19 Februari 2026

Melawan Normalisasi Kekerasan Seksual Lewat Panggung Komedi

0Shares

Komedian Pandji Pragiwaksono baru saja merilis penampilan spesialnya di Netflix dengan tajuk ‘Mens Rea’ pada Sabtu (27/12/2025). Sontak acara itu jadi perbincangan di media sosial karena keberaniannya selama dua jam pertunjukan sarat dengan humor sosial politik nan satir dan tanpa sensor. Acara tersebut, melansir voi.id, dihadiri oleh 10 ribu penonton dan memecahkan rekor sebagai pertunjukan terbesar di Asia Tenggara.

Tim Redaksi Suluh Perempuan juga menyaksikan pertunjukan itu, redaksi memantau materi cerdas dan kritis komika Pandji apakah juga nyrempet ke hal-hal seksis dan bias gender, tapi ternyata bersih.

Dan usut punya usut, Pandji ternyata punya sikap suportif terhadap isu perempuan, terutama dalam konteks kesetaraan kesempatan dan pemberdayaan diri. Pandji bahkan mendorong perempuan untuk berpartisipasi dan mengambil peran aktif di banyak bidang, termasuk politik dan hiburan.

Jung Nurshabhah Natsir, wakil Sekretaris Jenderal DPP Suluh Perempuan bilang: “Kalau Pandji memang melek isu-isu kekerasan seksual (KS), jadi bisa dipastikan dia paham dan tau mana isu yang sexist, salah satu buktinya dia sempat mengkritik Menag (menteri agama—red) yang mengecilkan KS, juga soal penulisan ulang sejarah yang bisa merugikan korban dan seterusnya. Jadi dia aktif juga menyuarakan isu-isu marginal.”

ChiaSiva dari Suluh Perempuan menambahi: “Panji dari dulu aktif ikut program-program NGO. Khususnya dari pendanaan Ausie. Dulu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli, dia yang menghibur.. sayangnya pake bahasa Inggris jadi banyak yang gak paham petaninya. Dia deket sama kawan-kawan NGO.”

SIUU, tangkapan layar di X Pandji Pragiwaksono @pandji

Redaksi Suluh Perempuan lalu menelusuri dan menonton video yang dimaksud diatas, yang diunggah di chanel youtube @pandji.pragiwaksono. Salah satunya berjudul “Sinetron 98 Fadli Zon” dimana Pandji membahas Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang membuat pernyataan kontroversi mengenai peristiwa 1998 di acara ‘Real Talk: Debat Panas Fadli Zon vs Uni Lubis Soal Revisi Buku Sejarah.’

“Fadli Zon membuat pernyataan yang agak bikin kesal banyak orang dan terus terang banyak yang ngamuk juga karena mengatakan pemerkosaan massal Mei ’98 tidak pernah terjadi atau bahkan hanya cerita saja,” ujar Pandji.

“Kita mesti mesti nonton lengkapnya untuk tahu konteksnya. Kebetulan gua sudah selesai nonton seluruh video obrolan antara Fadli Zon dan Uni Lubis. Isunya dimulai dengan kabar bahwa pemerintah Republik Indonesia lewat Menteri Kebudayaan mendorong inisiatif untuk melakukan pemutakhiran sejarah Indonesia yang menghabiskan anggaran kalau enggak salah 9 miliar dan akan hadir dalam bentuk 10 jilid buku sejarah yang termutakhirkan,” imbuhnya.

Menurut Pandji pemutakhiran itu berarti ada update, karena terakhir kali ketika sejarah itu dituliskan ada banyak sekali hal-hal dalam sejarah yang belum dimasukkan padahal sudah jadi bagian dari sejarah Republik Indonesia, termasuk hal-hal yang terjadi pasca reformasi yang memang tidak pernah benar-benar dicatat. Inilah yang kemudian jadi bagian yang kontroversial.

“Gua mau cerita dulu. Jadi waktu itu gua masuk kuliah 97, jadi 98 tuh 97 lagi gila-gilanya maksudnya resistensi dari masyarakat karena harga yang naik tuh lagi gila-gilanya dan 98 pecahlah bulan Mei kerusuhannya sebagai bagian dari desakan untuk Soeharto turun katanya di ceritanya—seperti diksi yang digunakan sama Fadli Zon—gua ingat salah satu wawancara yang ada di stasiun TV, tapi gua lupa stasiun TV-nya apa, adalah seorang perempuan etnis Tionghoa yang panik karena ngelihat orang-orang Cina dibunuh, orang-orang keturunan Tionghoa dibakar, diperkosa. Dia panik, dia syok enggak bisa gerak. Lalu ada seorang pria Melayu ngasih topi yang langsung dipakaikan ke kepala si perempuannya, ditutup terus disuruh kabur. Perempuan itu saat wawancara di stasiun TV masih bawa topinya, dia nangis-nangis, saya mau terima kasih sama yang ngasih topi ini,” ujar Pandji mengisahkan.

Lalu Pandji menambahkan kisah tentang dokter yang mengobati seorang perempuan etnis Tiongho yang luka parah karena lompat dari gedung dari jendela—yang takut karena mau diperkosa—karena di depan dia ada perempuan yang diperkosa. “Masih ada banyak cerita-cerita serupa yang gua dengar sendiri dari zaman dulu sampai dengan sekarang.”

“Ya, kalau ditanya kesalahannya Fadli Zon yang paling nyata adalah pernyataan itu diungkap tanpa memikirkan perasaan orang yang memang merupakan korban. Tidak susah untuk menemukan orang yang menjadi korban. Walaupun harus gua akuin tidak mudah juga untuk mereka maju ke permukaan dan mengungkapkan ceritanya. Ya, ini berkaitan dengan masa lalu. Harapan gua sih kekesalan mereka terhadap Fadli Zon membuat korban-korban ini berani untuk speak up dan bilang di depan Fadli Zon secara langsung, yang lu bilang isapan jempol dan cuma cerita, gua ini adalah korbannya,” pintanya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar Mengecilkan KS di Pondok Pesantren

Lalu pada salah dua videonya berjudul “Menteri Agama Nasaruddin Umar Mengecilkan Kekerasan Seksual (KS)”, dimana Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membuat sebuah pernyataan bahwa media membesarkan kekerasan seksual yang terjadi di pondok pesantren.

Pandji membahas pernyataan yang membuat gusar banyak orang tersebut dengan berkata: “Kita semua tuh dengar pernyataan itu kok kayak hmm.. agak enggak masuk akal menteri ngomong seperti itu. Terutama karena—ini gua ngambil dari CNN Indonesia—menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) ada 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan di 2024 aja tahun lalu. Sementara 36% nya itu terjadi di lingkungan belajar berbasis agama seperti pesantren, 36% dari 573 itu terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) jadi gede dong angkanya.”

Menurut Pandji kenapa Menag bisa berbicara seperti itu karena mungkin Menag Nasaruddin Umar tidak mengetahui semua informasi tadi, karena kalau ia tahu pernyataannya akan berbeda dan kritik ada pada lingkaran terdekatnya.

Masih menurut Pandji, harusnya Menag Nasaruddin Umar menjawab ketika ditanya soal itu, “Kami akan coba untuk pelajari, kami akan coba untuk cari tahu kebenarannya, dan kami akan coba untuk selesaikan. Karena kekerasan seksual ketika terjadi kepada satu orang santri saja di Ponpes, itu sudah terlalu besar. Itu tuh lebih simpatik,” tutupnya.[]

Sukir Anggraeni

0Shares