5 Oktober 2026

Obituari Bani Argo Putra (1968–2026)

1Shares

Oleh Ipung Purwandono

Pejuang Hak Kesehatan Rakyat, Organisator Kaum Marjinal, dan Aktivis Gerakan Bawah Tanah

Dengan penuh duka, kita mengenang kepergian Bani Argo Putra — yang akrab disapa Bang Argo — seorang aktivis sosial dan politik asal Indonesia yang meninggal dunia pada akhir September 2026. Ia dikenal luas sebagai Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Provinsi Banten, mantan Ketua Serikat Rakyat Jakarta (SRJ), dan salah satu tokoh kunci gerakan bawah tanah pro-demokrasi era 1990-an.

Bang Argo mendedikasikan seluruh hidupnya untuk satu tujuan yang tidak pernah berubah sejak muda: membela rakyat miskin dan kaum marjinal. Dari jalanan Jakarta hingga pelosok Banten, dari mimbar bebas hingga posko kesehatan akar rumput, namanya identik dengan keberpihakan tanpa kompromi kepada mereka yang paling lemah.

Pejuang Hak Kesehatan Rakyat

Sebagai pemimpin Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Provinsi Banten, Bang Argo dikenal gigih mendampingi masyarakat miskin dan pekerja informal agar mendapatkan akses fasilitas kesehatan yang layak — melalui BPJS, KIS, Jamkesmas, Jamkesda, maupun jaminan sosial lainnya.

Rekam jejak advokasinya antara lain:

  • Menolak diskriminasi pelayanan di rumah sakit dan puskesmas. Ia vokal terhadap faskes yang mempersulit atau menolak pasien kurang mampu, dan konsisten menyosialisasikan Resolusi DKR Nasional yang menentang segala bentuk diskriminasi medis.
  • Mengawal jaminan layanan kesehatan gratis, memastikan program jaminan kesehatan pemerintah berjalan sesuai UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, tanpa hambatan birokrasi yang berbelit.
  • Membangun sinergi dan jaringan advokasi lokal, memperkuat struktur DKR hingga kabupaten/kota, termasuk ke Sekretariat Bersama DKR Kabupaten Tangerang.
  • Pendampingan kasus per kasus, turun langsung mengurus warga yang “tertahan” di rumah sakit, kesulitan kamar rawat inap, atau terkendala administrasi jaminan kesehatan.

Ia juga vokal menyuarakan isu stunting dan keterbatasan fasilitas kesehatan di pedesaan Banten.

Jejak Sejarah: Serikat Rakyat Jakarta dan Kudatuli

Dalam sejarah gerakan rakyat, Bang Argo tercatat sebagai Ketua Serikat Rakyat Jakarta (SRJ) — organisasi yang lahir dari diskusi kritis anak muda Jakarta dan meniru model Serikat Rakyat Solo (SRS) pimpinan Narso.

Di bawah kepemimpinannya, SRJ mengubah energi anak muda — termasuk mereka yang sebelumnya dikenal sebagai berandal jalanan — menjadi saluran perjuangan politik yang progresif. Ketika Kongres Partai Rakyat Demokratik (PRD) digelar, Bang Argo hadir sebagai perwakilan resmi SRJ, bersama SMID, STN, PPBI, dan Jaker, menyatakan afiliasi politik untuk membangun perlawanan terorganisir terhadap rezim diktator.

Bersama dr. Ribka Tjiptaning dan Narso, Bang Argo terlibat aktif mendukung Megawati Soekarnoputri dan menjadi saksi sejarah Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli):

  • Rumah dr. Ribka Tjiptaning di Ciledug menjadi posko konsolidasi politik dan ruang aman bagi jaringan anak muda SRJ dan basis massa SRS.
  • Mimbar Bebas di Diponegoro 58 menjadi panggung perlawanan sipil, tempat Bang Argo dan aktivis SRJ berorasi bergantian memobilisasi kesadaran rakyat.
  • Penyerbuan Kudatuli — ia menyaksikan langsung kebrutalan operasi penyerangan, pemukulan, dan penangkapan paksa yang memicu kerusuhan sosial terbesar di Jakarta pada dekade itu.
  • Target kambing hitam rezim — PRD dan organ onderbow-nya, termasuk SRJ, dituduh dalang kerusuhan, memicu pengejaran dan penangkapan besar-besaran.

Solidaritas organik antara Bang Argo, dr. Ribka Tjiptaning, dan Narso menjadi salah satu tonggak yang menyatukan faksi Sukarnois dengan gerakan mahasiswa-pemuda kiri demi membuka gerbang Reformasi 1998.

Mengorganisir Kaum Lumpen Kota

Bang Argo diakui sebagai pelopor pengorganisir kaum lumpen proletariat (kaum lumpen kota) di Jakarta — sebuah terobosan strategis di era 1990-an ketika banyak organisasi menjaga jarak dari kelompok marjinal jalanan.

Melalui SRJ, ia:

  • Mengubah stigma menjadi kekuatan oposisi — merangkul preman insyaf, anak jalanan, pengamen, tukang parkir, dan pekerja sektor informal.
  • Memberikan pendidikan politik massa — menanamkan kesadaran kritis bahwa kemiskinan mereka bersifat struktural.
  • Menjadi elemen penggedor Mimbar Bebas — kehadiran mereka memberi energi militan luar biasa dalam melawan represi militer.

Langkah berani memeluk dan mengorganisir kaum lumpen kota inilah yang membedakan corak perjuangan Bang Argo dari aktivis menara gading lainnya.

Nasib Faksi SRJ Pasca-Kudatuli

Pasca-Kudatuli, faksi SRJ dan seluruh organ afiliasi PRD mengalami fase paling gelap:

  • Kriminalisasi dan stigmatisasi sebagai “Komunis Baru” oleh rezim Orde Baru.
  • Perburuan massal — Bang Argo dan tokoh utama SRJ masuk daftar buronan politik.
  • Gerakan bawah tanah — berpindah-pindah kontrakan (safe house), memotong komunikasi terbuka, menggunakan nama samaran.
  • Basis massa lumpen kehilangan jangkar — tanpa kehadiran fisik Bang Argo yang bersembunyi, massa akar rumput tercerai-berai.
  • Konsolidasi menjelang 1998 — sel-sel kader SRJ melebur bersama elemen mahasiswa dan rakyat dalam komite aksi solidaritas menumbangkan Orde Baru.

Setelah Reformasi 1998, faksi eks-SRJ menempuh jalur beragam: jalur elektoral (memperkuat PRD di Pemilu 1999 atau berlabuh ke PDI Perjuangan) dan jalur advokasi sektoral — termasuk Bang Argo yang mendirikan DKR di Banten.

Warisan Pemikiran Organisasi

Tiga pilar utama warisan pemikiran Bang Argo:

  1. Doktrin “Turun ke Bawah” (Turba) dan Penghapusan Jarak Sosial — anggota organisasi wajib tinggal, hidup, dan merasakan langsung penderitaan di kantong kemiskinan kota, membangun ikatan solidaritas organik yang militan.
  2. Memanusiakan Kaum Lumpen Melalui “Metode Penyadaran” — menerapkan pendidikan politik emansipatif ala Paulo Freire, mengubah stigma “berandal jalanan” menjadi kader ideologis yang sadar kelas.
  3. Transformasi ke Advokasi Sektoral (Model DKR) — dari gerakan politik jalanan makro menjadi advokasi hak dasar yang mikro namun konkret, mewujudkan prinsip “kesehatan adalah hak asasi, bukan barang dagangan”.

Keterkaitan dengan Gerakan Kompera

Menjelang akhir hayatnya, Bang Argo membangun Kompera (Komite Perlawanan Rakyat) — kulminasi dan aktualisasi modern dari pemikiran organisasi SRJ dan DKR:

  • Gerakan sektoral multi-isu — mengintegrasikan perlawanan di sektor kesehatan, agraria, penggusuran, hak pekerja informal, hingga perlawanan terhadap kebijakan oligarki.
  • Metode United Front (Front Persatuan) Politik Massa — mempertemukan aktivis mahasiswa, serikat buruh, relawan kesehatan akar rumput, dan masyarakat sipil lainnya.
  • Konsistensi garis massa hingga akhir hayat — menegaskan bahwa perubahan sosial sejati hanya bisa dipicu oleh tekanan massa terorganisir di jalanan, bukan lobi ruang ber-AC.

Penutup

Kepergian Bani Argo Putra meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan semangat bagi para relawan kesehatan, aktivis akar rumput, dan seluruh pejuang keadilan di Indonesia. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai lembaga kemanusiaan dan kesehatan, termasuk dari KOPMAS (Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat).

Bang Argo menutup lembaran hidupnya dengan cara yang sama seperti saat ia memulainya di era 90-an: sebagai organisator ulung yang mendedikasikan seluruh energi, pemikiran, dan sisa hidupnya di garis depan pertempuran rakyat miskin.

Selamat jalan, Bang Argo. Perjuanganmu akan terus hidup dalam setiap posko kesehatan rakyat, dalam setiap warga miskin yang berani menuntut haknya, dan dalam setiap gerakan yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Kesehatan adalah hak asasi, bukan barang dagangan.

Rakyat harus memiliki komite perlawanannya sendiri.

Obituari ini disusun berdasarkan rekam jejak dan warisan pemikiran almarhum Bani Argo Putra, sebagaimana terdokumentasi dalam berbagai catatan gerakan rakyat Indonesia.

1Shares