Kemerdekaan di era digital bukan sekadar soal kebebasan mengakses dan menggunakan teknologi. Bagi Evie Sagita,...
Wawancara
Meiliana Yumi, atau biasa disapa Kak Yumi, adalah Perempuan Adat Rakyat Penunggu dari Kampung Menteng...
Indra Yeni, S.Pd., M.Pd, biasa dipanggil Bunda Yeni, memiliki latar yang sangat kuat di bidang...
Sebelum ikut terlibat dalam proses lahirnya Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini), Ulfa Ilyas telah...
Selama lebih dari satu dekade, Sita Pramesthi, S.Si mendampingi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui...
Bagi Rini Hartono, politik bukanlah arena yang harus dijauhi perempuan. Justru sebaliknya, politik adalah ruang...
Pada tahun 1948, setidaknya ada 800.000 warga Palestina menjadi pengungsi. Pasukan Israel telah merebut lebih...
Di balik helm dan jaket hijau yang setiap hari melintas di jalanan, ada sosok perempuan...
Selamat malam Ibu Retno, perkenalkan saya Mila Nabilah dari DPP Suluh Perempuan. Mohon izin untuk...
Kerentanan jurnalis perempuan muncul karena jurnalis berusaha mengungkap fakta dan kebenaran yang seringkali bertentangan dengan kepentingan status quo. Di sini status quo dapat diartikan sebagai kekuasaan dan maskulinitas. Dalam mengungkap fakta dan kebenaran tersebut, aktivitas jurnalis perempuan dinilai berbahaya dan destruktif karena meremehkan kepentingan status quo laki-laki. Jurnalis perempuan masih sering mengalami berbagai bentuk kekerasan dalam pekerjaannya, baik kekerasan verbal, fisik, dan seksual. Dalam pelatihan bersama teman-teman jurnalis, mereka mengatakan bahwa banyak jurnalis perempuan yang pernah mengalami terorisme, intimidasi, bahkan pengungkapan informasi pribadi.
