23 Februari 2026

Ramadan Sedunia dan Tradisi Uniknya dari Mesir hingga Indonesia

0Shares

Cerita budaya yang membuat bulan suci terasa berbeda di setiap sudut dunia

Ramadan selalu datang dengan suasana yang khas. Di Indonesia, kita mengenal ngabuburit, sahur keliling, hingga ‘war takjil’ yang ramai menjelang berbuka. Namun jika kita melihat lebih jauh ke berbagai negara, Ramadan juga hadir dengan tradisi yang unik, berwarna, dan sering kali menjadi daya tarik budaya sekaligus wisata.

Menariknya, meski bentuknya berbeda-beda, semangatnya tetap sama: kebersamaan, kegembiraan, dan penguatan nilai spiritual. Sebagaimana sering disampaikan dalam banyak tulisan tentang Ramadan global, bulan ini bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga ruang pertemuan antara agama dan budaya lokal.

Berikut beberapa tradisi Ramadan yang unik dari berbagai negara di dunia.

Lentera Fanous yang Menerangi Ramadan di Mesir

Fanoos –bahasa Arab artinya lentera– saat ini digunakan sebagai barang dekoratif atau mainan untuk dinikmati anak-anak selama bulan suci Ramadan. Foto: https://egyptianstreets.com

Jika berkunjung ke Kairo menjelang Ramadan, suasana kota akan berubah. Jalanan dipenuhi lentera warna-warni yang dikenal sebagai fanous, simbol kegembiraan yang sudah ada sejak era Dinasti Fatimiyah.

Lampu-lampu ini tidak hanya dekorasi, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat. Anak-anak sering membawa fanous sambil bernyanyi dan menikmati suasana malam Ramadan yang meriah.

Dalam salah satu materi promosi pariwisata Ramadan dunia disebutkan, “Fanous lanterns symbolize joy and togetherness.” Artinya, lentera itu bukan sekadar hiasan, tetapi simbol kebersamaan yang dirayakan oleh masyarakat Mesir setiap tahun.

Neffar, Pembangun Sahur Tradisional di Maroko

“Neffar” adalah orang yang berjalan di jalanan yang sepi di pagi hari selama Ramadan, memainkan alat musik seperti gendang dan seruling, untuk membangunkan orang-orang untuk sahur. Foto: https://www.moroccoworldnews.com

Sebelum alarm ponsel menjadi hal biasa, masyarakat Maroko memiliki cara unik untuk membangunkan sahur. Seorang petugas tradisional yang disebut nafar berjalan di jalan-jalan kota sambil menabuh alat musik atau meniup seruling.

Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan masih dipertahankan di beberapa kota tua. Gambaran ini sering dijelaskan dalam cerita wisata Ramadan: “Imagine being woken up for suhoor by a drum.”

Bagi wisatawan, pengalaman ini sering terasa seperti perjalanan ke masa lalu, Ramadan yang hangat, sederhana, dan penuh nuansa komunitas.

Garangao, Festival Anak-anak di Qatar dan Negara Teluk

Perayaan Garangao menjanjikan malam yang penuh kesenangan dan hiburan bagi keluarga dengan anak-anak. Acara ini akan menampilkan panggung khusus tempat anak-anak dapat menikmati pertunjukan wayang, kuis, dan peragaan busana, dengan hadiah untuk kostum Garangao terbaik untuk anak perempuan dan laki-laki. Foto: https://safetycarrental.com

Di Qatar dan beberapa negara Teluk lainnya, ada tradisi pertengahan Ramadan yang disebut Garangao. Anak-anak mengenakan pakaian tradisional, bernyanyi, dan berkeliling lingkungan untuk mendapatkan permen dan kacang dari tetangga.

Banyak yang menyebut tradisi ini mirip dengan “trick or treat”, tetapi dalam nuansa Ramadan yang penuh kebersamaan keluarga.

Dalam berbagai ulasan budaya Ramadan, tradisi ini sering disebut sebagai cara memperkenalkan kegembiraan bulan suci kepada anak-anak.

Dentuman Meriam Penanda Berbuka di Timur Tengah

Seorang polisi Mesir di Kairo menembakkan meriam untuk mengumumkan waktu berbuka puasa selama Ramadan. Foto: REUTERS

Di beberapa negara seperti Lebanon dan Uni Emirat Arab, masyarakat memiliki tradisi menembakkan meriam saat waktu berbuka tiba. Dentuman ini menjadi penanda resmi bahwa puasa hari itu telah selesai.

Tradisi ini sudah ada sejak masa Kekaisaran Ottoman dan masih dipertahankan hingga kini sebagai simbol sejarah sekaligus atraksi budaya Ramadan.

Banyak wisatawan mengatakan bahwa mendengar meriam Ramadan untuk pertama kali adalah pengalaman yang sangat berkesan—sebuah momen ketika sejarah dan spiritualitas bertemu.

Padusan dan Ziarah Kubur di Indonesia

Sejumlah warga mengikuti tradisi keramas bersama di bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang, Banten, Selasa, 21 Maret 2023. Tradisi keramas bersama tersebut sebagai simbol membersihkan diri menjelang Ramadan. ANTARA FOTO/Fauzan

Di Indonesia, tradisi Ramadan sering dimulai bahkan sebelum bulan puasa tiba. Banyak masyarakat melakukan padusan, mandi di sumber air alami sebagai simbol penyucian diri, serta ziarah kubur untuk mendoakan leluhur.

Mengutip Tempo, tradisi padusan adalah sebuah tradisi mandi di sumber mata air yang dilakukan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan, menyimpan sejarah panjang dan makna mendalam.

Tradisi ini tak hanya sebatas ritual membersihkan diri secara fisik, namun juga merepresentasikan penyucian diri secara spiritual, menyambut bulan suci dengan hati yang bersih.

Kata “padusan” berasal dari bahasa Jawa “adus” yang berarti mandi. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri dari segala kotoran dan dosa, baik secara fisik maupun batin.

Sementara ziarah kubur menjelang Ramadhan bermakna sebagai pengingat kematian refleksi diri, dan wujud bakti mendoakan ahli kubur agar mendapat ampunan sebelum memasuki bulan suci. Tradisi ini menjadi momentum spiritual untuk menata hati, memperbaiki diri, serta mempersiapkan mental menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk.

Ziarah ke makam (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Tradisi ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya soal ritual pribadi, tetapi juga tentang hubungan dengan keluarga, sejarah, dan komunitas.

Ramadan sebagai Jembatan Budaya Dunia

Melihat berbagai tradisi ini, kita bisa memahami bahwa Ramadan tidak hanya satu wajah. Di setiap negara, bulan suci ini hadir dengan nuansa budaya yang berbeda, namun tetap membawa pesan yang sama: kebersamaan, spiritualitas, dan harapan. Perbedaan tradisi justru memperkaya wajah Islam di dunia.

Di satu tempat ada lentera warna-warni, di tempat lain ada tabuhan musik sahur, dan di negara lain ada festival anak-anak. Semuanya menjadi cerita yang membuat Ramadan terasa lebih luas, hangat, dan manusiawi.[]

Dari berbagai sumber

0Shares