Oleh: Yuanita Maya
Ibu muda itu gundah. Kelainan kelenjar susu membuatnya gagal memproduksi ASI, sekalipun sudah menjalani serangkaian terapi. Kegundahan mencapai puncaknya ketika pada November 1993, anaknya lahir di usia kandungan 8 bulan. Tak seperti prematur 7 bulan, janin 8 bulan dalam hitungan Jawa dianggap “kembali muda” dan rentan kematian. Jika lahir pun bayi umumnya tumbuh lemah, disertai kecerdasan rendah.
Hal lainnya, bayi berpeluang mengalami stunting, yakni kondisi balita gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dan atau infeksi berulang. Pada awal dekade 1990-an, angka prevalensi stunting (balita pendek) di Indonesia mencapai kisaran 40% hingga 50% lebih. Angka setinggi ini sejalan dengan rata-rata kawasan Asia yang mencapai 49% kala itu.
Lolos Dari Ancaman Stunting
Beruntung dokter kandungan ibu muda itu, yakni alm. Prof. Dr. dr. Sutoto, Sp.OG, paham benar pentingnya asupan nutrisi ibu hamil bagi janin. Ia memberikan patokan diet ibu hamil yang meliputi bahan pangan lokal. Cakupannya lengkap: susu hewani dan nabati, protein hewani dan nabati, kacang-kacangan, sayur-mayur, beragam karbohidrat, aneka bumbu dan wedang rempah serta buah-buahan, yang jenisnya dapat diselang-seling. Namun satu tak boleh absen: tempe. Bahan pangan lokal yang kerap dipandang enteng karena murah ini, tak boleh alpa disajikan barang sehari.
Kesadaran akan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yakni sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun, diteruskan oleh dokter anak si bayi. Untuk bubur saringnya, sang dokter yakni alm. Prof. Dr. dr. Ignatius Sudigbia Partawiharja, Sp.A(K), pakar gastroenterologi, memberikan diet harian serupa dengan daftar yang diberikan oleh dokter kandungan sang ibu. Semua bahan pangan boleh diselang-seling, tapi dr. Digbia pula menandaskan: tempe harus ada setiap hari.
Tak heran, sebab dr. Digbia meraih gelar doktor dengan disertasi tempe sebagai pencegah diare, yang menyebabkan kematian pada bayi dan balita. Proses fermentasi rhizopus menghasilkan zat anti bakteri alami dalam tempe, yang efektif melawan kuman penyebab diare serta menjaga kesehatan usus. Sebagai gambaran, pada medio 1990-an, AKB (Angka Kematian Balita) di Indonesia berkisar 84 kasus per 1000 kelahiran. Salah satu kontributor terbesarnya adalah diare, yang menempati posisi kedua setelah infeksi pernapasan. United Children’s Fund (UNICEF) mencatat, ratusan ribu balita mengalami diare berat tiap tahunnya di Indonesia hingga akhir 1990-an.
Lewat diet penuh nutrisi seimbang sejak janin dengan tempe sebagai asupan harian, bayi prematur ini tumbuh sehat. Karena pencernaannya kuat, menginjak usia 7 bulan ia telah melahap makanan padat. Usia 0-5 tahun, ia hanya terkena diare 2 kali. Kecerdasannya di atas rata-rata sesuai prakiraan dr. Digbia, sebab usus sehat akan membuat optimalisasi absorbsi nutrisi pada otak menjadi sempurna. Saat dewasa, sakitnya yang terparah hanyalah flu yang mendera rata-rata sekali dalam setahun. Bayi kurang bulan yang tak merasakan ASI itu, tumbuh dewasa dengan tulang belulang kokoh dan tinggi 179 cm.
Ketika adik perempuannya lahir tahun 2008, ibunya menerapkan semua pengetahuan gizi yang ia ketahui dari para dokter itu. Tempe menjadi jawara di piring makan sang ibu saat mengandung. Tempe pula menempati tahta tertinggi mangkuk bubur saring si bayi. Alhasil, bayi perempuan yang juga tak merasakan ASI ini, mencapai tinggi 171 cm di usia 18 tahun, punya kecerdasan tinggi di bidang seni, di usia 0-5 tahun hanya didera diare 3 kali, dan diserang flu rata-rata setahun sekali.
Lalu mengapa saya mengerti benar sejarah dan perkembangan dua bayi tersebut? Tak bukan karena sayalah ibu mereka. Ya, sayalah si ibu muda, yang larut dalam kesedihan karena tak mampu menyediakan ASI bagi anaknya. Ibu yang sempat merasa tak berdaya, namun kemudian bangkit oleh dongkrakan nutrisi yang diperoleh dari jajaran pangan lokal Indonesia, dengan tempe sebagai pemegang tongkat komandonya.
Mengapa Tempe?
“Kita ini bangsa besar! Kita bukan bangsa tempe!” Demikian gelegar Bung Karno pada pidato HUT Proklamasi 1963. Tentu Bung Besar tak bermaksud mencemooh tempe an sich. Frasa ini lebih merujuk pada kemasan tempe yang lunak sebagai gambaran mental lembek, suka mengemis bantuan, dan mudah menyerah.
Namun melawan tampilan tempe yang lunak lembek seakan tak berdaya, kelak Ong Hok Ham, sejarawan Indonesia, melontarkan pernyataan,”Tempe is the most extraordinary gift Indonesia has given to the world.” Dalam artikelnya yang fenomenal “Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia” (Kompas, 1 January 2000), Ong Hok Ham mengatakan bahwa tempe bukan hanya pangan lokal semata, namun kontribusi budaya dan biologi yang brilian dari bangsa Jawa untuk dunia. Tempe adalah penyelamat bangsa dalam masa kelaparan hebat, pasca periode tanam paksa 1830.
Ini terutama dikarenakan proses fermentasi jamur rhizopus pada pengolahan tempe membuat nutrisi tempe mudah dicerna. Proses ini juga mengurangi zat anti nutrisi dibandingkan kedelai biasa. Kandungan protein tempe yang tinggi membantu memperbaiki sel tubuh dan membentuk otot. Tempe juga kaya kandungan isoflavon yang masuk dalam flavonoid dan berfungsi sebagai antioksidan alami. Ini menjadikan tempe efektif dalam menangkal radikal bebas dan anti kanker, sekaligus penurun kolesterol jahat (LDL) serta mampu mencegah penyumbatan pembuluh darah. Kadar glikemik tempe yang rendah membuatnya mampu menjaga gula darah, serta mencegah penyakit jantung koroner.
Superioritas yang Tak Lekang Oleh Waktu
Masa berlalu, tapi tempe tak pernah kehilangan sinar dan kekuatannya. Tempe terus menjadi bahan kajian. Dokter gizi klinis dari RSCM, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK, dalam kutipan artikel “Tempe Cegah Stunting Berkat Kandungan Protein Tinggi” (wantimpres.go.id 28 Februari 2023), merinci superioritas tempe sebagai local super food.
Tempe bahkan lebih unggul dibandingkan daging sapi. Tempe 100 gram mengandung 20,8 gram protein, 155,1 mg kalsium, vitamin B12 1,7 ug, dan zat besi 4 mg. Bandingkan dengan 100 gram daging yang hanya mengandung 17,5 gram protein, kalsium 10-18 mg, vitamin B12 1,4 ug, dan kandungan besi 2,8 mg. Mengingat zat besi adalah komponen krusial pencegah anemia pada ibu hamil yang menyebabkan bayi terlahir stunting, maka tempe tak mungkin lagi ditampik pada level ini.
Di sisi lain, tempe seberat 100 gram hanya mengandung lemak jenuh sekitar 2,2 gram, lemak total 8,8-11 gram, natrium 9-10 mg, dan 0 kolesterol. Sedangkan 100 gram daging sapi mengandung lemak jenuh 6-7,7 gram, 14-19,9 gram, natrium sekitar 834 miligram, dan kolesterol 75-90 miligram.
Tempe versus Defisit Protein
Menurut catatan World Health Organization (WHO), di tahun 2026 ada sekitar 150,2 juta balita stunting, yang setara 23,2 persen balita seluruh dunia. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI sesuai hasil Survei Status Gizi Indonesia (SGGI) terakhir, prevalensi stunting nasional adalah 19,8 persen atau setara 4,4 hingga 4,8 juta balita. Pemerintah RI menargetkan penurunan tingkat stunting secara bertahap hingga 14,2% pada 2029. Salah satu tiang utama pencegahan stunting adalah protein, yang berfungsi memperbaiki dan membentuk jaringan tubuh untuk tumbuh kembang anak. Cukupnya asupan protein membantu menjaga berat dan tinggi badan badan anak normal sesuai usianya. Tempe hadir di sini dengan kandungan proteinnya yang tinggi.
Celakanya, laporan Organisasi Pangan dan Pertanian di bawah PBB, FAO (Food and Agriculture Organization), 2025 menyebutkan, 43,5% penduduk Indonesia tak mampu membeli pangan sehat yang mencakup protein hewani seperti daging sapi dan lainnya. Harga pangan sehat tiap orang rata-rata 40 ribu rupiah/hari atau senilai 1,2 juta rupiah/bulan. Ini setara hampir 35% total penghasilan UMP Nasional 3,5 juta rupiah. Inilah jawaban pertanyaan mengapa bayi pada keluarga desil rendah kerap diberi makan bubur putih tanpa lauk, bahkan acap dibubuhi penyedap rasa agar lahap makannya.
Stabilitas akses pangan sehat hanya bisa dijangkau masyarakat di atas desil 5. Kelompok 5 hingga 4 desil terbawah yang mencakup 50% dari total populasi Indonesia, berada pada posisi rawan gizi. Ini merupakan alasan mengapa 40% rakyat Indonesia—yang 14,4% di antaranya adalah balita baik di kota maupun desa—mengalami defisit protein, salah satu penyebab utama anak rawan stunting.
Tempe Melawan Hambatan Akses Pangan Sehat
Berita baiknya: tempe sanggup mengisi lubang defisit dan hambatan akses pangan tersebut karena harganya yang sangat terjangkau. Bahkan fluktuasi harga kedelai impor yang berpengaruh terhadap harga jual tempe, sejujurnya bukan hal yang terlalu mengkhawatirkan. Indonesia yang merupakan surga vegetasi ini punya banyak varietas lokal unggul seperti kedelai Anjasmoro, Grobogan, dan Argomulyo. Indonesia juga punya alternatif bahan tempe non kedelai seperti kacang benguk, kacang tolo, kacang hijau, kacang merah, kacang gude, bahkan petai cina, dan banyak lagi.
Kreativitas orang Indonesia yang tak terbatas menjadikan olahan tempe begitu beragam saat ini. Katsu tempe, burger patty tempe, spaghetti bolognese tempe, sate tempe, nugget tempe, sup miso tempe, sando alias sandwich Jepang dengan tempe sebagai bahan utama; sebutkan apa saja, tempe sanggup “menjalaninya”. Anak tak doyan lauk tempe? Jangan sedih. Ada aneka snack dan finger food, seperti chips, sempol, french fries, donat, kue lumpur, kroket, bahkan puding, dan banyak lagi, dengan bahan dasar tempe.
Dus, apapun kondisinya, tempe bisa menambal kebutuhan protein balita dan anak-anak sebanyak 15 hingga 50 gram/hari. Tak ada lagi defisit protein bahkan saat berada pada derajat finansial rendah, asal setia pada tempe yang digdaya namun murah. Di titik ini, kita bisa memutus salah satu mata rantai utama penyebab stunting di bumi pertiwi. Segala kebaikan yang ada pada tempe selain protein akan membawa anak-anak Indonesia tumbuh optimal serta mampu menyambut harapan, pula tantangan di masa depan. Dan pada akhirnya, seluruh rakyat Indonesia bisa menyerukan, ”Kita sehat dan kuat, karena kita ini bangsa tempe!”
***
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI

Terkait
Aksi ‘Merebut Kemerdekaan’, Mahasiswa Usung Delapan Tuntutan
Patrisia Lama Bahi: Kemerdekaan Perempuan Dimulai dari Kesetaraan Akses atas Hak
Merdeka di Ruang Digital Berarti Aman dan Terlindungi