Wacana pembatasan media sosial bagi anak-anak kembali menguat di berbagai negara. Setelah Australia secara resmi melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, Swiss kini mulai membuka diskusi serupa. Menteri Dalam Negeri Swiss, Elisabeth Baume-Schneider, menyatakan negaranya perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak dari risiko dunia digital.
Dalam wawancara dengan surat kabar SonntagsBlick pada 21 Desember, Baume-Schneider mengaku terbuka terhadap kemungkinan pelarangan media sosial bagi anak-anak. “Debat di Australia dan Uni Eropa itu penting. Debat itu juga harus dilakukan di Swiss. Saya terbuka terhadap larangan media sosial,” ujar politisi Partai Sosial Demokrat tersebut. Menurutnya, perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas. “Kita harus lebih melindungi anak-anak kita.”
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak media sosial pada kesehatan mental dan keselamatan anak. Baume-Schneider menekankan bahwa diskusi di Swiss tidak hanya akan berfokus pada larangan total, tetapi juga berbagai opsi kebijakan lain. Di antaranya adalah pembatasan konten berbahaya, pengaturan algoritma yang mengeksploitasi kerentanan kaum muda, hingga penentuan batas usia penggunaan platform digital.
Diskusi mendalam terkait isu ini direncanakan akan dimulai pada 2026, dengan dukungan laporan khusus mengenai dampak media sosial terhadap anak dan remaja. Baume-Schneider juga menegaskan tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan pada keluarga atau sekolah. “Kita tidak boleh melupakan platform media sosial itu sendiri: mereka harus bertanggung jawab atas apa yang dikonsumsi anak-anak dan kaum muda,” katanya.
Langkah Swiss ini tidak muncul dalam ruang hampa. Australia menjadi negara pertama yang menerapkan larangan nasional media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Kebijakan tersebut mencakup platform besar seperti TikTok, X, Facebook, Instagram, YouTube, Snapchat, Threads, hingga Reddit. Anak-anak tidak diperbolehkan membuat akun baru, sementara akun yang sudah ada akan dinonaktifkan.

Pemerintah Australia beralasan larangan ini diperlukan untuk mengurangi dampak negatif desain media sosial yang mendorong anak-anak menghabiskan waktu berlebihan di depan layar dan terpapar konten berbahaya. Sebuah studi yang ditugaskan pada awal 2025 menunjukkan bahwa 96 persen anak usia 10–15 tahun menggunakan media sosial, dan tujuh dari sepuluh anak tersebut pernah terpapar konten berbahaya, mulai dari kekerasan, misogini, hingga materi yang mempromosikan gangguan makan dan bunuh diri.
Lebih jauh, satu dari tujuh anak dilaporkan mengalami perilaku yang menyerupai pelecehan seksual di dunia daring, sementara lebih dari separuh mengaku menjadi korban perundungan siber. Data inilah yang kerap dijadikan rujukan oleh negara lain, termasuk Swiss, dalam mempertimbangkan kebijakan serupa.
Dalam penerapannya, Australia tidak menghukum anak-anak atau orang tua yang melanggar aturan. Sanksi justru diarahkan kepada perusahaan media sosial, dengan denda hingga 49,5 juta dolar Australia untuk pelanggaran serius atau berulang. Pemerintah mewajibkan perusahaan mengambil “langkah-langkah wajar” untuk mencegah anak-anak mengakses platform mereka, termasuk melalui teknologi verifikasi usia.

Namun, kebijakan ini juga menuai kritik. Sejumlah pihak meragukan efektivitas teknologi penjaminan usia dan khawatir terhadap risiko pelanggaran privasi akibat pengumpulan data pribadi skala besar. Menteri Komunikasi Australia, Annika Wells, bahkan mengakui bahwa kebijakan tersebut mungkin tidak akan berjalan sempurna. “Prosesnya akan terlihat agak berantakan. Reformasi besar memang selalu begitu,” katanya.
Perdebatan serupa tampaknya akan segera berlangsung di Swiss. Meski belum ada keputusan resmi, sinyal keterbukaan dari pemerintah federal menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital semakin dianggap sebagai tanggung jawab negara. Terlebih, di tingkat lokal, langkah pembatasan sudah mulai diterapkan. Awal Desember lalu, parlemen kanton Fribourg memutuskan melarang penggunaan telepon seluler di sekolah hingga usia sekitar 15 tahun.
Dengan semakin banyak negara yang meninjau ulang hubungan anak-anak dan media sosial, Swiss kini berada di persimpangan penting. Apakah akan mengikuti jejak Australia dengan larangan tegas, atau memilih pendekatan regulasi bertahap, tapi satu hal terpenting adalah perdebatan tentang masa depan anak di dunia digital tidak lagi bisa ditunda.[]
REUTERS, BBC

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan