20 Mei 2026

Kemah Setara di Ternate Menjadi Ruang Aman Anak Muda Belajar Feminisme

0Shares

Suasana berbeda terasa di Ternate Selatan pada 14–17 Mei 2026. Selama empat hari, puluhan anak muda dan kelompok perempuan dari berbagai wilayah di Maluku Utara berkumpul dalam sebuah forum bernama Kemah Setara, sebuah ruang belajar kolektif yang membahas feminisme, keadilan gender, hingga dampak eksploitasi tambang terhadap kehidupan perempuan.

Kegiatan yang diselenggarakan Kalyanamitra, berkolaborasi dengan Suluh Perempuan itu mengusung tema “Gerak Bersama Dalam Ruang Pemikiran untuk Kesetaraan”. Tidak sekadar diskusi formal, forum ini juga dirancang sebagai ruang aman dengan pendekatan yang santai, kreatif, dan dekat dengan keseharian anak muda.

Dalam rilis yang redaksi terima disebutkan, Kemah Setara hadir untuk memperkuat pemahaman tentang feminisme dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, baik di ruang privat maupun publik. Peserta diajak membangun solidaritas, kepemimpinan, hingga menyusun rencana aksi feminis berbasis komunitas.

Latar belakang kegiatan ini tidak lepas dari situasi di Maluku Utara yang masih menghadapi berbagai persoalan ketimpangan gender. Praktik perkawinan anak, sunat perempuan, diskriminasi terhadap pekerja seks, kekerasan seksual di tempat kerja dan kampus, hingga kuatnya budaya patriarki disebut masih menjadi tantangan besar di wilayah tersebut. Di sisi lain, eksploitasi tambang nikel di sejumlah pulau kecil juga berdampak langsung pada perempuan, mulai dari hilangnya sumber penghidupan hingga pencemaran lingkungan.

Ketua DPK Suluh Perempuan Ternate, Rifka Halim, mengatakan kegiatan berjalan dengan lancar meski sempat terjadi momen emosional ketika salah satu sesi membahas ekofeminisme.

“Untuk kemarin itu lancar-lancar saja agendanya. Cuma di saat materi kedua itu pada Eco Feminisme, kita sempat buat permainan. Di situ ada beberapa peserta yang ke-trigger,” kata Rifka.

Rifka Halim, Ketua DPK Suluh Perempuan Ternate. Foto: Kalyanamitra

Menurutnya, panitia langsung menghentikan sesi dan memilih memberi ruang pemulihan bagi peserta yang terdampak emosional.

“Makanya kami break, siangnya nggak ada materi. Terus kami bawa peserta yang sebagian itu untuk refreshing ke pantai. Karena menurut kami juga belum membutuhkan psikolog,” ujarnya.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari Ternate. Ada peserta dari Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan, termasuk kalangan akademisi.

“Pesertanya kebanyakan dari Ternate, dari luar Ternate ada beberapa orang juga, termasuk ada juga dosen,” kata Rifka.

Ia menyebut dosen tersebut berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah.

Proses perekrutan peserta dilakukan secara terbuka melalui media sosial. Panitia menyediakan formulir pendaftaran dengan sejumlah persyaratan, terutama terkait usia dan ketertarikan terhadap isu kesetaraan gender.

“Kami hanya membuat link pendaftaran, ada persyaratannya, ada persyaratan umur, dan generasi muda ya, konsolidasinya kan generasi muda. Jadi mereka yang daftar sendiri, nanti kita seleksi persyaratannya,” jelasnya.

Dalam flyer kegiatan, peserta memang diprioritaskan bagi kelompok muda berusia 18–30 tahun yang aktif di organisasi, komunitas sosial, media, kelompok disabilitas, maupun komunitas seni budaya. Peserta juga diutamakan berasal dari kelompok rentan atau marjinal, termasuk perempuan muda dan penyintas.

Rifka mengatakan antusiasme peserta cukup tinggi sejak awal kegiatan. Salah satu hal yang membuat suasana berbeda adalah penggunaan permainan atau games dalam setiap sesi diskusi.

“Terus kami juga kemarin ada buat games, biasanya di Maluku Utara itu di setiap kegiatan tidak ada games-nya. Jadi mereka tertariknya dari sebelumnya. Karena setiap ada materi, kami awalinya dengan games,” katanya.

Kemah Setara sendiri sebenarnya merupakan kelanjutan dari kegiatan “Kemah Feminis” yang pernah digelar bertahun-tahun lalu. Namun kali ini nama kegiatan diubah agar terasa lebih dekat dan inklusif.

“Kemarin namanya ‘Kemah Feminis’, tapi kami rubah menjadi ‘Kemah Setara’. ‘Kemah Feminis’ itu sudah ada dari 2011 sepertinya, yang diselenggarakan dulu, tapi sekarang baru diselenggarakan kembali,” ujar Rifka.

Selama kegiatan, seluruh peserta tinggal bersama di lokasi penginapan agar proses belajar dan diskusi berjalan lebih intensif.

“Iya peserta semua menginap. Kalau pulang malah repot dan biasanya enggak ada balik lagi atau terlambat nanti kalau ikut acara,” katanya sambil tertawa.

Di hari terakhir, panitia juga menggelar nonton bareng film ‘Pesta Babi’. Film itu dipilih setelah panitia mempertimbangkan kondisi psikologis peserta.

“Awalnya mau diputar film lain, tapi filmnya itu kemarin sudah diputar di Lampung, lumayan banyak peserta yang ke-trigger. Maka kami dari DPK Ternate tentukan menggantinya dengan film ‘Pesta Babi’, karena menurut kami nggak ada adegan-adegan yang terlalu atau akan memicu trigger bagi peserta,” jelas Rifka.

Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan malam budaya. Di sesi ini peserta menampilkan karya seni mulai dari puisi, hip hop, hingga monolog yang banyak berbicara tentang pengalaman perempuan dan trauma personal.

“Pokoknya dari puisi, dari hip hop, monolog semua ada. Jadi kita tuangkan tulisan kita dalam bentuk puisi sih,” katanya.

Namun suasana emosional kembali muncul ketika salah satu peserta membacakan puisi tentang trauma yang pernah dialaminya.

“Sampai ada yang ke-trigger juga di malam itu dari puisi yang ditampilkan salah satu peserta. Ada puisi bercerita tentang trauma peserta,” ujar Rifka.

Meski demikian, menurutnya situasi tetap dapat dikendalikan dan peserta saling mendukung satu sama lain.

Bagi Rifka, salah satu hal yang paling terasa dari kegiatan ini adalah munculnya energi baru di kalangan anak muda Maluku Utara yang selama ini aktif melakukan advokasi tetapi belum memiliki cukup ruang belajar bersama.

“Kata mereka puas banget soalnya besertanya aktif. Kata mereka kemarin, di kota lain tuh enggak terlalu seperti kita kan. Soalnya di sini tuh pesertanya hampir semua sudah melakukan advokasi, pengawalan kasus cuma teknisnya yang belum mereka pahami. Jadi mereka aktif di ruangan,” katanya menirukan kesan dari tim Kalyanamitra.

Menurut Rifka, kondisi sosial di Maluku Utara membuat anak muda di daerah itu sangat dekat dengan isu ketidakadilan, terutama yang berkaitan dengan perempuan dan lingkungan.

“Ih kenapa kalian Maluku Utara itu berkoar-koar sekali, karena kami di sini tuh paling terdampak secara signifikan. Perusahaan juga banyak, dampak dari perusahaan terhadap perempuan itu banyak sekali kalau dibicarakan itu,” katanya.

Kemah Setara tidak berhenti sebagai kegiatan empat hari semata. Setelah kegiatan selesai, peserta diminta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nantinya akan terus didampingi oleh Suluh Perempuan dan Kalyanamitra.

“Kalau kami dari Suluh Perempuan setelah ini akan ada RTL. Jadi kami dari Suluh itu mengawali kawan-kawan yang sudah dibagi kelompoknya. Kami mengawali kerja-kerja mereka, apa yang mereka butuhkan,” ujar Rifka.

Ia juga menyebut akan ada agenda lanjutan berupa festival yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah, termasuk Lampung dan Kalimantan.

“Puncaknya nanti akan ada festival. Itu gabungan dari Lampung sama Kalimantan. Tapi belum ditentukan kapan dan lokasinya di mana,” pungkasnya.[]

Sukir Anggraeni

0Shares