22 Oktober 2026

Mestinya Kita Semua Feminis

Oleh Heygel The Rome Harianja*

Ada ketidakadilan yang tidak selalu datang dengan wajah kekerasan. Ia tidak selalu hadir sebagai pukulan, ancaman, atau larangan yang diumumkan secara terbuka. Terkadang ia menyelinap melalui pujian yang membatasi, nasihat yang merendahkan, kebiasaan yang diwariskan, dan aturan sosial yang begitu sering diulang hingga manusia berhenti mempertanyakannya. Perempuan diminta bersikap baik, tetapi kebaikan itu kerap berarti tidak membantah. Mereka didorong untuk berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak boleh membuat laki-laki merasa tersaingi. Mereka diberi kesempatan untuk berbicara, tetapi diharapkan menjaga suara agar tidak terdengar terlalu keras. Mereka boleh memiliki cita-cita, sepanjang cita-cita tersebut tidak mengusik tatanan yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kehidupan. Di dalam dunia semacam itulah Chimamanda Ngozi Adichie menulis ‘We Should All Be Feminists’, sebuah karya ringkas yang mengubah pengalaman sehari-hari menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan besar tentang kekuasaan, kebudayaan, dan ketidaksetaraan gender.

Buku ini merupakan pengembangan dari ceramah Adichie di TEDxEuston pada 2012, yang kemudian diterbitkan sebagai esai tersendiri pada 2014. Bentuknya tidak menyerupai risalah teori feminis yang dibangun melalui terminologi akademis yang rumit atau perdebatan metodologis yang panjang. Adichie justru bergerak melalui cerita, kenangan, percakapan, dan kejadian-kejadian yang tampak biasa. Ia mengajak pembaca melihat bagaimana ketidakadilan gender bekerja bukan hanya melalui institusi formal, melainkan juga melalui cara seseorang menyapa, siapa yang dianggap pantas memimpin, siapa yang diharapkan membayar, siapa yang memperoleh penghormatan, dan siapa yang harus menyesuaikan diri demi mempertahankan penerimaan sosial. Kesederhanaan bentuk tersebut bukan berarti persoalannya sederhana. Justru di situlah kekuatan buku ini: ia memperlihatkan bahwa suatu sistem dominasi dapat bertahan bukan semata-mata karena dipaksakan oleh kekuasaan yang terlihat, melainkan karena nilai-nilainya telah bersemayam dalam kesadaran orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagi Adichie, feminisme pertama-tama merupakan cara membaca dunia secara kritis. Ia bukan kebencian terhadap laki-laki, penolakan terhadap cinta, permusuhan terhadap perkawinan, ataupun kewajiban untuk meninggalkan segala sesuatu yang dianggap feminin. Feminisme adalah keberanian untuk mempertanyakan mengapa jenis kelamin seseorang menentukan ruang gerak, kesempatan, penghargaan, dan harapan yang dilekatkan kepadanya. Mengapa ambisi dianggap wajar pada laki-laki, tetapi mengkhawatirkan pada perempuan? Mengapa seorang laki-laki yang tegas dapat disebut pemimpin yang kuat, sedangkan perempuan dengan perilaku serupa dianggap agresif? Mengapa perkawinan sering diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan hidup perempuan, sementara laki-laki tidak menghadapi tekanan sosial dengan ukuran yang sama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka inti argumentasi Adichie: ketidaksetaraan gender bukanlah sesuatu yang dapat diterangkan hanya melalui perbedaan biologis, sebab masyarakat telah membangun hierarki sosial di atas perbedaan itu, lalu memperlakukannya seolah-olah merupakan hukum alam.

Feminisme di bawah bayang-bayang prasangka

Hubungan Adichie dengan kata feminis dimulai ketika sahabat masa kecilnya, Okoloma, menyebutnya seorang feminis dalam sebuah perdebatan. Kata itu disampaikan bukan sebagai pujian, melainkan sebagai sesuatu yang mencurigakan. Bertahun-tahun kemudian, ketika novelnya Purple Hibiscus dianggap feminis karena menggambarkan kekerasan seorang suami terhadap istrinya, Adichie menerima nasihat agar tidak menyebut dirinya feminis. Ia diberi tahu bahwa feminis adalah perempuan yang tidak bahagia karena tidak memperoleh suami. Ia juga menghadapi anggapan bahwa feminisme merupakan gagasan asing yang bertentangan dengan kebudayaan Afrika, serta tuduhan bahwa seorang feminis pasti membenci laki-laki. Dengan humor yang tajam, ia berkali-kali menambahkan keterangan pada identitas feminisnya: feminis yang bahagia, feminis Afrika yang bahagia, feminis yang tidak membenci laki-laki, bahkan feminis yang menyukai lipstik dan sepatu hak tinggi untuk dirinya sendiri, bukan untuk menyenangkan laki-laki.

Di balik kelucuan itu terdapat persoalan politik yang serius. Sebelum argumen feminisme dibicarakan, identitas perempuan yang mengucapkannya lebih dahulu diadili. Perempuan harus membuktikan bahwa mereka tetap menyenangkan, tidak mengancam, tidak membenci laki-laki, tidak merusak kebudayaan, dan tidak mengganggu tatanan keluarga. Dengan demikian, energi perdebatan dialihkan dari pertanyaan tentang ketidakadilan menuju pemeriksaan atas karakter orang yang mempersoalkannya. Apakah ia cukup feminin? Apakah ia masih layak dicintai? Apakah ia akan menjadi istri yang baik? Mekanisme ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui delegitimasi: gagasan tentang kesetaraan tidak perlu dibantah secara mendalam apabila orang yang mengemukakannya terlebih dahulu dapat digambarkan sebagai sosok yang menyimpang.

Secara kritis, pengalaman Adichie tersebut menunjukkan bahwa perjuangan feminis bukan hanya perjuangan untuk mengubah aturan, melainkan juga perjuangan untuk merebut kembali makna. Kata feminis telah dibebani stereotip sehingga sering kali menimbulkan ketakutan sebelum substansinya dipahami. Adichie menolak menerima definisi yang dibangun oleh prasangka itu. Ia tidak menganggap bahwa perempuan harus mengorbankan kesenangan, penampilan, cinta, atau pilihan personal agar dapat memperjuangkan kesetaraan. Sebaliknya, justru hak untuk menentukan bagaimana seseorang ingin hidup merupakan bagian penting dari kebebasan yang diperjuangkan feminisme. Perempuan tidak seharusnya diwajibkan menjadi satu jenis manusia hanya untuk membuktikan bahwa mereka layak memperoleh hak yang sama.

Namun, pembelaan Adichie terhadap feminisme tidak berhenti pada soal reputasi atau kebebasan individual. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana stereotip tersebut menopang suatu tatanan sosial yang membagikan kekuasaan secara tidak setara. Ketika feminisme dianggap sebagai ancaman terhadap laki-laki, masyarakat diam-diam mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu dipertahankan dari keistimewaan laki-laki. Ketakutan terhadap kesetaraan sering kali muncul karena kesetaraan disalahartikan sebagai kehilangan hak untuk mendominasi. Padahal, dunia yang lebih adil bukanlah dunia tempat perempuan menggantikan laki-laki sebagai kelompok yang berkuasa mutlak, melainkan dunia tempat jenis kelamin tidak lagi menjadi alasan untuk menentukan siapa yang harus memimpin, mengalah, melayani, atau mengecilkan dirinya.

Ketidakadilan yang menyamar sebagai kewajaran

Salah satu kisah paling kuat dalam buku ini adalah pengalaman Adichie ketika masih duduk di sekolah dasar di Nsukka, Nigeria. Gurunya mengumumkan bahwa murid dengan nilai tertinggi dalam ujian akan menjadi ketua kelas. Adichie memperoleh nilai tertinggi dan memiliki keinginan besar untuk menjalankan tugas tersebut. Namun, setelah ujian selesai, gurunya menetapkan bahwa ketua kelas harus seorang anak laki-laki. Seorang murid laki-laki yang memperoleh nilai kedua tertinggi akhirnya mendapatkan posisi itu, meskipun ia tidak terlalu tertarik pada tanggung jawab tersebut. Adichie kehilangan kesempatan bukan karena kurang mampu, melainkan karena dirinya perempuan. Dalam kejadian singkat itu, seluruh struktur ketidakadilan gender tampak dalam bentuknya yang paling telanjang: aturan dapat diubah setelah hasil diketahui demi mempertahankan hak istimewa kelompok yang telah dianggap lebih pantas berkuasa.

Yang membuat pengalaman itu penting bukan sekadar diskriminasi yang dialami seorang anak perempuan, melainkan proses sosial yang memungkinkan diskriminasi tersebut dianggap normal. Adichie mengamati bahwa sesuatu yang terus-menerus dilakukan dan disaksikan manusia akhirnya terlihat sebagai kewajaran. Jika anak laki-laki selalu dipilih menjadi pemimpin, masyarakat perlahan-lahan akan menganggap kepemimpinan sebagai sifat yang secara alamiah melekat pada laki-laki. Jika laki-laki selalu terlihat memegang jabatan tertinggi, perempuan yang berada di posisi tersebut akan tampak sebagai pengecualian. Pengulangan mengubah kebiasaan menjadi norma, norma menjadi harapan, dan harapan menjadi standar untuk menilai kemampuan manusia. Dengan demikian, dominasi tidak perlu selalu diumumkan sebagai ideologi. Ia cukup dihadirkan berulang kali dalam pengalaman hidup sampai manusia kehilangan kesadaran bahwa keadaan tersebut sebenarnya dapat diubah.

Di sinilah argumentasi Adichie bersentuhan dengan persoalan reproduksi sosial patriarki. Ketidaksetaraan tidak bertahan hanya karena ada individu yang secara sadar ingin menindas perempuan, tetapi juga karena lembaga pendidikan, keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sosial terus mewariskan gambaran mengenai siapa yang pantas melakukan sesuatu. Seorang guru yang menyerahkan posisi ketua kelas kepada anak laki-laki mungkin tidak merasa sedang menjalankan proyek politik patriarki. Namun, tindakannya tetap menghasilkan konsekuensi yang tidak setara. Niat baik tidak otomatis menghapus dampak diskriminatif. Ketika aturan dan kebiasaan tidak diperiksa secara kritis, orang-orang yang menganggap dirinya adil dapat ikut mempertahankan sistem yang tidak adil.

Perspektif ini penting karena menggeser pembahasan dari moralitas individual menuju struktur sosial. Masalahnya bukan semata-mata apakah seseorang membenci perempuan atau tidak, melainkan apakah keputusan, kebiasaan, dan institusi yang ia jalankan memberikan kesempatan yang setara. Seorang laki-laki dapat bersikap ramah kepada perempuan, mencintai istrinya, dan mendukung pendidikan anak perempuannya, tetapi tetap menerima pembagian kerja yang menganggap urusan domestik sebagai tanggung jawab utama perempuan. Patriarki tidak selalu hadir sebagai kebencian yang disadari. Ia dapat hidup berdampingan dengan kasih sayang, niat baik, bahkan keyakinan seseorang bahwa dirinya tidak pernah melakukan diskriminasi.

Tubuh perempuan, uang, dan kekuasaan sehari-hari

Adichie membawa pembaca keluar dari ruang kelas menuju kehidupan perkotaan di Lagos. Dalam sebuah pengalaman, ia memberikan uang tip kepada seorang laki-laki yang membantu memarkir mobilnya. Namun, laki-laki itu justru mengucapkan terima kasih kepada Louis, sahabat laki-laki yang sedang bersamanya, seolah-olah uang yang diberikan Adichie berasal dari Louis. Peristiwa tersebut memperlihatkan asumsi sosial yang begitu mengakar: laki-laki dianggap sebagai pemilik sumber daya ekonomi, sedangkan perempuan diposisikan sebagai pihak yang bergantung kepadanya. Uang yang secara nyata berada di tangan perempuan tetap dibayangkan sebagai sesuatu yang berasal dari laki-laki.

Bagi Adichie, pengalaman tersebut bukan kejadian terpisah dari persoalan ekonomi dan politik. Ia menunjukkan bahwa kemampuan perempuan memiliki, menghasilkan, dan mengendalikan sumber daya belum tentu diikuti oleh pengakuan sosial terhadap kemandiriannya. Kekuasaan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki uang, tetapi juga siapa yang diasumsikan berhak memilikinya, siapa yang dianggap sebagai pengambil keputusan, dan siapa yang secara otomatis memperoleh pengakuan ketika sumber daya dipertukarkan. Dalam tatanan yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama, kontribusi perempuan dapat menjadi tidak terlihat bahkan ketika perempuanlah yang secara langsung menghasilkan atau membelanjakan uang tersebut.

Pengalaman Adichie lainnya memperlihatkan bagaimana tubuh dan mobilitas perempuan dikontrol melalui kecurigaan. Ketika memasuki sebuah hotel di Nigeria seorang diri, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari petugas keamanan yang tidak harus dihadapi laki-laki dalam situasi serupa. Keberadaan perempuan yang datang sendirian dianggap mencurigakan, seolah-olah perempuan tidak mungkin menjadi tamu yang sah tanpa kehadiran laki-laki. Ia juga menceritakan bahwa perempuan yang datang sendiri ke sejumlah klub atau bar dapat ditolak masuk karena tidak didampingi laki-laki. Bahkan di restoran, pelayan sering menyapa laki-laki yang datang bersama perempuan dan mengabaikan perempuan tersebut.

Peristiwa-peristiwa itu tampak kecil jika dibandingkan dengan kekerasan fisik atau pembatasan hak secara formal. Akan tetapi, justru pengulangan pengalaman semacam itulah yang memperlihatkan bagaimana subordinasi bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan dapat memasuki ruang publik, tetapi kehadirannya masih harus dijelaskan. Perempuan dapat memiliki uang, tetapi kemandiriannya masih diragukan. Perempuan dapat datang ke restoran sebagai pelanggan, tetapi keberadaannya seolah-olah baru memperoleh pengesahan ketika seorang laki-laki turut hadir.

Dalam analisis yang lebih luas, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa hak formal dan kebebasan nyata tidak selalu berjalan seiring. Seseorang mungkin secara hukum memiliki hak untuk bepergian, bekerja, menginap di hotel, atau menikmati ruang publik, tetapi norma sosial dapat membatasi pelaksanaan hak-hak itu melalui kecurigaan, penghinaan, dan tekanan sehari-hari. Kebebasan tidak cukup didefinisikan sebagai ketiadaan larangan resmi. Kebebasan juga mensyaratkan pengakuan bahwa perempuan merupakan subjek yang berhak menentukan tindakannya sendiri tanpa terus-menerus dicurigai, diremehkan, atau diperlakukan sebagai milik orang lain.

Meski demikian, contoh-contoh Adichie terutama berangkat dari pengalaman sosial di Nigeria dan Amerika Serikat. Nilainya terletak pada kemampuannya menunjukkan mekanisme umum diskriminasi, bukan pada anggapan bahwa seluruh masyarakat memiliki pengalaman yang identik. Bentuk pengendalian terhadap perempuan dapat berbeda menurut kelas sosial, kondisi ekonomi, ras, wilayah, dan sistem politik. Karena itu, pembacaan yang lebih mendalam perlu menghubungkan pengalaman sehari-hari tersebut dengan institusi dan sejarah spesifik yang membentuknya.

Kemarahan perempuan dan politik tentang siapa yang boleh berbicara

Adichie tidak menyembunyikan kemarahannya terhadap ketidakadilan gender. Ketika tulisannya tentang pengalaman menjadi perempuan muda di Lagos dinilai terlalu marah, ia menolak anggapan bahwa kemarahan tersebut merupakan sesuatu yang harus diperbaiki. Baginya, ketidakadilan gender memang layak menimbulkan kemarahan. Kemarahan tidak selalu merupakan tanda ketidakmampuan mengendalikan diri; ia dapat menjadi reaksi moral terhadap keadaan yang tidak semestinya diterima sebagai kewajaran. Dalam sejarah perubahan sosial, kemarahan sering menjadi tenaga yang mendorong manusia untuk menolak ketidakadilan dan membayangkan kemungkinan kehidupan yang berbeda.

Namun, masyarakat tidak memberikan ruang yang sama kepada kemarahan laki-laki dan perempuan. Adichie menceritakan seorang perempuan yang mengambil alih posisi manajerial dari laki-laki yang dikenal tegas dan keras. Ketika perempuan itu menerapkan standar disiplin yang sama, ia justru dinilai agresif dan sulit diajak bekerja sama. Rekan-rekannya bahkan mempertanyakan mengapa ia tidak membawa sentuhan feminin ke dalam pekerjaannya. Perilaku yang sebelumnya dianggap sebagai kualitas kepemimpinan pada seorang laki-laki berubah menjadi kekurangan ketika dilakukan oleh perempuan.

Kisah lain menyangkut seorang perempuan yang bekerja di bidang periklanan. Dalam rapat, atasannya mengabaikan pendapatnya, kemudian memuji gagasan serupa ketika disampaikan oleh laki-laki. Perempuan itu ingin memprotes perlakuan tersebut, tetapi menahan diri karena takut dianggap agresif. Setelah rapat, ia menangis dan mengungkapkan kemarahannya kepada Adichie. Di sini, ketidakadilan tidak hanya terjadi ketika pendapat perempuan diabaikan. Ia juga terjadi ketika perempuan harus menanggung beban emosional untuk mengelola reaksi orang lain terhadap protesnya.

Adichie melihat bahwa perempuan dibesarkan untuk mengutamakan agar dirinya disukai. Mereka diajarkan untuk tidak terlalu keras, tidak terlalu ambisius, tidak terlalu lantang, dan tidak terlalu sering menunjukkan ketidaksetujuan. Penerimaan sosial menjadi semacam mata uang yang harus terus mereka kumpulkan. Sementara itu, laki-laki tidak menghadapi tuntutan yang setara untuk menyenangkan orang lain. Mereka lebih leluasa menunjukkan ketegasan, menyampaikan keberatan, dan mempertahankan pendapat tanpa harus mengkhawatirkan bahwa perilaku tersebut akan dianggap mengurangi kelayakan mereka sebagai laki-laki.

Dengan demikian, ketidaksetaraan gender bekerja pula melalui pengaturan emosi. Perempuan bukan hanya diminta melakukan pekerjaan tertentu, melainkan juga dituntut mengelola suasana, menjaga hubungan, meredakan konflik, dan memastikan bahwa keberadaan mereka tidak membuat orang lain merasa terancam. Beban ini sering tidak tercatat sebagai pekerjaan, tidak dibayar sebagai jasa, dan tidak diakui sebagai bentuk pengorbanan. Namun, ia menghabiskan energi dan membatasi kebebasan perempuan untuk menyampaikan kepentingannya sendiri.

Kemarahan Adichie karena itu dapat dibaca sebagai penolakan terhadap politik kepatutan yang membungkam perempuan. Ia tidak menganggap bahwa semua bentuk kemarahan otomatis benar atau bahwa setiap konflik harus diselesaikan melalui konfrontasi. Pokok persoalannya ialah bahwa perempuan tidak boleh kehilangan hak untuk menyatakan ketidakadilan hanya karena ekspresi mereka mengganggu kenyamanan sosial. Ketenangan yang dipaksakan kepada pihak yang dirugikan bukanlah keadilan. Ia bisa menjadi cara yang lebih halus untuk mempertahankan keadaan yang merugikan tersebut.

Laki-laki juga dibelenggu oleh maskulinitas

Salah satu kekuatan penting buku ini ialah penolakan Adichie terhadap gambaran sederhana bahwa perjuangan feminis merupakan perang antara perempuan dan laki-laki. Ia justru menunjukkan bahwa sistem gender yang tidak setara juga membatasi kehidupan laki-laki. Sejak kecil, anak laki-laki diajarkan untuk menjadi keras, menyembunyikan ketakutan, menolak kerentanan, dan membuktikan kejantanannya melalui perilaku tertentu. Mereka seolah-olah ditempatkan dalam sebuah sangkar sempit bernama maskulinitas, tempat kelembutan dianggap kelemahan dan ketergantungan emosional dipandang sebagai sesuatu yang memalukan.

Adichie memberikan contoh mengenai hubungan remaja di Nigeria. Ketika seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sama-sama masih sekolah pergi berkencan dengan uang saku terbatas, laki-laki tetap diharapkan membayar tagihan. Ia harus membuktikan maskulinitas melalui kemampuan finansial, bahkan ketika kemampuan tersebut belum dimilikinya. Perempuan, sebaliknya, ditempatkan sebagai pihak yang semestinya menerima pembiayaan. Adichie mempertanyakan mengapa pembagian itu harus ditentukan oleh jenis kelamin, bukan oleh situasi konkret, misalnya siapa yang memiliki uang lebih banyak.

Di balik norma tersebut terdapat tekanan material dan psikologis. Laki-laki didorong untuk menghubungkan harga dirinya dengan status sebagai pencari nafkah, sementara perempuan didorong untuk menghubungkan harga dirinya dengan kemampuan menyenangkan laki-laki. Ketika perempuan memperoleh pendapatan lebih besar atau memiliki prestasi yang lebih tinggi, keberhasilan itu dapat dianggap mengancam maskulinitas pasangannya. Perempuan kemudian didorong untuk menyembunyikan pencapaian, mengecilkan ambisi, atau berpura-pura tidak mandiri demi melindungi harga diri laki-laki.

Adichie mengkritik logika yang menganggap keberhasilan perempuan sebagai ancaman terhadap laki-laki. Mengapa pencapaian seorang perempuan harus membuat seorang laki-laki merasa kehilangan martabat? Mengapa kekuatan perempuan harus dipertentangkan dengan kekuatan laki-laki? Pertanyaan tersebut menyingkap bahwa maskulinitas dominan tidak hanya menempatkan perempuan pada posisi subordinat, tetapi juga membuat penghargaan terhadap laki-laki bergantung pada kemampuannya menguasai sumber daya, mempertahankan otoritas, dan tidak memperlihatkan kelemahan.

Di sinilah feminisme Adichie menawarkan kemungkinan pembebasan yang bersifat relasional. Perempuan tidak perlu mengorbankan kebebasan agar laki-laki merasa kuat, sedangkan laki-laki tidak perlu mempertahankan dominasi agar merasa berharga. Keduanya dapat membangun hubungan yang tidak didasarkan pada pembagian manusia ke dalam pihak yang harus memimpin dan pihak yang harus mengikuti. Kesetaraan tidak berarti menghapus perbedaan individu, melainkan menghentikan penggunaan perbedaan tersebut sebagai dasar untuk menentukan siapa yang lebih berhak dihormati.

Meski demikian, pembebasan laki-laki dari maskulinitas yang kaku tidak boleh dijadikan alasan untuk mengaburkan ketimpangan kekuasaan yang dialami perempuan. Pengakuan bahwa norma gender merugikan kedua belah pihak tidak berarti bahwa keduanya selalu menanggung konsekuensi yang sama. Dalam banyak situasi yang digambarkan Adichie, perempuanlah yang kehilangan kesempatan, diragukan kemandiriannya, dibatasi mobilitasnya, dan diminta mengalah. Kritik terhadap maskulinitas menjadi bermakna secara feminis ketika ia membantu mengubah relasi kekuasaan, bukan ketika ia mengalihkan perhatian dari ketidakadilan yang secara khusus menimpa perempuan.

Chimamanda Ngozi Adichie saat diwawancarai Gal Beckerman dalam acara The Atlantic Festival, di Washington D.C, 28 September 2023. Foto: Jason Crowley / BFA

Perkawinan, kehormatan, dan kewajiban untuk menjadi perempuan yang layak

Adichie menaruh perhatian besar pada kedudukan perkawinan dalam kehidupan perempuan. Ia tidak menolak perkawinan sebagai pilihan hidup. Ia mengakui bahwa perkawinan dapat menjadi sumber cinta, kegembiraan, dan dukungan timbal balik. Yang ia persoalkan ialah bagaimana masyarakat menjadikan perkawinan sebagai tujuan utama yang harus dipenuhi perempuan, seolah-olah kehidupan mereka baru memperoleh legitimasi ketika menjadi istri seseorang.

Ia menceritakan perempuan yang merasa perlu mengenakan cincin perkawinan ketika menghadiri konferensi agar memperoleh penghormatan dari rekan-rekannya. Ia juga mengisahkan perempuan yang bersedia menjual rumahnya karena khawatir kepemilikan tersebut akan membuat laki-laki yang mungkin menikahinya merasa terintimidasi. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa perempuan dapat didorong untuk mengurangi kemandiriannya sendiri demi memenuhi gambaran tentang perempuan yang pantas dipilih sebagai pasangan.

Di dalam tatanan semacam ini, keberhasilan perempuan selalu disertai pertanyaan mengenai dampaknya terhadap laki-laki. Apakah ia terlalu sukses? Apakah penghasilannya terlalu besar? Apakah ia terlalu mandiri? Apakah kecerdasannya akan membuat pasangannya merasa rendah diri? Sebaliknya, laki-laki tidak selalu diminta mengajukan pertanyaan serupa tentang keberhasilan perempuan yang akan menjadi pasangannya. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa perkawinan bukan semata-mata hubungan privat antara dua individu. Ia juga merupakan ruang tempat norma sosial mengenai gender, kepemilikan, kehormatan, dan otoritas direproduksi.

Adichie juga mengkritik bahasa yang digunakan masyarakat untuk membicarakan perkawinan. Hubungan suami-istri kerap dijelaskan melalui gagasan kepatuhan dan pengorbanan perempuan demi menjaga kedamaian rumah tangga. Kalimat bahwa seorang istri melakukan sesuatu demi ketenangan perkawinan dapat terdengar mulia, tetapi maknanya perlu diperiksa: siapa yang dituntut mengalah, siapa yang harus menyesuaikan diri, dan perilaku siapa yang sebenarnya perlu diubah? Jika ketenangan hanya dapat dipertahankan dengan meminta perempuan terus-menerus menekan keinginannya, maka ketenangan tersebut mungkin merupakan nama lain bagi ketimpangan.

Kritik Adichie menjadi penting karena ia memisahkan nilai perkawinan dari kewajiban sosial untuk menikah. Perempuan harus memiliki kebebasan untuk memilih menikah atau tidak menikah tanpa kehilangan martabat. Demikian pula, seorang perempuan tidak semestinya harus menyembunyikan keberhasilan agar dapat diterima sebagai pasangan. Cinta yang setara tidak meminta seseorang mengecilkan dirinya supaya orang lain dapat merasa besar.

Dari sudut pandang yang lebih kritis, persoalan ini juga mengundang pertanyaan tentang struktur material yang menopang pilihan perempuan. Kebebasan untuk tidak menikah atau meninggalkan perkawinan yang tidak adil akan lebih sulit dijalankan apabila perempuan tidak memiliki pendapatan, akses terhadap tempat tinggal, perlindungan sosial, atau dukungan pengasuhan. Adichie terutama menyoroti norma dan ekspektasi sosial; pembacaan feminis yang lebih luas perlu melengkapinya dengan analisis tentang kepemilikan aset, pembagian kerja domestik, ketergantungan ekonomi, dan kebijakan publik. Tanpa perubahan dalam kondisi material, kebebasan memilih dapat tetap menjadi hak yang lebih mudah dinikmati oleh perempuan yang memiliki sumber daya.

Kebudayaan bukan alasan untuk membekukan ketidakadilan

Salah satu keberatan yang dihadapi Adichie adalah anggapan bahwa feminisme tidak sesuai dengan kebudayaan Afrika. Dalam pandangan tersebut, perjuangan kesetaraan gender diposisikan sebagai gagasan Barat yang tidak memiliki akar dalam kehidupan masyarakat Afrika. Adichie menolak penyederhanaan itu. Ia menunjukkan bahwa identitas feminis tidak harus membuat seseorang meninggalkan kebudayaan, bahasa, sejarah, atau kehidupan sosialnya. Ia sendiri tumbuh dan hidup dalam konteks Nigeria, dan pengalaman itulah yang menjadi sumber utama pengamatannya.

Persoalan mendasarnya terletak pada kecenderungan memperlakukan kebudayaan sebagai sesuatu yang tunggal, tetap, dan tidak boleh dipertanyakan. Padahal, kebudayaan selalu mengandung berbagai praktik, nilai, pertentangan, dan kemungkinan perubahan. Apa yang disebut tradisi tidak selalu mewakili kepentingan semua anggota masyarakat secara setara. Sebuah kebiasaan dapat mengandung makna bagi sebagian orang sekaligus merugikan kelompok lain. Oleh karena itu, mempertanyakan suatu norma tidak otomatis berarti membenci kebudayaan tempat norma tersebut berkembang.

Adichie mengingatkan pembaca bahwa gagasan tentang gender dipelajari melalui proses sosialisasi. Anak-anak mengamati bagaimana orang dewasa membagi pekerjaan, memberikan pujian, menunjukkan penghormatan, dan mengambil keputusan. Mereka belajar bahwa perempuan harus mengutamakan orang lain, sementara laki-laki harus menunjukkan kekuatan. Mereka menyerap bahwa kepemimpinan lebih cocok bagi laki-laki dan bahwa perempuan perlu berhati-hati agar keberhasilannya tidak dianggap berlebihan. Pada akhirnya, ketimpangan yang dipelajari itu dapat tampak seolah-olah berasal dari kodrat manusia.

Pembedaan antara jenis kelamin biologis dan ekspektasi sosial mengenai gender menjadi dasar penting argumentasi Adichie. Ia tidak menyangkal bahwa laki-laki dan perempuan memiliki sejumlah perbedaan biologis. Namun, perbedaan tersebut tidak membuktikan bahwa laki-laki secara alamiah lebih pantas memimpin, bahwa perempuan harus mengurus rumah tangga, atau bahwa keberhasilan perempuan harus dibatasi. Kemampuan berpikir, kreativitas, pengetahuan, dan kepemimpinan tidak dapat ditentukan secara sederhana melalui jenis kelamin seseorang.

Di sini, argumen Adichie mengandung prinsip emansipatoris yang kuat: manusia harus dinilai berdasarkan kapasitas dan tindakannya, bukan berdasarkan peran yang telah ditentukan sebelumnya oleh masyarakat. Pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan kehidupan keluarga perlu dibuka sebagai ruang pilihan yang setara. Kebudayaan tidak harus dimusnahkan demi kesetaraan, tetapi kebudayaan juga tidak boleh ditempatkan di atas hak manusia untuk hidup dengan bermartabat.

Walaupun demikian, penting untuk membedakan kritik Adichie terhadap norma gender dari kesimpulan bahwa seluruh praktik budaya memiliki sifat yang sama atau bahwa semua masyarakat bergerak melalui jalur perubahan yang identik. Pengalaman Nigeria memberikan konteks yang khas. Untuk menerapkan argumentasinya pada masyarakat lain, kita perlu memeriksa sejarah, struktur keluarga, institusi adat, agama, kondisi ekonomi, dan pengalaman kelompok perempuan yang berbeda. Kesetaraan tidak membutuhkan penyeragaman kebudayaan; ia membutuhkan kemampuan untuk menilai kebudayaan secara kritis tanpa menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan.

Pendidikan ulang: membesarkan manusia, bukan sekadar anak perempuan dan anak laki-laki

Bagi Adichie, perubahan harus dimulai dari cara masyarakat membesarkan anak. Ia menegaskan bahwa anak perempuan perlu dididik secara berbeda, tetapi anak laki-laki juga harus dibesarkan secara berbeda. Seruan ini penting karena menunjukkan bahwa ketidaksetaraan gender tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta perempuan menjadi lebih berani. Jika masyarakat terus mengajarkan anak laki-laki bahwa mereka harus berkuasa dan anak perempuan bahwa mereka harus mengalah, keberanian individual perempuan akan selalu berhadapan dengan mekanisme sosial yang terus menghasilkan ketimpangan baru.

Anak perempuan perlu didorong untuk memiliki ambisi tanpa merasa bersalah, mengembangkan kecerdasan tanpa takut dianggap mengancam, serta mengambil keputusan tanpa harus mengukur setiap pilihan berdasarkan kemungkinan diterima laki-laki. Mereka tidak seharusnya diajarkan bahwa keberhasilan hanya dapat dirayakan selama tidak melampaui keberhasilan pasangan mereka. Pendidikan kesetaraan berarti mengakui bahwa perempuan memiliki tujuan hidup yang sah pada dirinya sendiri, bukan hanya sebagai calon istri, ibu, atau pendukung keberhasilan orang lain.

Pada saat yang sama, anak laki-laki harus dibebaskan dari kewajiban untuk selalu terlihat kuat, selalu membayar, selalu menguasai keadaan, dan selalu menyembunyikan perasaan. Mereka perlu belajar bahwa kelembutan bukan kehinaan, bahwa meminta bantuan bukan kegagalan, dan bahwa menghormati perempuan tidak mengurangi martabat mereka. Ketika anak laki-laki belajar berbagi tanggung jawab domestik dan menerima keberhasilan perempuan, hubungan antarmanusia dapat dibangun di atas kerja sama, bukan persaingan untuk mempertahankan dominasi.

Akan tetapi, pendidikan keluarga saja tidak memadai. Anak-anak tumbuh di dalam masyarakat yang lebih luas, dengan sekolah, media, pasar kerja, lembaga keagamaan, kebijakan negara, dan struktur ekonomi yang turut menentukan apa yang dianggap pantas bagi laki-laki dan perempuan. Anak perempuan dapat dididik agar percaya diri di rumah, tetapi kemudian menghadapi tempat kerja yang meremehkan pendapatnya. Anak laki-laki dapat diajarkan berbagi pekerjaan rumah, tetapi kemudian hidup dalam lingkungan yang menganggap pekerjaan perawatan sebagai kewajiban perempuan. Karena itu, perubahan pendidikan perlu disertai transformasi institusi dan praktik sosial yang menopang ketidaksetaraan.

Di titik ini, gagasan Adichie dapat dikembangkan menjadi agenda perubahan yang lebih luas: pendidikan yang peka gender, pembagian kerja perawatan yang adil, kesempatan kerja setara, perlindungan dari kekerasan, akses terhadap sumber daya ekonomi, dan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan. Perubahan kesadaran dan perubahan struktural tidak harus dipertentangkan. Keduanya saling memengaruhi. Institusi yang lebih setara dapat membantu membentuk kebiasaan baru, sementara kesadaran kritis masyarakat dapat mendorong perubahan kebijakan dan kelembagaan.

Membaca Adichie secara kritis: kekuatan dan batas pendekatannya

Kekuatan utama We Should All Be Feminists terletak pada kemampuannya menjadikan pengalaman konkret sebagai pintu masuk menuju persoalan struktural. Adichie tidak meminta pembaca menerima feminisme hanya karena suatu teori mengatakannya. Ia menunjukkan bagaimana ketidakadilan muncul dalam situasi yang dapat dikenali: seorang anak perempuan kehilangan posisi ketua kelas, seorang perempuan diabaikan pelayan restoran, seorang manajer dinilai agresif karena menjalankan standar yang sama dengan pendahulunya, atau seorang perempuan merasa harus menyembunyikan keberhasilannya demi menjaga harga diri pasangan. Pengalaman-pengalaman ini membuat persoalan gender tidak lagi tampak sebagai abstraksi akademis yang jauh dari kehidupan.

Gaya penulisannya juga penting secara politis. Humor, ironi, dan narasi personal digunakan untuk meruntuhkan stereotip tanpa menjadikan pembaca sekadar sasaran kecaman. Adichie mampu memperlihatkan absurditas norma gender melalui contoh yang tampak biasa, sehingga pembaca terdorong mengenali kontradiksi dalam keyakinannya sendiri. Ia tidak selalu memulai dengan definisi, melainkan dengan situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan. Dari situ, ia mengajak pembaca bertanya mengapa sesuatu yang selama ini dianggap wajar ternyata menghasilkan perlakuan yang tidak setara.

Karya ini juga efektif dalam memperluas subjek feminisme. Seruan bahwa kita semua seharusnya menjadi feminis menolak anggapan bahwa kesetaraan gender hanya merupakan urusan perempuan. Ketika perempuan kehilangan kesempatan, masyarakat kehilangan kemampuan dan potensi yang seharusnya dapat berkembang. Ketika laki-laki dipaksa membuktikan maskulinitas melalui dominasi, mereka pun kehilangan kesempatan membangun hubungan yang lebih terbuka dan setara. Feminisme, dalam pengertian Adichie, bukan program untuk mengganti satu kelompok dominan dengan kelompok dominan yang lain, melainkan upaya membangun dunia tempat manusia tidak dibatasi oleh hierarki gender.

Namun, justru karena bentuknya ringkas dan populer, buku ini memiliki batas analitis. Adichie lebih banyak menjelaskan bagaimana norma gender membentuk pengalaman dan perilaku daripada menguraikan secara sistematis bagaimana norma tersebut berhubungan dengan struktur kapitalisme, kepemilikan, kelas sosial, kerja reproduktif, dan kekuasaan negara. Ketidaksetaraan upah, misalnya, tidak hanya berakar pada prasangka bahwa laki-laki merupakan pencari nafkah utama, tetapi juga dapat berhubungan dengan segregasi pekerjaan, ketimpangan akses terhadap sumber daya, penilaian ekonomi terhadap pekerjaan yang didominasi perempuan, dan pembagian kerja perawatan yang tidak adil. Faktor-faktor ini membutuhkan analisis yang lebih jauh daripada perubahan sikap individual.

Demikian pula, pengalaman perempuan tidak seragam. Perempuan dengan kekayaan dan akses pendidikan yang luas dapat menghadapi hambatan berbeda dari perempuan miskin, pekerja informal, perempuan pedesaan, perempuan penyandang disabilitas, atau mereka yang mengalami diskriminasi berdasarkan identitas sosial lainnya. Buku ini tidak menyusun kerangka interseksional yang terperinci untuk membedah seluruh perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, gagasan Adichie akan menjadi lebih kuat jika dibaca bersama pendekatan feminis yang menganalisis hubungan antara gender, kelas, ras, kolonialisme, dan pembagian kerja sosial.

Kritik ini bukan alasan untuk mengecilkan arti buku tersebut. Sebaliknya, ia membantu menempatkan karya Adichie secara tepat: sebagai intervensi publik yang kuat untuk membuka kesadaran, menantang stereotip, dan memperluas legitimasi feminisme, bukan sebagai teori lengkap mengenai seluruh akar ketidaksetaraan gender. Buku ini menyediakan pintu masuk yang jernih; tugas analisis selanjutnya ialah menelusuri bagaimana pengalaman yang diceritakannya terhubung dengan struktur sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas.

Penutup: membayangkan dunia yang tidak meminta perempuan mengecilkan diri

Pada akhirnya, We Should All Be Feminists adalah ajakan untuk membayangkan kembali cara manusia hidup bersama. Dunia yang dibayangkan Adichie bukan dunia tempat perempuan harus menjadi laki-laki, atau laki-laki harus kehilangan identitasnya agar perempuan dapat memperoleh kebebasan. Ia menginginkan dunia yang lebih adil, tempat perempuan dan laki-laki dapat menjadi manusia yang lebih utuh, tidak terpenjara oleh tuntutan sosial yang mengatur bagaimana mereka harus berpikir, merasa, bekerja, mencintai, dan menentukan masa depan.

Seruan itu berangkat dari pengakuan bahwa ketidakadilan gender tidak selalu datang sebagai larangan yang keras. Ia sering bekerja melalui harapan-harapan kecil yang diwariskan tanpa pertanyaan: perempuan harus lebih sabar, laki-laki harus lebih kuat; perempuan harus menyenangkan, laki-laki harus memimpin; perempuan harus memikirkan perkawinan, laki-laki harus membuktikan keberhasilan. Harapan-harapan itu menjadi dinding yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan ke mana seseorang boleh bergerak. Membongkar dinding tersebut memerlukan lebih dari sekadar keberanian individual. Ia menuntut perubahan dalam cara masyarakat mendidik anak, mengatur pekerjaan, membagikan sumber daya, mengakui kepemimpinan, dan menentukan nilai manusia.

Di sinilah feminisme menemukan makna yang melampaui identitas atau label politik. Ia merupakan penolakan terhadap dunia yang menganggap ketimpangan sebagai kewajaran. Ia merupakan keberanian untuk mengatakan bahwa perempuan tidak harus mengurangi kecerdasannya agar laki-laki merasa pintar, tidak harus menyembunyikan pendapat agar dianggap baik, dan tidak harus mengorbankan kemandirian agar layak dicintai. Pada saat yang sama, laki-laki tidak perlu menyembunyikan kerentanan, menguasai orang lain, atau mengukur harga dirinya melalui kekayaan dan kekuasaan.

Namun, harapan tidak boleh berhenti pada perubahan cara berpikir. Dunia yang lebih adil juga membutuhkan institusi yang menjamin bahwa kebebasan bukan sekadar hak istimewa bagi mereka yang memiliki sumber daya. Kesetaraan harus hadir dalam pembagian kerja perawatan, kesempatan ekonomi, akses terhadap pendidikan, perlindungan dari kekerasan, dan ruang pengambilan keputusan. Jika tidak, perempuan dapat diberi kebebasan secara retoris sambil tetap menanggung beban sosial dan material yang membatasi pilihan mereka.

Adichie mengakhiri argumentasinya dengan keyakinan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membentuk dirinya kembali menjadi lebih baik. Keyakinan ini bukan optimisme yang naif, melainkan pengakuan bahwa norma sosial yang diciptakan manusia bukanlah sesuatu yang mustahil diubah oleh manusia. Apa yang dipelajari dapat dipelajari ulang; apa yang dinormalisasi dapat dipertanyakan; apa yang diwariskan dapat ditransformasikan. Masa depan tidak harus mengulang susunan ketidakadilan yang diwariskan masa lalu.

Maka, seruan We Should All Be Feminists pada akhirnya adalah seruan untuk menolak kehidupan yang dibangun di atas pengecilan manusia. Ia mengajak kita memeriksa kembali dunia yang kita wariskan kepada generasi berikutnya: apakah anak perempuan akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ambisinya merupakan ancaman, dan apakah anak laki-laki akan terus dibesarkan dalam ketakutan terhadap kelemahan? Ataukah keduanya dapat tumbuh sebagai manusia yang bebas mengembangkan kemampuan, menyatakan perasaan, menentukan pilihan, dan berbagi tanggung jawab tanpa dibatasi oleh hierarki gender?

Di hadapan pertanyaan itu, feminisme bukan lagi sekadar sebuah kata yang harus dibela dari prasangka. Ia menjadi ukuran bagi keberanian masyarakat untuk mengoreksi dirinya sendiri. Sebab sebuah dunia yang benar-benar adil bukanlah dunia yang mengajari perempuan cara mengecilkan diri agar diterima, melainkan dunia yang berhenti menuntut mereka mengecilkan diri sejak awal. Dan perubahan itu hanya mungkin terjadi ketika kesetaraan tidak lagi diperlakukan sebagai ancaman terhadap tatanan lama, melainkan sebagai syarat bagi kehidupan manusia yang lebih merdeka, lebih bermartabat, dan lebih utuh.[]

* Aktivis, peneliti kesetaraan gender, dan akademisi.