Ubud Writers & Readers Festival mengumumkan kembali terselenggaranya festival di Taman Baca pada 21 hingga 25 Oktober 2026, menghadirkan para penulis dan pembaca dalam sebuah rangkaian program bertema Samarasā: Awareness. Empathy. Action.
Festival tahun ini menghadirkan sudut pandang baru dalam melihat dunia bersama para penulis dan jurnalis pemenang penghargaan, seniman, para penggerak perubahan, dan inovator melalui beragam diskusi dan acara, mulai dari sesi bincang penulis, diskusi panel, lokakarya, santap siang literasi, pertunjukan seni, komedi larut malam, panggung spoken word, peluncuran buku merayakan sastra, dan ekspresi kreatif lintas disiplin.
Samarasā: Awareness. Empathy. Action berakar dari filsafat Sanskerta dan menekankan keselarasan antara Citta (pikiran), Rasa (hati), dan Karsa (tindakan). Tema ini mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan dapat hadir dalam harmoni, di mana kesadaran menghadirkan kejernihan, empati membangun keterhubungan, dan tindakan mengubah pemahaman menjadi tujuan.
“Melalui lensa Samarasā, kami menelusuri kekuatan yang membentuk diri kita untuk menemukan keseimbangan yang utuh antara kesadaran, empati, dan tindakan,” ujar Janet DeNeefe, Pendiri dan Direktur Festival. “Dari yang bersifat teknologi hingga spiritual, dari ranah personal hingga lingkungan, kami menelusuri siklus keberadaan kita, bukan hanya untuk memahami dari mana kita berasal, tetapi juga untuk menuntun umat manusia menuju arah yang perlu kita tuju, yaitu masa depan yang ditentukan oleh respons yang penuh welas asih.”
Menandai 200 hari menuju Festival 2026, karya seni tahun ini oleh seniman Bali Wayan Aris Sarmanta turut diperkenalkan, menghadirkan sebuah eksplorasi yang mendalam tentang simbiosis mitologis yang mengilustrasikan tema melalui sudut pandang surealis. Karya ini menampilkan dunia yang hidup dan menyerupai mimpi, di mana manusia, alam, dan makhluk mitologis saling terhubung satu sama lain.

Merefleksikan kolaborasi ini, Wayan Aris Sarmanta mengatakan, “Saya sangat senang mendapat kesempatan untuk mengilustrasikan karya seni tahun ini. Saya ingin menciptakan satu citra yang utuh dan menyatu, dengan makhluk mitologis dan lanskap yang berkilau oleh energi. Saya berharap penikmatnya dapat terserap dalam seluruh bentuknya dan pada akhirnya hanya menyisakan ingatan tentang serpihan-serpihan detail yang terkumpul.”
Bersamaan dengan peluncuran karya seni tersebut, Festival juga memperkenalkan Writers’ Retreat, sebuah program intensif selama tiga hari yang dipandu oleh penulis dan jurnalis pemenang penghargaan Peter Godwin, yang dikenal melalui karyanya yang merajut narasi personal dengan sejarah politik. Program ini dirancang bagi para penulis yang tengah mengerjakan memoar, fiksi autobiografis, atau nonfiksi naratif, dan siap mengeksplorasi ingatan dengan disiplin serta keberanian.
Tahun ini, Festival kembali mengundang para penulis, baik penulis pendatang baru maupun yang telah mapan, dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, untuk meluncurkan karya terbaru mereka melalui Program Peluncuran Buku yang menjadi salah satu program andalan Festival. Program ini terbuka untuk berbagai genre, termasuk fiksi, nonfiksi, puisi, prosa, novel, satire, dan lainnya. Pengajuan karya kini dibuka hingga Jumat, 22 Mei 2026, setelah itu akan melalui proses penilaian oleh komite kuratorial.
Festival juga telah meluncurkan penjualan tiket Early Bird yang menawarkan potongan harga untuk Festival Pass 4 Hari, dan untuk pertama kalinya membuka akses bagi pelajar Indonesia di seluruh nusantara dengan akses gratis untuk siswa SD, SMP, dan SMA. Inisiatif ini mengundang generasi pembaca baru untuk merasakan pengalaman Festival secara menyeluruh, dengan akses tanpa batas ke program utama yang menghadirkan lebih dari 100 sesi lintas sastra dan perspektif global.

“Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca di kalangan generasi muda, sejalan dengan tujuan Yayasan Mudra Swari Saraswati yang menaungi Festival ini, kami sangat antusias untuk memberikan akses gratis bagi siswa sekolah negeri di Indonesia. Kami berharap dapat menyambut banyak anak muda pada Oktober ini dan menumbuhkan kecintaan sepanjang hayat terhadap bercerita, membaca, dan kreativitas melalui Festival ini,” ujar Janet DeNeefe.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Solidaritas untuk Petani Aceh yang Dikriminalisasi
Halalbihalal: Merajut Silaturahim dan Menguatkan Empati
Seni Berkelanjutan ala Deniz Sağdıç