27 Maret 2026

Perempuan, Energi Surya, dan Jalan Baru Ketahanan Energi Pakistan

Source: Acted.org

0Shares

Di tengah krisis energi akibat invasi AS-Israel terhadap Iran, Pakistan menghadirkan cerita tentang perempuan desa, panel surya, dan bagaimana keduanya berkontribusi pada ketahanan energi sebuah negara.

Di desa Multan, Provinsi Punjab, wilayah yang menghadapi krisis energi cukup parah. Warga bisa mengalami pemadaman listrik hingga 20 jam sehari, di tengah suhu yang sangat panas. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup, tetapi juga memperburuk situasi sosial-ekonomi masyarakat, terutama perempuan yang partisipasinya dalam pekerjaan formal sangat rendah.

Melampaui tradisi: Perempuan Pakistan di garis depan promosi energi surya. Foto: Acted.org

Dalam konteks inilah, Agency for Technical Cooperation and Development (ACTED) bersama Asian Development Bank (ADB) menjalankan proyek pelatihan teknisi panel surya bagi perempuan pada 2017–2018. Program ini melibatkan 54 perempuan, dengan lebih dari 30% lulusannya berhasil bekerja di sektor energi surya.

Program ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia juga menjadi upaya memecah batasan sosial.

Sektor energi di Pakistan selama ini dianggap sebagai ranah laki-laki. Ketika para perempuan menyampaikan niat mereka untuk mengikuti pelatihan, respons yang muncul mencerminkan norma sosial yang kuat:

“…tetapi bagaimana perempuan bisa naik ke atap? Pergi keluar sendirian untuk pelatihan dan bekerja?”

Pelatihan teknisi panel surya. Foto: Acted.org

Namun, para perempuan ini tetap melangkah. Mereka bahkan harus menempuh jarak yang cukup jauh dari desa—di mana perempuan sering kali tidak diizinkan keluar rumah—untuk mengikuti pelatihan. Seiring waktu, masyarakat mulai menerima perubahan ini. Dukungan meningkat, dan pelatihan berkembang tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga kewirausahaan dan kepemimpinan.

Dampaknya terasa nyata. Perempuan tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi keluarga dan komunitas melalui peningkatan akses energi. Mereka menjadi bagian dari solusi atas krisis energi yang selama ini membelenggu wilayah mereka.

Foto: Acted.org

Pada saat yang sama, perubahan besar juga terjadi di tingkat nasional.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, harga gas alam cair melonjak tajam. Pakistan, yang sangat bergantung pada impor energi, mengalami gelombang pemadaman listrik di seluruh negeri. Krisis ini diperparah oleh gelombang panas ekstrem dan kelangkaan pasokan gas.

Namun, masyarakat mulai menemukan jalan keluarnya, yaitu energi surya.

Penurunan harga panel surya, ditambah insentif pemerintah untuk menyalurkan kelebihan listrik ke jaringan, mendorong adopsi besar-besaran energi surya. Bagi banyak orang, ini bukan hanya pilihan teknis, tetapi keputusan ekonomi yang rasional.

“Orang-orang yang mampu melakukannya pada saat itu menyadari bahwa jauh lebih murah, hemat biaya, dan lebih baik bagi mereka dalam jangka panjang untuk melakukan investasi satu kali pada panel surya daripada terus membayar tagihan listrik yang tinggi dari jaringan listrik yang juga tidak dapat diandalkan,” kata Nabiya Imran dari Renewables First.

Warga menyelamatkan barang-barang termasuk panel surya dari rumah mereka yang terendam banjir di Jaffarabad, Pakistan, pada September 2022. Foto: Fareed Khan/AP

Lonjakan ini sangat signifikan. Pangsa listrik dari tenaga surya meningkat lima kali lipat antara Desember 2021 hingga Desember 2025. Pada 2024, energi surya diperkirakan telah menyumbang sekitar seperlima pasokan listrik jaringan nasional.

Lebih dari sekadar transisi energi, perkembangan ini menjadi benteng terhadap krisis global.

Ketika konflik di Timur Tengah mengganggu jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz—salah satu jalur paling vital di dunia—Pakistan tidak sepenuhnya terpuruk. Ekspansi energi surya membantu meredam dampak terburuk.

“Meskipun kita tentu melihat beberapa dampaknya, perluasan energi surya terdistribusi di negara ini telah memberikan efek penahan terhadap dampak krisis energi yang bisa jauh lebih buruk jika energi surya tidak ada di negara ini,” jelas Imran.

Energi surya juga mengurangi ketergantungan pada gas, terutama pada siang hari. Bahkan sebelum krisis memuncak, Pakistan sudah mulai mengalihkan sebagian impor LNG karena menurunnya permintaan.

Secara ekonomi, dampaknya juga besar. Hingga Februari 2026, lonjakan energi surya diperkirakan telah membantu Pakistan menghindari impor minyak dan gas senilai sekitar 12 miliar dolar AS.

Bagi banyak analis, ini adalah bukti nyata peran energi terbarukan dalam memperkuat ketahanan energi.

“Pembangkit listrik tenaga surya terdistribusi telah menjadi berkah bagi Pakistan, setidaknya mencegah kekurangan pasokan langsung di sektor gas. Pakistan menjadi studi kasus yang bagus tentang bagaimana energi terbarukan dapat memberikan perlindungan terhadap ketergantungan pada bahan bakar fosil,” kata Haneea Isaad dari IEEFA.

Namun tantangan tetap ada. Pakistan masih sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

“Pakistan sangat bergantung pada Timur Tengah untuk impor minyak dan gasnya, dengan lebih dari 90% sumber daya LNG dan minyaknya melewati Selat Hormuz,” ujar Isaad.

Ketergantungan ini membuat ekonomi rentan. Pada 2024 saja, lebih dari 10% PDB Pakistan digunakan untuk impor bahan bakar fosil. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada inflasi, sektor transportasi, hingga produksi pupuk.

Dalam situasi ini, transisi energi tidak lagi sekadar isu lingkungan.

“Jika ada, krisis ini mungkin akan memotivasi lebih banyak orang untuk mengadopsi panel surya serta penyimpanan baterai di masa depan. Bagi Pakistan, dan saya pikir bagi banyak negara lain, transisi energi menuju energi terbarukan bukan lagi hanya tentang iklim tetapi juga tentang keamanan energi,” tegas Imran.

Pernyataan ini menandai perubahan cara pandang yang mendasar: energi terbarukan kini menjadi strategi bertahan hidup.

Para pekerja menurunkan panel surya dari sebuah truk di pasar Rawalpindi pada April 2024. Foto: Farooq Naeem/AFP/Getty Images

Pandangan serupa juga disampaikan oleh para analis regional.

“Banyak dari masalah ini dapat dihindari jika negara-negara Asia beralih lebih cepat ke energi terbarukan,” kata Ramnath Iyer dari IEEFA.

Ia menambahkan bahwa secara ekonomi, energi surya kini sudah kompetitif dengan gas.

“Ekonomi Asia benar-benar memiliki insentif untuk mempercepat peralihan ke energi terbarukan. Ini sebenarnya menguntungkan semua pihak baik dari segi ketersediaan maupun dari segi biaya, termasuk penyimpanan.”

Dinita Setyawati dari Ember bahkan menyebut kawasan Asia sedang berada di titik krusial:

“Kita telah mengalami beberapa guncangan pada minyak dan gas di masa lalu… tetapi tampaknya pelajaran yang dipetik belum diterapkan secara serius. Energi terbarukan, jaringan listrik, tetapi juga penyimpanan energi, dapat menjadi tiga solusi utama untuk dilema energi bagi seluruh wilayah Asia.”

Dirangkum dari ACTED dan The Guardian

0Shares