30 Juni 2026

Artery Performa Menyuarakan Bumi yang Terluka Lewat Album Perdana

0Shares

Di tengah laju pembangunan yang terus meluas, ada pertanyaan-pertanyaan yang semakin jarang diajukan. Mengapa sungai berubah hitam? Mengapa burung-burung perlahan menghilang? Mengapa kupu-kupu tak lagi mudah ditemukan? Dan mengapa manusia justru kehilangan kemampuan untuk berempati terhadap kehidupan di sekelilingnya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang intens terjaid di album perdana Artery Performa berjudul Untuk Semua Mahluk yang Menderita di Dunia Ini, yang resmi dirilis pada 29 Juni 2026. Lebih dari sekadar kumpulan lagu, album ini hadir sebagai kesaksian artistik tentang krisis lingkungan, krisis sosial, dan krisis kemanusiaan yang semakin nyata di sekitar kita.

Album ini bukan berbicara tentang satu kota atau satu peristiwa tertentu. Ia lahir sebagai catatan bunyi mengenai kehidupan yang perlahan kehilangan keseimbangannya—ketika pembangunan berlangsung begitu cepat, sementara ruang hidup manusia dan makhluk lain terus menyusut.

Berangkat dari pengalaman hidup di Bekasi, kota yang tumbuh di antara kawasan industri, jalan tol, tempat pembuangan sampah, pembangkit listrik, hingga permukiman yang terus meluas, Artery Performa menyusun sepuluh lagu yang merekam berbagai wajah kehidupan hari ini.

Di dalamnya terdapat kisah tentang sesak napas akibat udara yang tercemar, banjir yang terus datang berulang, ruang pendidikan yang lebih sibuk menghafal daripada membebaskan cara berpikir, masyarakat yang mudah dipecah-belah, hingga sejarah yang perlahan terlupakan. Namun di balik semua itu, album ini juga menyimpan secercah harapan—bahwa empati masih mungkin dipelihara meski dunia terasa semakin sulit dipahami.

Artery Performa tidak menawarkan jawaban, tapi mengajak pendengarnya untuk mempertanyakan kembali arah kehidupan bersama.

Apa yang sebenarnya sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya? Apakah pembangunan harus selalu dibayar dengan hilangnya sungai, hutan, dan ruang hidup? Mengapa manusia begitu mudah lupa bahwa dirinya hanyalah salah satu penghuni bumi, bukan penguasanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengalir melalui lagu-lagu seperti “Sakit”, “Bekasi Oh Bekasi”, “Hanya di Indonesia”, “Sekolah”, “Jangan Mau Dipecah”, hingga “Angkat Tangan Kiri”, yang merekam denyut kehidupan sosial penuh ironi.

Sementara itu, lagu-lagu “Bhimaparakramoraja”, “Meskipun Ada Seribu Tongkat”, dan “Tertancap di Sana” mengajak pendengar menoleh ke belakang, mengingat kembali sejarah, mitologi, dan ingatan kolektif yang perlahan memudar ditelan zaman.

Seluruh komposisi dalam album ini diciptakan oleh Dendi Madiya, dengan beberapa lirik ditulis bersama Suwarni Waskito. Kesepuluh lagu tersebut kemudian bermuara pada sebuah komposisi instrumental berjudul “Untuk Semua Mahluk yang Menderita di Dunia Ini”.

Pilihan menghadirkan karya instrumental sebagai penutup bukan tanpa alasan. Bagi Artery Performa, tidak semua kesedihan dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada duka yang hanya dapat disampaikan melalui bunyi, jeda, dan keheningan.

Album ini juga menyampaikan sebuah pesan yang jarang ditemukan dalam karya-karya musik populer. Persembahannya tidak hanya ditujukan kepada manusia, melainkan kepada seluruh makhluk hidup yang ikut menanggung akibat dari kerusakan lingkungan.

Album ini dipersembahkan bagi sungai yang tetap mengalir meski terus dicemari. Bagi pohon yang tetap tumbuh meski ditebang. Bagi burung yang kehilangan tempat pulang. Bagi kupu-kupu yang tak lagi menemukan bunga. Bagi tanah yang terus dipaksa menghasilkan. Dan bagi setiap manusia yang masih percaya bahwa empati merupakan bentuk perlawanan paling sederhana.

Melalui album ini, Artery Performa menegaskan keyakinannya bahwa musik tidak berhenti sebagai hiburan semata. Musik dapat menjadi arsip yang merekam zaman. Musik dapat menjadi kesaksian atas apa yang sedang terjadi. Musik juga dapat menjadi cara untuk menjaga ingatan ketika dunia terlalu sibuk melupakan luka-luka yang diciptakannya sendiri.

Sebagai kolektif lintas seni yang berbasis di Bekasi, Artery Performa selama ini mengeksplorasi hubungan antara manusia, lingkungan, sejarah, dan ruang hidup melalui seni pertunjukan maupun berbagai praktik artistik lainnya. Karya-karya mereka bergerak di antara seni dan praktik sosial dengan keyakinan bahwa seni mampu menjadi ruang untuk merawat ingatan, membangun solidaritas, sekaligus mempertahankan empati.

Menariknya, proses produksi album ini juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari proses perekaman. Kehadiran teknologi tersebut dipadukan dengan gagasan-gagasan artistik yang tetap berakar pada pengalaman hidup, refleksi sosial, dan kegelisahan ekologis.

Di tengah semakin seringnya bencana ekologis, pencemaran lingkungan, serta menyusutnya ruang hidup berbagai makhluk, Untuk Semua Mahluk yang Menderita di Dunia Ini hadir sebagai pengingat bahwa krisis lingkungan bukan semata persoalan alam, melainkan juga persoalan kemanusiaan. Ketika sungai kehilangan air bersihnya, hutan kehilangan pepohonannya, dan satwa kehilangan habitatnya, sesungguhnya manusialah yang perlahan kehilangan rasa.

Album Untuk Semua Mahluk yang Menderita di Dunia Ini bisa di dengarkan di Soundcloud dengan link https://soundcloud.com/artery-performa/sets/untuk-semua-makhluk-yang.[]

Sukir Anggraeni

0Shares