banyak teman-teman transpuan yang biasa mengamen di sana. Saya takut jadi sasaran berikutnya,” ujarnya.

Ketika ditemui, Bunga tampak berbicara pelan dan sesekali menunduk, sorot matanya lelah, sementara tangannya terus memegang erat masker yang dikenakannya gambaran dari kewaspadaan yang belum juga reda meski peristiwa itu telah berlalu beberapa hari.

Kasus semacam ini menambah daftar panjang kekerasan berbasis identitas gender yang dialami kelompok transpuan di ruang publik, sementara akses mereka terhadap rasa aman, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar seperti makanan kerap kali tidak tersedia ketika kekerasan itu terjadi.

Bunga berharap dapat kembali melanjutkan rencananya membuka usaha kecil keripik, opak, dan rengginang bersama komunitasnya, sebagai jalan untuk memiliki penghasilan yang lebih stabil dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada jalanan yang kini ia rasa semakin tidak aman baginya.(*)

RAHMAT

2Shares