19 Oktober 2026

Mereka yang Berani Membangun Medianya Sendiri

Perjalanan Oprah Winfrey, Najwa Shihab, dan Barkha Dutt memperlihatkan bagaimana perempuan dapat mengembangkan kemampuan, mengambil keputusan, dan menciptakan ruang bagi gagasan mereka. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa keberdayaan bukan hanya tentang mencapai kesuksesan pribadi, melainkan juga keberanian membuka peluang baru.

Perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kemampuannya. Ketika berani menyampaikan pendapat, mereka bisa dianggap terlalu ambisius. Ketika ingin memimpin, mereka berhadapan dengan keraguan. Bahkan ketika berhasil, pencapaian perempuan tidak selalu dinilai hanya berdasarkan kualitas pekerjaan, tetapi juga melalui harapan sosial tentang bagaimana perempuan seharusnya bersikap.

Meski demikian, banyak perempuan menunjukkan bahwa kemampuan tidak seharusnya dibatasi oleh prasangka. Mereka terus belajar, mengembangkan keterampilan, membangun jaringan, dan mengambil keputusan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Sebagian bahkan tidak berhenti bekerja di dalam sistem yang sudah ada, tetapi berani menciptakan ruang baru bagi gagasan dan karya mereka.

Oprah Winfrey dari Amerika Serikat, Najwa Shihab dari Indonesia, dan Barkha Dutt dari India adalah tiga contoh perempuan yang menempuh jalan tersebut. Berangkat dari dunia penyiaran dan jurnalistik, mereka mengembangkan karier hingga mampu membangun atau ikut mendirikan platform media sendiri.

Mengembangkan Kemampuan dan Menciptakan Peluang

Nama Oprah Winfrey dikenal melalui ‘The Oprah Winfrey Show’, program bincang-bincang yang tayang selama 25 tahun, dari 1986 hingga 2011. Kariernya kemudian berkembang jauh melampaui layar televisi. Ia mendirikan Harpo Productions dan membangun berbagai usaha di bidang media, termasuk Oprah Winfrey Network (OWN).

Oprah Winfrey. Photographed by Emma Rose Milligan for USA TODAY

Oprah tidak hanya menjadi pembawa acara, tetapi juga mengambil peran dalam produksi dan pengembangan program. Dengan membangun perusahaannya sendiri, ia memiliki ruang lebih besar untuk menentukan jenis konten dan percakapan yang ingin dihadirkan kepada publik.

Dalam pidato penerimaan penghargaan Cecil B. DeMille di Golden Globes pada 2018, Oprah menegaskan pentingnya keberanian menyampaikan pengalaman dan kebenaran diri. Ia mengatakan:

“What I know for sure is that speaking your truth is the most powerful tool we all have.”

Dalam terjemahan bebas, Oprah menyampaikan bahwa berbicara tentang kebenaran diri merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki seseorang. Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato yang juga menyoroti perempuan-perempuan yang berani menceritakan pengalaman kekerasan seksual dan mendorong perubahan sosial.

Pidato tersebut mendapat perhatian luas. Mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, juga pernah berbicara bersama Oprah dalam ‘United State of Women Summit’ pada 2016. Dalam percakapan itu, Michelle menekankan pentingnya mengenali nilai diri dan keberanian untuk memperjuangkan tempat yang layak bagi diri sendiri.

Michelle mengatakan bahwa ketika seseorang belum memahami siapa dirinya, apa yang diinginkannya, dan berapa nilai dirinya, ia perlu berani memperjuangkannya. Pesan itu relevan bagi perempuan yang sedang mengembangkan kemampuan dan mencari ruang untuk berkarya: mengenali nilai diri merupakan bagian penting dari keberanian mengambil keputusan.

Tentu, perjalanan Oprah tidak bisa dilepaskan dari kesempatan, sumber daya, dan jaringan yang berhasil dibangunnya. Kisahnya bukan berarti setiap perempuan yang bekerja keras pasti akan mencapai keberhasilan serupa. Namun, pengalamannya menunjukkan bahwa perempuan dapat mengembangkan keahlian menjadi kekuatan untuk membangun sesuatu yang lebih besar daripada pekerjaan yang semula dijalaninya.

Di Indonesia, Najwa Shihab memperlihatkan perjalanan yang berbeda. Setelah sekitar 17 tahun berkarier sebagai jurnalis di Metro TV, ia mengambil langkah baru dengan ikut mendirikan Narasi pada 2017. Bersama Catharina Davy dan Dahlia Citra, Najwa membangun platform media digital yang mengembangkan program jurnalistik, diskusi, reportase, dan berbagai bentuk konten lainnya.

Najwa Shihab. Foto: Monocle.com

Keputusan meninggalkan tempat kerja yang telah membesarkan namanya tentu bukan langkah kecil. Pengalaman dan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun menjadi modal penting, tetapi mendirikan platform baru juga menuntut keberanian menghadapi ketidakpastian.

Dalam wawancara dengan ‘ELLE Indonesia’, Najwa menjelaskan bahwa dirinya tidak menjalankan seluruh operasional perusahaan. Ia lebih banyak berfokus pada pengembangan konten, sedangkan Catharina Davy menjabat sebagai CEO dan memimpin kegiatan harian organisasi.

Pembagian peran ini memperlihatkan bahwa membangun sesuatu tidak harus berarti mengerjakan semuanya seorang diri. Keberdayaan juga mencakup kemampuan mengenali keahlian, bekerja bersama orang lain, dan membangun organisasi yang memungkinkan setiap orang berkontribusi sesuai perannya.

Catharina Davy, dalam wawancara dengan Telum Media, menjelaskan bahwa pendirian Narasi berangkat dari keprihatinan terhadap kecenderungan sebagian media televisi yang lebih mengutamakan rating. Ia dan rekan-rekannya ingin menghadirkan konten yang mendidik, menginspirasi, serta membantu masyarakat membangun cara berpikir kritis.

Penjelasan Catharina menunjukkan bahwa Narasi bukan sekadar proyek seorang figur terkenal. Platform tersebut dibangun melalui kolaborasi dan kegelisahan bersama tentang arah media. Gagasan yang semula menjadi perhatian para pendirinya kemudian dikembangkan menjadi ruang kerja bagi banyak orang.

Dari pengalaman Najwa dan rekan-rekannya, kita bisa belajar bahwa keberanian membangun jalan sendiri tidak selalu berarti bekerja sendirian. Jalan baru juga bisa dibentuk melalui kerja bersama, pembagian tanggung jawab, dan kepercayaan terhadap kemampuan orang lain.

Menembus Hambatan dan Membuka Jalan Baru

Di India, Barkha Dutt dikenal sebagai jurnalis yang meliput berbagai peristiwa penting, termasuk konflik Kargil pada 1999 dan pandemi COVID-19. Setelah bertahun-tahun bekerja di media arus utama, ia mendirikan MoJo Story, platform jurnalistik digital independen.

Burkha Dutt. Dok. MoJo Story

Dalam forum di Indian Institute of Management Bangalore pada 2022, Barkha menjelaskan bahwa menjelang akhir 2019, ia merasa perlu melakukan sesuatu yang baru setelah bertahun-tahun bekerja di televisi. Perubahan tersebut kemudian membawanya membangun MoJo Story, terlebih ketika pandemi memunculkan berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan peliputan langsung.

Barkha mengatakan dalam forum tersebut:

 “Never think of yourself as too old, too big or too arrogant to learn new things.”

Artinya, jangan pernah merasa terlalu tua, terlalu besar, atau terlalu angkuh untuk mempelajari hal-hal baru. Ia juga menekankan pentingnya rasa ingin tahu, kemauan untuk terus belajar, dan menjaga integritas cerita yang disampaikan kepada publik.

Pernyataan itu menggambarkan salah satu modal penting untuk membangun jalan baru: kesediaan untuk terus belajar, bahkan setelah seseorang memiliki pengalaman panjang dan dikenal luas di bidangnya.

Namun, perjalanan Barkha juga memperlihatkan bahwa kemampuan profesional perempuan kerap berhadapan dengan prasangka berbasis gender.

Dalam wawancara dengan ‘Khaleej Times’, Barkha menceritakan pengalamannya ketika ingin meliput perang Kargil dari garis depan. Ia menghadapi penolakan dari organisasi tempatnya bekerja dan pihak militer karena dianggap tidak seharusnya ada perempuan di medan perang. Mereka mengkhawatirkan persoalan akomodasi dan kebutuhan dasar selama peliputan.

Barkha menjelaskan bahwa ia bersedia menghadapi kondisi tersebut karena memahami risiko tugas jurnalistik di wilayah konflik. Pada akhirnya, ia berhasil melakukan peliputan.

Pengalaman itu menunjukkan bagaimana perempuan terkadang harus menghadapi keraguan yang tidak selalu berkaitan dengan kemampuan mereka. Ketika laki-laki dinilai berdasarkan keterampilan dan pengalamannya, perempuan masih dapat dihadapkan pada pertanyaan apakah mereka cukup kuat, cukup berani, atau cukup mampu menjalankan pekerjaan tertentu.

Dalam wawancara yang sama, Barkha mengatakan bahwa perempuan di profesinya harus berjuang lebih keras untuk membuktikan kemampuan. Ia juga menyoroti bahwa perempuan yang berhasil dapat menghadapi penilaian lebih ketat justru karena ambisi dan kompetensinya.

Kisah Barkha memperlihatkan bahwa membangun jalan sendiri bukan berarti menghindari semua hambatan. Ada kalanya seseorang harus memperjuangkan kesempatan di dalam sistem yang sudah ada sebelum mampu menciptakan ruang baru. Pengalaman panjangnya di jurnalistik kemudian menjadi bekal untuk membangun MoJo Story dan melanjutkan kerja jurnalistik melalui platform digital.

Perjalanan Oprah, Najwa, dan Barkha memang tidak dapat disamakan. Oprah memperluas karier penyiarannya menjadi berbagai usaha media. Najwa membangun platform digital bersama dua rekan perempuan. Barkha membawa pengalaman jurnalistiknya ke ruang digital independen. Ketiganya menunjukkan bahwa perempuan dapat mengembangkan kemampuan sekaligus ikut menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.

Namun, pelajaran terpenting dari kisah mereka bukanlah bahwa setiap perempuan harus menjadi pengusaha, pendiri perusahaan, atau tokoh terkenal. Tidak semua orang memiliki akses terhadap modal, jaringan, pendidikan, dan kesempatan yang sama. Perempuan juga menghadapi tanggung jawab keluarga, diskriminasi, serta hambatan struktural yang berbeda-beda.

Karena itu, keberdayaan tidak seharusnya hanya diukur melalui kekayaan, jabatan, atau popularitas. Perempuan yang membangun usaha kecil, mengembangkan komunitas, menciptakan ruang belajar, memimpin organisasi warga, menghasilkan karya seni, atau memperjuangkan lingkungan juga sedang membangun jalannya sendiri.

Tidak semua jalan harus besar. Tidak semua gagasan harus menjadi perusahaan. Yang penting adalah kesempatan bagi perempuan untuk mengenali kemampuannya, menentukan pilihan, memperoleh dukungan, dan mengembangkan sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun orang lain.

Membangun jalan sendiri juga bukan berarti harus berjalan sendirian. Perempuan tetap membutuhkan solidaritas, kesempatan yang adil, lingkungan yang mendukung, dan sistem yang tidak membatasi potensinya hanya karena ia perempuan.

Ketika seorang perempuan berhasil membuka ruang baru, ruang itu dapat menjadi pintu bagi perempuan lain. Di situlah keberdayaan memiliki makna yang lebih luas: bukan hanya kemampuan mengubah kehidupan sendiri, tetapi juga ikut memperluas kemungkinan bagi orang lain.

Sebab perempuan tidak harus menunggu sampai semua hambatan hilang untuk mulai melangkah. Mereka berhak mengembangkan kemampuan, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan ikut menentukan masa depan. Ketika jalan yang tersedia terasa terlalu sempit, perempuan juga berhak membangun jalan baru—dengan caranya sendiri, bersama orang lain, dan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.(SA)

Referensi

  1. ABC News —  https://abcnews.com/amp/Entertainment/oprah-winfrey-shares-life-lessons-backstage-golden-globes/story?id=52202591. Memuat kutipan Oprah dalam pidato penerimaan penghargaan Golden Globes 2018.
  2.  The White House Archives — https://obamawhitehouse.archives.gov/the-press-office/2016/06/14/remarks-first-lady-and-oprah-winfrey-conversation-united-state-women/. Transkrip percakapan Michelle Obama dan Oprah Winfrey tentang nilai diri, keberdayaan, dan pengabdian.
  3. ELLE Indonesia — https://elle.co.id/life/najwa-shihab-meneriakkan-kebenaran-demi-menggagas-perubahan/. Wawancara tentang kepemimpinan dan pembagian peran para pendiri Narasi.
  4. Telum Media — https://www.telummedia.com/bahasa/public/media-industry-news/telum-talks-to-catharina-davy-ceo-dan-co-founder-narasi/0412r7rqv2. Wawancara tentang latar belakang dan gagasan pendirian Narasi.
  5.  Indian Institute of Management Bangalore — https://www.iimb.ac.in/Vista_2022. Memuat pernyataan Barkha tentang pengalaman jurnalistik, kemauan belajar, dan perjalanan mendirikan MoJo Story.
  6.  Khaleej Times — https://www.khaleejtimes.com/lifestyle/there-is-certain-loneliness-to-achievement-indian-journalist-barkha-dutt-on-why-successful-wome. Wawancara tentang pengalaman Barkha sebagai jurnalis perempuan dan hambatan yang dihadapinya.